sby-habib rizieq

Jakarta – Perang urat syaraf Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Ketua Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab semestinya tidak terjadi. Kapasitas SBY saat ini tidak di ruang hampa. Ia sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara. Jangan sampai ada anggapan buruk muka cermin dibelah bagi SBY.

Presiden SBY dalam tiga hari terakhir intens mengomentari soal aksi kekerasan FPI yang terjadi di Sukorejo, Kendal, Jawa Tengah pekan lalu. Pertama pada hari Minggu (21/7/2013) lalu, secara lugas Presiden menyebut FPI tentang aksi kekerasan.

Tak tanggung-tanggung, Presiden SBY menggelar jumpa pers ihwal tersebut. “Hukum harus ditegakkan. Dicegah konflik ataupun benturan horizontal dan dicegah untuk tidak ada elemen dari mana pun juga, termasuk FPI yang melakukan aksi-aksi kekerasan, apalagi tindakan perusakan,” kata SBY saat itu.

Pernyataan SBY berikutnya, sifatnya menyindir. Hal itu terjadi saat Presiden menerima Rektor UIN, IAIN dan Kepala STAIN se-Indonesia di Istana Negara, Selasa (23/7/2013). SBY bercerita soal kunjungan pejabat dari Timur Tengah yang menyaksikan tayangan di televisi tentang aksi kekerasan oleh sebuah kelompok.

Saat itu tamu dari Timur Tengah bertanya kepada Menteri Agama Maftuh Basuni. Mendengar pertanyaan tersebut, Menag mengatakan bahwa aksi tersebut bertujuan untuk melakukan penertiban. Mendengar jawaban tersebut, sambung SBY, tamu tersebut terkejut dan meminta agar tindakan tersebut dilarang karena merugikan Islam dan Arab.

“Itu merugikan dua hal. Pertama merugikan Islam, Islam tidak begitu. Kedua, merugikan Arab, karena menggunakan pakaian Arab,” jelas Presiden SBY menirukan sang tamu.

Simbol pakaian khas Arab menjadi ciri yang dipakai para aktivis FPI. Tak terkecuali pakaian yang selalu dikenakan pimpinan FPI, Rizieq Shihab.

Merespons pernyataan SBY, Rizieq Shihab membalasnya. Ia menuding justru SBY menjadi pecundang. Rizieq mempertanyakan SBY yang hanya berkomentar soal FPI namun tidak bersikap terhadap preman.

“Ternyata SBY bukan seorang negarawan yang cermat dan teliti dalam menyoroti berita, tapi hanya seorang pecundang yang suka sebar fitnah dan bungkam terhadap ma’siat,” ujar Rizieq sebagaimana diunggah di laman resmi FPI.

Rizieq mengatakan, Presiden SBY boleh saja mengkritisi FPI. Namun, menurut Rizieiq, sebaiknya SBY berkaca terlebih dahulu sebelum mengkritik FPI. “Karena SBY adalah Ketua Umum Partai Terkorup yang mudharatnya menyengsarakan rakyat,” tuding Rizieq.

Sikap SBY yang reaktif terhadap aksi FPI di Sukorejo, Kendal, Jawa Tengah ini dinilai oleh Forum Umat Islam (FUI) merupakan upaya memanfaatkan simpati publik yang memberi penilaian negatif terhadap FPI. “Presiden memanfaatkan situasi mencari simpati. Kasihan, malu sendiri nantinya,” ujar Sekjen FUI Muhammad Alkhaththat di Kementerian Dalam Negeri, Selasa (23/7/2013).

Padahal, bila merujuk data selama Presiden SBY memerintah sejak Oktober 2004 hingga saat ini, aksi kekerasan dan praktik diskriminasi justru tumbuh subur. Seperti data yang dirilis Lingkaran Survei Indonesia (LSI) akhir tahun lalu.

LSI merilis sepanjang 2005-2012 di era Kepemimpinan Presiden SBY, kekerasan terhadap kaum minoritas meningkat sebanyak 14.083 kasus. Jika dipukul rata, setiap tahunnya sebanyak 210 kasus. Dibanding 1998-2004 (era Pra-SBY) terjadi 915 kasus kekerasan diskriminasi atau 150 kali selama setahun.

Jika merujuk data ini, Presiden SBY sepertinya harus bercermin. Pernyataan Presiden SBY terhadap FPI sama saja buruk muka, cermin dibelah. Nyatanya, kekerasan tumbuh subur di republik ini era Presiden SBY. (Inilah.com)