Maher_al-Assad-foto-wikipediaAdik kandung Presiden Bashar al-Assad  ditenggarai sebagai salah satu otak kekejaman konflik Suriah. Pria 45 tahun  ini bernama Maher al-Assad yang diduga kuat sebagai salah satu tokoh dibalik serangan senjata kimia terhadap warga sipil di Ghouta baru baru ini.

Sudah lebih dari setahun Maher tidak kelihatan batang hidungnya di Suriah. Namun, dia diduga masih jadi orang kuat di kemiliteran Suriah. Bahkan dia disinyalir berada di balik penyerangan senjata kimia di Ghouta yang menewaskan lebih dari 1.700 orang, dikutip dari  The Guardian  (24/08/2013).

Brigadir Jenderal Maher al-Assad, adik kandung Presiden Bashar al-Assad. Dalam beberapa hal, Maher memainkan peranan penting dalam perang sipil di Suriah ketimbang kakaknya.

Maher adalah anggota senior Partai Baath dan menempati posisi sentral di kepolisian Suriah. Jabatan pentingnya yang lain adalah sebagai Komandan Divisi Ke-4 Pasukan Bersenjata Suriah sejak tahun 2000 dan Garda Republik.

Sejak awal perang sipil pecah di suriah 2,5 tahun lalu, kedua pasukan ini aktif menggempur pasukan mujahidin. Pekan lalu, kedua divisi ini kembali diaktifkan untuk melakukan operasi besar memberantas pasukan pejuang Suriah di Damaskus.

Berbeda dengan divisi pasukan lainnya yang banyak membelot, pasukan Maher loyal dan kejam. Padahal dalam 18 bulan pertama peperangan, banyak tentara yang desertir karena menolak membunuh rakyat. Saat itu, Maher sering terlihat oleh tentara garis depan, mengomandani pertempuran.

Contohnya pada Maret 2011, saat pasukan Assad menggempur wilayah Deraa. Kala itu, pasukan Maher tengah memberantas para pemuda yang menyerukan Assad untuk turun. Di sini, Maher memberikan perintah langsung untuk menembak, membuat seorang tentara terpaksa membelot.

“Dia mengunjungi kami pada suatu pekan di sana,” kata mantan anggota divisi 4 yang membelot dan kabur ke Istanbul, Turki. “Dia mengatakan pada kami untuk tidak menembak pria dengan senjata, karena mereka teman. Dia malah menyuruh kami menembaki orang yang tidak memegang senjata, karena mereka teroris,” lanjut pria yang enggan disebut namanya ini.

“Saya tidak langsung membelot. Dia membuat kami menembaki mereka di jantung dan kepala. Tentara yang dengan sengaja menembak melebar atau ke atas akan dipukuli atau dibunuh,” kata dia lagi.

Kekejaman ini tidak akan dilupakan oleh warga Deraa yang sekarang kebanyakan tinggal di pengungsian di kota Zaatari, Yordania. “Maher adalah iblis. Dia secara pribadi ingin memusnahkan kami karena kami menentangnya. Dia mendapat kesenangan dari situ. Apakah kau melihat videonya di penjara?” kata Khaled Othman, salah satu pengungsi.

Othman merujuk pada kerusuhan di penjara Saidnaya tahun 2008. Saat itu, 400 tentara ditawan oleh 10.000 napi. Maher mengeluarkan perintah bunuh, baik napi dan tentara yang disandera ikut tewas.

Maher menggunakan kamera ponselnya untuk merekam mayat-mayat tersebut, beberapa dari mereka terpotong-potong, beberapa kepalanya hancur. Adik ipar Maher, Majd al-Jadaan, yang tinggal di pengasingan di Washington DC membenarkan bahwa yang mengambil gambar itu adalah Maher.

Dia terakhir terlihat beberapa pekan sebelum ledakan di ruang rapat di Damaskus, Juli tahun lalu, yang menewaskan adik ipar Assad, Assef Shawkat. Terbunuh juga pada insiden itu menteri pertahanan dan beberapa anggota pejabat pemerintahan Assad.

Menurut rumor, saat itu Maher juga tengah berada di ruang rapat tersebut. Abdullah Omar, mantan juru bicara kepresidenan Suriah yang membelot September lalu mengaku melihat Maher datang ke Istana dengan keadaan payah. Sebagian kaki dan tangannya diamputasi.

Namun rumor ini belum bisa dikonfirmasi kebenarannya. Yang jelas menurut seorang diplomat senior Turki, Maher masih hidup dan memerintah militer. “Dia masih hidup dan memerintah. Divisi ke-4 masih menjadi salah satu unit tempur terbaik Suriah,” kata diplomat ini. (Viva)