pembongkaran-permukiman-waduk-pluitSatpol PP mengeluarkan perabotan rumah warga saat pembongkaran permukiman

di sisi barat Waduk Pluit Jakarta, . | KOMPAS

                                                                                          =================================================================================

Jakarta – Intan, 50 tahun, berjalan lambat memasuki gang sempit di RT 19/17 Muara Baru, Kelurahan Penjaringan, Waduk Pluit, Jakarta Utara, Rabu (28/8) siang lalu, seusai membeli roti. Rumah yang hampir 10 tahun dihuninya tiada lagi, sudah rata dengan tanah pascapembongkaran untuk program normalisasi Waduk Pluit, Kamis pekan lalu.

Kini, ia dan suaminya tinggal di rumah kontrakan yang tidak jauh dari lokasi penggusuran. Raut wajah perempuan berperawakan gemuk ini terlihat semringah ketika berbincang mengenai warga yang melaporkan Kesatuan Polisi Pamong Praja serta Jokowi–Ahok ke Polda Metro karena menganggap petugas Satpol PP membongkar rumah warga secara paksa dan dengan menyeret, menghajar, dan menginjak–injak warga.

Baginya, laporan tersebut bukanlah hal yang baru didengarnya sebab ia sudah mengetahui sejak awal. “Iya saya tahu (Jokowi dilaporkan), saya ikut ke Komnas HAM setelah pembongkaran, tapi gak ikut masuk, cuma di luar. Alhamudillah (dilaporkan) biar kasihan Pak Jokowi sama kita,” kata perempuan yang terlihat memakai kalung emas itu saat ditemui detikcom Rabu lalu.

Menurutnya, pembongkaran yang tanpa surat pemberitahuan dan memakai cara yang sangat kasar dengan menyeret dan melempari warga membuat perlakuan tersebut layak dilaporkan kepada pihak yang berwajib.

“Bongkar sih bongkar tapi caranya bagaimana. Kejam, lebih sadis dari (penggusuran) pedagang kaki lima. Katanya dua atau tiga tahun lagi, tapi sekarang udah dibongkar,” kata dia seraya mengaku menyesal memilih Jokowi–Ahok pada Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta pada 2012 lalu itu.

Suryadi, 53 tahun, warga RT setempat lainnya juga mengatakan laporan warga ke Polda Metro tersebut memang layak sebab cara penggusuran yang terjadi pada Kamis pekan lalu yang dilakukan petugas Satpol PP dinilainya kejam dan tidak manusiawi.

“Saya sepakat itu dilaporkan. Saya sudah tiga kali mengalami penggusuran, ini yang paling kejam, warga udah kayak binatang diseret,” ujarnya ketika dijumpai detikcom Rabu lalu.

Sementara itu, Aris, 44 tahun, warga gang Lapan RT 21/17, Muara Baru, Penjaringan menilai laporan warga ke Polda tidak tepat sebab warga tidak memahami bahwa Pemerintah Provinsi DKI akan melakukan penataan di kawasan tersebut.

“Warganya aja gak sadar mau ditata. Saya sih gak masalah. Yang ngelaporin itu orang bodoh aja, orang memang salah, bangun rumah di waduk,” kata Aris dengan nada ketus ketika berbincang dengan detikcom Rabu lalu.

Yani, 40 tahun, warga RT 19/17, yang rumah kontrakannya belum dibongkar, mengaku tidak tahu bahwa warga melaporkan Jokowi–Ahok ke polisi. Menurutnya, warga tidak perlu melaporkan penggusuran itu ke Polda sebab tanah yang ditempati warga memang tanah milik pemerintah. “Ya gimana, orang tanah punya negara,” ujarnya kepada detikcom Kamis kemarin.   (sumber :detik)