.MesirBerdarah

Seorang pria menangis  saat ia melihat salah satu dari banyak jenazah korban penyerbuan tentara

dan polisi Mesir terhadap pendukung Presiden Mesir terguling Muhammad Mursi

di Alun-alun Rabaa al-Adawiya,, di Kairo, 14 Agustus 2013. | AFP PHOTO

==========================================================================================

Kairo –  Kementerian Kesehatan Mesir menyatakan setidaknya 638 orang tewas  dan sedikitnya  4.000 orang terluka dalam insiden pembantaian oleh  pihak Aparat  Mesir Rabu (14/8/2013)  terhadap demonstran pendukung Presiden terguling Mesir Muhammad Mursi.

Namun, Ikhwanul Muslimin menyebutkan lebih dari 2.000 anggotanya gugur  dan 10. 000 lainnya terluka akibat insiden tersebut. Juru bicara Ikhwanul Muslimin mengatakan Kementerian Kesehatan Mesir menolak mengirimkan stafnya untuk mendata jenazah, sehingga jumlah korban pun simpang siur.

Bermula dari penyerangan  oleh polisi dan tentara  Mesir  untuk membubarkan secara paksa  demonstrasi pendukung Presiden terguling Mesir Muhammad Mursi di Bundaran Rabiah Adawiyah dan Bundaran Al Nahdhah, Kairo  pada Rabu (14/8/2013).  , Upaya paksa mengusir demonstran ini  merupakan perintah dari presiden sementara Adly Mansur. Ia beralasan kebijakan itu untuk memulihkan stabilitas keamanan.

Diperkuat kendaraan lapis baja dan buldoser, polisi dan tentara  Mesir menghancurkan perkemahan dan aksi duduk para demonstran di dua lokasi utama tempat pendukung Mursi telah menggelar aksi protes selama 6 pekan terakhir. Aksi pendukung Mursi berlangsung sejak militer menggulingkan kekuasaan Mursi yang terpilih dalam pemilu demokratis pada Juli 2012.

dikutip dari Antara,   asap gas air mata tebal menyelimuti Bundaran Rabiah. Tank tempur dan panser bergerak dari Jalan Yusuf Abbas dan Jalan Tairan dari arah Jalan Salah Salim. Serangan itu mulai dilancarkan sekitar pukul 7.00 waktu setempat atau sekitar pukul 12.00 WIB.

”Tembakan senjata berat terdengar menggelegar, ribuan pengunjuk rasa termasuk perempuan dan anak-anak panik,” sebut laporan Antara.

Banyak wanita dan anak-anak menangis dan berlindung di dalam tenda-tenda di sisi Masjid Rabiah Adawiyah  dan tiga helikopter tampak berputar-putar di udara bundaran. Para pemuda pendukung Mursi kewalahan melawan tentara yang didukung panser. Pasukan keamanan  tentara dan polisi yang  melancarkan serangan  membabi buta terhadap pendukung Mursi di Bundaran Rabiah Adawiyah, Kairo Timur, dan Bundaran Al Nahdhah di Kairo Barat, Rabu. Korbanpun berjatuhan.

Kementerian Kesehatan Mesir dalam pernyataannya mengatakan, 288 korban tewas berasal dari perkemahan terbesar demonstran di distrik Nasr Kota Kairo. Sementara 90 korban tewas lain berasal dari perkemahan yang lebih kecil di al-Nahda Square di dekat Universitas Kairo. Selebihnya tewas dalam serangan aparat polisi dan tentara  terhadap  pendukung Mursi di beragam tempat.

Mohammed Fathallah, juru bicara kementerian, mengatakan sebelumnya bahwa tubuh berlumuran darah yang berderet di Masjid El Imam di kota Nasr tidak termasuk dalam korban tewas resmi. Tidak ada pernyataan yang memastikan apakah data terbaru ini sudah memasukkan korban tewas yang dikumpulkan di masjid tersebut.

Sementara itu, di dalam masjid, nama para korban tewas tertulis di kain kafan mereka. Sebagian jenazah terlihat bekas terbakar. Selain itu, nama 265 korban meninggal juga terpampang dalam selembar daftar yang ditempel di dinding masjid. Bau mayat tak tertahankan dari dalam masjid ini.

Banyak kalangan mengeluh pihak berwenang mencegah pemberian izin penguburan jenazah para korban ini, meskipun Ikhwanul Muslimin telah mengumumkan beberapa pemakaman diadakan untuk para korban yang telah teridentifikasi pada Kamis (15/8/2013). Fathallah membantah ada pencegahan pemberian izin itu.

Omar Houzien, relawan yang membantu mencari korban “pembantaian” itu, mengatakan, jenazah-jenazah tersebut dibawa ke dalam masjid dari pusat medis di perkemahan demonstran pada saat-saat terakhir penyapuan polisi ke perkemahan karena ada kekhawatiran jenazah itu akan dibakar polisi.

Terpisah, Pemerintah Mesir menguburkan 43 petugas kepolisian yang juga menjadi korban dalam insiden “Rabu berdarah” tersebut. Menteri Dalam Negeri Mohammed Ibrahim, yang juga membawahi kepolisian, memimpin langsung penguburan itu.

Meski data korban tewas yang dilansir Pemerintah Mesir sudah mengerikan, Ikhwanul Muslimin mengatakan, korban tewas sesungguhnya diperkirakan mencapai 2.600 orang. Korban luka pun mencapai 10.000-an orang.

Kecaman dan kutukan bertubi-tubi datang pada Pemerintah Mesir, baik dari kalangan Muslim maupun Barat, atas insiden “pembantaian” ini. Presiden Amerika Barack Obama juga sudah menyatakan membatalkan latihan militer bersama tahunan kedua negara meski tak ada pernyataan menghentikan bantuan 1,3 miliar dollar AS untuk militer Mesir ataupun menyebut penggulingan Mursi adalah kudeta. (Berbagai sumber)