sunatAnak laki-laki dari suku Xhosa yang telah menjalani upacara  sunat  duduk dekat Qunu pada tanggal 30 Juni 2013. (AFP)

Johannesburgh : Bila di Indonesia, sunat lebih banyak dilakukan oleh pihak keluarga sendiri, maka di Afrika Selatan lain lagi ceritanya. Di Negeri ‘Nelson Mandela’ itu, para remaja yang menuju dewasa wajib menjalani ritual ‘khitan massal’ secara tradisional suku Xhosa di sebuah gunung atau semak-semak.

Namun ritual itu kerap memakan korban. Seperti yang terjadi baru-baru ini di salah satu wilayah di Provinsi Cape Timur. Sebanyak 30 pemuda tewas setelah disunat.

Selain itu, 300 lelaki muda lainnya harus dilarikan ke rumah sakit karena terluka parah. Bahkan ada yang kelaminnya habis.

“10 orang lagi baru saja diselamatkan dari hutan,” ungkap juru bicara Departemen Kesehatan Afsel Sizwe Kupelo, seperti dimuat News.com.au, Senin (8/7/2013).

Dalam ritual ini, para pemuda dari suku Xhosa, Sotho, dan Ndebele dikirim ke hutan. Untuk menjalani ritual menuju kedewasaan di hutan selama sebulan. Mereka juga diwajibkan untuk uji nyali di hutan.

Saat disunat, remaja ini hanya ditutup selimut. Ritual sunat dilakukan dengan alat-alat yang sangat jadul dengan tingkat keamanan yang ekstra-minim.

Kematian karena sunat ini sudah kesekian kalinya. Sebelumnya, 34 pemuda dilaporkan tewas setelah menjalani ritual khitan ini pada Mei 2013 lalu.

Para aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) pun menyerukan untuk mengakhiri tradisi budaya yang berbahaya ini.

Nelson Mandela

Sama dengan kebanyakan pemuda lainnya, mantan Presiden Afsel Nelson Mandela juga pernah menjalani ritual ini. Beruntung, khitannya tak mengalami hambatan.

Dalam buku otobiografinya, Mandela bercerita bagaimana pengalamannya ikut upacara sunat saat berusia 16 tahun.

“Tanpa sepatah kata, ia mengambil kulup saya. Menariknya ke depan dan dengan 1 gerakan digunakanlah tombak. Saya merasa seolah-olah peluru menembak pembuluh darah saya,” tulis Mandela seperti dikutip Dailymail, Senin 1 Juli 2013.

“Rasa sakit itu begitu kuat yang membuat saya mengubur dagu saya di dada saya. Beberapa detik tampaknya berlalu sebelum saya menangis dan kemudian saya sembuh dan berseru `Ndiyindoda!` (Saya seorang pria).| lip6