218838_bocah-korban-serangan-senjata-kimia-rezim-bashar-al-assad-di-ghouta--suriah_663_382Para korban serangan udara Pemerintah Berkuasa Suriah, Rabu (21/8/2013) dini hari. Tak terlihat darah

pada para korban tewas ini.  (Photo AFP)

==============================================================================

Damaskus -Sejumlah penembak jitu  (Sniper )  Suriah  menghalang halangi   upaya penyidik PBB menyelidiki penggunaan senjata kimia di Suriah dengan menyerang   tim ahli PBB Senin (26/8) sehingga memaksa mereka mundur dari upaya menyelidiki serangan senjata kimia di dekat Damaskus, kata Jurubicara PBB Martin Nesirky.

Tidak ada korban luka yang dilaporkan ketika kendaraan pertama dalam sebuah konvoi PBB itu diserang saat menuju Ghouta, di sebelah timur ibukota Suriah. Namun  tim itu harus kembali ke basis mereka, kata Nesirky.
Diberitakan Reuters, Senin 26 Agustus 2013, tim penyidik hendak menuju Mouadamiya, Ghouta, wilayah terakhir yang jadi sasaran serangan senjata kimia Assad. Keberangkatan tim pimpinan Ake Sellstroms ini dilakukan setelah mendapatkan persetujuan pemerintah Suriah.

Baru saja keluar Damaskus, kendaraan mereka ditembaki. “Kendaraan pertama Tim Investigasi Senjata Kimia ditembaki berkali-kali oleh penembak jitu di wilayah aman,” kata Juru Bicara PBB Martin Nesirky.

Tidak ada yang terluka dalam penembakan itu. Namun, mobil mereka rusak parah sehingga harus ditukar. “Karena mobil tidak bisa lagi dipakai, tim kembali lagi ke pos pemerintah. Setelah mengganti kendaraan, tim kembali berangkat,” ujarnya lagi.

Pemerintah Suriah dalam siaran televisi mengatakan adalah “para teroris” yang menembaki delegasi PBB itu. Sebaliknya, pejuang Suriah menuduh tentara Assad lah yang berada di balik aksi itu.

Tim PBB tetap meneruskan penyelidikan dengan ditemani oleh dokter setempat dan para pejuang Suriah dari Tentara Pembebasan Suriah dan Dewan Lokal Mouadamiya. Ini bisa dilihat dalam rekaman video yang ditayangkan PBB.

Dalam video itu, penyidik yang mengenakan rompi anti peluru hitam-biru dan helm PBB warna biru berjalan memeriksa para korban. Mereka terlihat berjabat tangan dengan pejuang Suriah yang mengenakan pakaian perang serta beberapa dokter dan warga.

Tim lantas diantar menuju ruang bawah tanah sebuah gedung, tempat korban selamat tengah dirawat dan dilindungi dari serangan mortir Assad. Di sini, tim mencatat kesaksian dan mengambil sampel dari para korban. Tim juga mengambil sampel dari jenazah korban gas.

“Saya sedang bersama tim sekarang. Kami di Masjid Rawda dan mereka menemui korban luka. Tim medis kami dan penyidik berbicara dengan pasien dan mengambil sampelnya,” kata Abu Karam, seorang dokter yang menemani tim PBB kepada Reuters melalui telepon.

Menurut aktivis, sedikitnya 80 orang terbunuh di wilayah ini akibat gas beracun. Ratusan lainnya terbunuh di tiga wilayah yang dikuasai pejuang di sekeliling Damaskus, seperti Irbin, Ain Tarma dan Jobar. Menurut laporan aktivis, 1.700 orang terbunuh dalam peristiwa itu.

Izin penyelidikan baru diberikan selang lima hari setelah insiden itu terjadi. Menurut intelijen, izin telat diberikan. Selain karena bukti residu bahan kimia bisa hilang, rezim Assad juga terus membombardir lokasi untuk  merusak barang buktii. Jelas, kata intelijen, Assad mencoba menyembunyikan sesuatu.

Usai penyelidikan, tim PBB kembali ke hotel mereka di pusat kota Damaskus. Beberapa jam setelah mereka pergi, wilayah Mouadamiya kembali dibombardir oleh roket-roket tentara Assad. (eh)