Kisah anak Kapolri Jenderal Hoegeng sampai kerja di bengkel

Jendral Poisi Hoegeng (Foto mertdeka.com)

Jakarta -Seorang pengedara mobil Honda Jazz memaksa masuk ke jalur busway koridor II Pulogadung-Harmoni, atau tepatnya di Jalan Galur, Senen, Jakarta Pusat, Selasa (30/7/2013) pagi sekitar pukul 09.30 WIB. Dengan arogan meminta petugas transjakarta membuka pintu jalur busway. Orang itu pun menggertak petugas dengan mengaku anak jenderal. Perilaku ini mendapat sorotan dan kecaman publik.

Lain lagi dengan kisah menarik soal putra mantan Kapolri Jenderal Hoegeng, Aditya S Hoegeng. seperiti  dilansir merdekacom Rabu 31 Juli 2013.   Walau anak jenderal bintang empat yang menjabat kepala polisi, Aditya tak pernah bertingkah arogan membawa-bawa nama Hoegeng.

Hoegeng memang tak pernah mengistimewakan anak-anaknya. Jangankan mobil, motor saja mereka tak punya. Kontras benar dengan anak-anak pejabat yang lain.

“Kami juga ingin punya kendaraan bermotor atau mobil. Namun pikiran seperti itu bisa kami atasi dengan cara hidup kami yang sederhana,” kata Aditya dalam sambutannya untuk buku Hoegeng, Oase menyejukkan di tengah perilaku koruptif para pemimpin bangsa terbitan Bentang (hal 263).

Semasa kuliah, Aditya bekerja di sebuah bengkel dan toko suku cadang milik Henky Irawan, pembalap terkemuka saat itu. Aditya tak malu, yang penting halal. Uang itu digunakan untuk menambah biaya kuliahnya.

“Bapak tak melarang saya bekerja di mana pun. Beliau hanya berpesan, dimana pun dan apa pun posisimu, bekerjalah dengan benar,” beber Aditya menirukan Hoegeng.

Hoegeng pun melarang Aditya masuk polisi, atau memberikan katebelece agar anaknya bisa diterima di Akademi Angkatan Udara. Bagi Hoegeng itu haram. Aditya sempat marah pada ayahnya. Tapi dia kemudian paham maksud bapaknya yang mengajari soal integritas.

“Kami bertiga bangga jadi anak Hoegeng Imam Santosa,” kata Aditya.

Sayangnya si anak jenderal pengemudi mobil Honda Jazz mungkin tak tahu kisah teladan ini.