lafalallah

Kualalumpur -Pemerintah Malaysia pada hari Kamis, 22 Agustus memenangkan hak untuk mengajukan banding putusan pengadilan yang memungkinkan minoritas non-Muslim di negara itu untuk menggunakan lafal “Allah” untuk menyebut Tuhan.

“Ini masih merupakan masalah yang hidup,” hakim dari Pengadilan Tinggi Datuk Seri Abu Samah Nordin mengatakan dalam keputusannya hari Kamis ini, The Malay Mail melaporkan, demikian lansir onislam.net.

“Kontroversi ini belum bisa diselesaikan,” ia menambahkan.

Penggunaan lafal “Allah” dalam publikasi Nasrani dalam bahasa Melayu telah menjadi isu kontroversial di Malaysia. Isu ini mulai merebak saat 2008 ketika Departemen Dalam Negeri mengancam akan mencabut izin koran Katolik Herald atas penggunaan lafal ‘Allah’ oleh kaum nasrani. Hal ini mendorong pihak Gereja untuk menuntut pemerintah karena dianggap melanggar hak-hak konstitusionalnya.

Pada tahun 2009, Putusan Pengadilan Tinggi yang menguatkan hak konstitusional Gereja Katolik untuk menggunakan kata “Allah” telah mengejutkan umat Islam. Hal ini karena lafal ‘Allah’ dianggap sebagai kata yang hanya merujuk pada Tuhan dalam Islam. Namun pihak gereja Katolik di Malaysia berdalih mereka juga telah menggunakan lafal ‘Allah’ sudah sejak lama. Selama ini secara formal, penggunaan lafal ‘Allah’ sebagai penggati kata ‘Tuhan’ memang dikhususkan bagi umat Islam di Malaysia.

Persidangan akan kembali dilanjutkan pada tanggal 10 September.

Putusan pengadilan dipuji oleh kelompok Muslim, menganggapnya sebagai salah satu hal yang penting bagi umat Islam di Malaysia.

“Allah hanya untuk umat Islam. Ini adalah hak kami,” kata Sekretaris Jenderal, Perkasa (organisasi pembela hak muslim di Malaysia) Syed Hassan Syed Ali kepada The Star Online.

“Kami akan mendukung masalah sepanjang waktu dan kami mendesak semua umat Islam untuk mengikuti permasalah ini terus,” tambahnya. (Muslimdaily)