freddyGembong Narkoba Freddy Budiman

Jakarta –  Terpidana mati gembong narkoba Freddy Budiman yang bergelimang harta membuat dirinya  dikelilingi sejumlah cewek-cewek jelita karena gemar memanjakan mereka dengan kemewahan nan menggiurkan. Freddy dekat dengan sejumlah cewek mulai dari model hingga artis. Pria yang dicabut 7 hak asasinya itu juga tidak pelit membagi-bagikan hartanya untuk si cewek mulai dari uang hingga mobil mewah. Bahkan digunakan  untuk  permainan kotor di Lapas Narkoba Cipinang

Seorang wanita simpanan gembong narkoba  yang berpofesi  model majalah dewasa  Vanny Rossyane (22) membeberkan borok-borok di Lapas. Dia mengaku kerap kali berhubungan badan dan nyabu bareng gembong narkoba Freddy Budiman. Akibat nyanyian  wanita  model sexi ini akhirnya Kementerian Hukum dan HAM mencopot Kalapas Narkotika Cipinang Thurman Hutapea digantikan oleh  (Plh) M. Alisyehbanna yang sebelumnya menjabat sebagai Kasubdit Pencegahan dan Penindakan Dit. Kamtib Ditjen PAS.

Freddy Budiman   yang sudah malang melintang didunia hitam narkotik   bukan sekali ini berurusan dengan hukum, seperti dilansir detik.com Jum’at 25/07/2013. inilah jejak sang gembong Narkoba  Freddy Budiman di pasar narkotika :

Berkemaja putih Freddy Budiman keluar dari ruang Pengadilan Negeri Jakarta Barat (Jakbar), Senin (15/7) pekan lalu. Majelis Hakim Aswandi yang memimpin sidang menjatuhkan vonis mati kepada pemilik 1,4 juta butir pil setan, ekstasi.

Meski demikian, tidak tampak raut kesedihan dari Freddy mendengar ketuk palu hakim. Dia justru membalas dengan acungan jempol kepada para hadirin yang mengisi ruang sidang.

Vonis tersebut akhirnya dijatuhkan setelah persidangan lima kali ditunda. Freddy beralasan sakit dan tidak dapat memenuhi persidangan beberapa waktu lalu. Usut punya usut, diduga itu hanya akal-akalan Freddy.

“Dia bilang enggak sidang juga sudah tahu vonisnya,” kata salah seorang penyidik, saat berbincang dengan detikcom beberapa waktu lalu.

Freddy bukan kali pertama berurusan dengan hukum. 2009 lalu dia ditangkap karena kepemilikan 500 gr sabu. Hakim menjatuhkan penjara 3 tahun 4 bulan. April 2011, saat dia baru menghirup udara bebas, Akiong, sapaan Freddy, kepolisian kembali menangkapnya dengan kepemilikan 300 gram sabu, 27 gram sabu, 450 bahan pembuat Ineks.

Kasus ini sempat membuat geger, pasalnya beberapa bintara dan perwira pertama dan menengah di Direktorat Narkoba polda Metro Jaya terseret penggelapan barang bukti.

Meski dibui, Akiong tetap leluasa menjalankan bisnis pil setan. Terbukti Mei 2012 dia dicokok BNN karena impor 1,4 butir pil ekstasi dari China. Di kasus ini sembilan tersangka diseret ke meja hijau. 23 Maret 2013, hakim memvonis Abdul Syukur yang bertugas sebagai pengurus dokumen kepabeanan dan Muhammmad Muchtar sebagai pencari gudang, keduanya divonis hukuman seumur hidup.

Sementara Ahmadi dan Tedja Harsoyo yang berperan untuk mengelabui pihak Bea dan Cukai dan menggunakan nama samaran Rudi, divonis hukuman mati. Untuk Hani Sapta Pribowo yang bertugas sebagai perantara dan Chandra Halim sebagai pemesan, keduanya masih menunggu persidangan vonis selanjutnya. Keduanya dituntut hukuman mati oleh jaksa penuntut.

Untuk personel intelejen Bais yang berperan memalsukan dokumen kepabeanan sidang dilakukan di Pengadilan Militer. Belum diketahui vonis yang diketuk hakim, namum kabarnya vonis tersebut sangat ringan dari tersangka lainnya, hanya belasan tahun. Adik kandung Freddy, Johny, hingga sidang berjalan belum saja maju ke persidangan, Johny berperan membantu mencarikan gudang untuk menyimpan pil yang nanti masuk ke Indonesia dari China.

Meski berhadapan dengan kasus besar, rupanya Freddy kembali berulah. Maret 2013 Bareskrim Polri mendapati pengiriman 400 ribu butir ekstasi asal Belanda. Penyelundupan itu melibatkan politisi PDIP dari Blora, Colbert Mangara Tua alias Jefry Siregar alias Hariman Siregar alias Robert.

Nama Freddy cukup pamor dikalangan sindikat narkoba. Di dalam penjara yang dengan keamanan super maksimum dan berbagai alat digunakan untuk menangkal komunikasi handphone para tahanan dan napi, Freddy tetap leluasa mengatur bisnisnya. Bak sebuah reuni para bandar, mereka kerap rutin menggelar ‘rapat’ di dalam penjara.

“Jadi, ada jam-jam tertentu dimana para bandar yang dikurung ini bertemu,” kata penegak hukum berdasarkan hasil pemeriksaan kepada Nico, koboi yang menembak busway dan belakangan dijerat pasal kepemilikan narkoba.

Menjinakan aparat penegak hukum rupanya bukan hal sulit untuk Freddy. Dengan modal uang yang dimiliki, Freddy bisa menentukan di mana dia akan diperiksa, ruang ber-AC dan makanan enak.

Di dalam penjara, Freddy mengumpulkan ‘kekuatan’ dalam pengendalian narkoba. Mereka yang memiliki potensi modal, kaki-tangan, dan jaringan bahan baku diberdayakan untuk menjalankan bisnis haram tersebut.

Mengenai aset yang dimiliki Freddy, BNN menyatakan masih melakukan penelusuran. “Pengusutan kasus pencucian uang Freddy masih dalam proses penyelidikan,” kata Kombes Sundari, Direktur Pengawasan Tahanan, dan Barang Sitaan BNN, Rabu (17/7). Direktorat ini yang kerap mengusut aliran-aliran uang dari beberapa kasus narkotika besar.

Sundari tidak merinci tahapan proses penyelidikan yang dimaksudnya tersebut. Namun, dia memberikan sinyal ada keterkendalaan dalam pengusutan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang melibatkan Freddy.

“Dia sangat lihai dalam kasus ini, sehingga kita harus kerja keras mencari aset-asetnya,” kata Sundari.

Mengenai para wanita yang mengelilingi gembong narkoba ini, bukan satu dua wanita. Informasi yang dihimpun detikcom, Freddy memiliki banyak menyimpan wanita-wanita dari berbagai latar profesi, mulai dari artis, pramugari, sampai dengan sales promotion girl.

Bila di Harlem, New York, ada Frank Lucas yang terkenal dengan kehidupan glamornya sebagai pemasok heroin, mungkin di Indonesia ada Freddy Budiman. Untuk melindungi pasar gelap narkotika, Frank Lucas mempengaruhi penegak hukum dengan uang hasil transaksi narkotika. Lalu, bagaimana dengan Freddy, apakah ada upaya serupa dari dia untuk melanggengkan bisnis haramnya itu?.