hijabrussiastudentFoto : World Bulletin

Dagestan – Kabar menggembirakan datang dari Republik  Dagestan Kaukasus Utara Rusia bahwa siswi muslimah   dibolehkan memakai jilbab disekolah.

Dikutip dari europenews.dk   4 September 2013. Juru bicara kementerian pendidikan Dagestan mengatakan kepada kantor berita Ria Novosti Senin ,bahwa  Pemerintah  Republik Dagestan Kaukasus Utara Rusia  telah membolehkan para sisswi siswi muslimah memakai jilbab di sekolah.

“Atas instruksi dari pemimpin  Dagestan Ramazan Abdulatipov, desainer Dagestan telah menyiapkan pakaian seragam sekolah,” kata juru bicara kementerian pendidikan Dagestan.

“Seragam itu sesuai dengan persyaratan seragam sekolah nasional. Satu-satunya unsur pakaian rakyat [Dagestan] adalah jilbab tipis. ”

Seragam sekolah yang baru, termasuk pilihan jilbab, telah disetujui oleh pemerintah awal bulan ini.

Isu jilbab seperti ini telah memicu debat publik di beberapa wilayah Rusia. September tahun lalu,  wilayah Stavropol selatan melarang jilbab untuk anak sekolah. Kemudian pada April 2013, orang tua siswa mengajukan tuntutan larangan jilbab di Mahkamah Agung setelah pengadilan daerah menolak gugatan mereka pada bulan Maret, meski kemudian Mahkamah Agung menguatkan larangan pada bulan Juli.

Pada bulan April, Krasnoyarsk State Medical University di Siberia harus membatalkan aturan melarang siswa mengenakan item pakaian yang mencerminkan keyakinan agama mereka, termasuk jilbab, setelah jaksa memutuskan bahwa larangan tersebut melanggar undang-undang tentang pendidikan.

Masalah ini menjadi sorotan setelah media melaporkan di bulan Maret bahwa seorang mahasiswi dari Dagestan telah dikeluarkan dari universitas karena mengenakan jilbab.

Bergabung dalam perdebatan, Presiden Rusia Vladimir Putin mendukung larangan jilbab di sekolah-sekolah, menggambarkannya sebagai pakaian “tradisi asing”.

Federasi Rusia adalah rumah bagi sekitar 23 juta Muslim yang bermukim di Kaukasus utara dan selatan, Republik Chechnya, Ingushetia dan Dagestan. Islam adalah agama terbesar kedua Rusia yang mewakili sekitar 15 persen dari 145 juta penduduknya yang mayoritasnya adalah Kristen Ortodoks.