ppsk2Ilustrasi

Bandung –  Kabar menyedihkan dari kota Bandung Jawa Barat, 28 persen  Pekerja Sex Komersial  ternyata masih pelajar aktif (masih sekolah), mereka rata-rata  berada di bangku  SMP/SMA.

Hal ini diungkapkan oleh Wakil Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jawa Barat Yeni Huriyani usai acara seminar nasional psikologi di Aula Utama Unisba, Jalan Tamansari, Rabu (4/9) kemarin.

Pihak sekolah bahkan  orang tua mereka  mungkin tidak tahu aktivitas anak mereka di luar. Ironinya, perilaku mereka dipicu antara lain oleh gaya hidup. ungkap Yeni

“Ada pergeseran dalam lingkungan. Gaya hidup jadi berubah. Hanya karena ingin bisa nongkrong di kafe elite, jajan di kafe elite, mereka seperti itu (jadi pekerja seks). Bahkan ada yang ingin handphone bagus, lalu janjian di luar sekolah,” katanya. Seperti dilansir Tribun Jabar, Kamis (5/9).

Kelompok tersebut sudah memiliki jaringan, selain ada orang dewasa yang mengatur, aktivitas mereka juga dikendalikan oleh teman mereka sendiri lewat ponsel,  ungkap Yeni.

Menurut Yeni, saat ini teknologi menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi membuat orang cerdas dan sadar terhadap teknologi tinggi, tetapi di sisi lain menjerumuskan.

“Jadi, orangtua juga harus tahu gadget anaknya itu apakah dimanfaatkan secara positif atau tidak,” kata dia. Yeni juga mengatakan, saat ini anak-anak, khususnya remaja, berada dalam situasi kritis.

Dari temuan lembaganya, diketahui ada yang masih berusia 13 tahun yang berarti mereka masih bisa disebut anak-anak karena masih duduk di bangku SMP. Kebanyakan mereka berusia di bawah 18 tahun. Pada masa inilah sedang terjadi transisi atau peralihan dari anak-anak ke remaja.

“Orangtua sekarang masih belum terbuka tentang pendidikan seksual. Masih menganggap tabu. Akhirnya anak mencari sendiri, coba-coba lalu terjerumus,” katanya.

Namun yang menjadi perhatian, saat ini ada pergeseran bahwa ternyata perilaku negatif para pelajar ini tanpa paksaan. Ada kasus yang ditangani karena berawal dari korban perkosaan. Dan karena terjerumus dan tidak ada yang memerhatikan serta mengarahkan, akhirnya perilaku mereka menjadi “sukarela”.

“Dan penggunanya adalah orang dewasa yang memiliki uang,” kata Yeni.

P2TP2A tidak melihat adanya status sosial dalam masalah ini karena adanya pergeseran gaya hidup tersebut.

Yeni mencontohkan, siswa SMK yang sedang berada di salon akhirnya menjadi korban perdagangan manusia. “Kelas sosial sekarang sudah blur. Contoh tadi, mereka ke salon, berarti mereka bukanlah kalangan bawah,” kata Yeni.

Dari data P2TP2A Jawa Barat, ditemukan juga anak-anak jalanan di bawah usia 13 tahun sudah mengalami seks bebas.

Di Kota Bandung tahun 80-an persoalan seks bebas melanda mahasiswa. Namun sekarang terus mengalami pergeseran. Ironis sekali.