wiranto-harytanoesoedibjoHary Tanoesoedibjo dan Wiranto (Foto : Liputan6.com)

Jakarta : Ketua Umum Partai Hanura, Wiranto, dan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Hanura, Hary Tanoesoedibjo, segera dikukuhkan sebagai pasangan calon presiden dan calon wakil presiden untuk Pemilu 2014 dari Partai Hanura. Namun, langkah ini ditanggapi negatif pengamat.

“Itu ambisi yang berlebihan, tidak sesuai dengan kerja politik Hanura dan kadar akseptabilitas partai di tengah masyarakat pemilih. Hanura tak akan lebih dari 4 persen,” kata pengamat politik Universitas Indonesia, Boni Hargen, Senin (1/7/2013).

Boni membenarkan, roda politik Hanura bergerak lebih lancar setelah Hary Tanoe memutuskan bergabung. Tetapi, kata dia, daya penerimaan dan keterpilihan tidak bisa dibangun dalam semalam. “Meskipun dengan kekuatan dana dan jaringan media yang memadai,” tegas Boni.

Bahkan, menurutnya, Partai Hanura tak akan mampu mengusung capres dan cawapres dari kadernya tanpa berkoalisi. “Artinya, ide 3 besar dalam pemilu hanya utopia,” kata dia.

Kendati demikian, Boni tetap mengapresiasi pengukuhan Wiranto-HT sebagai bagian dari pesta Demokrasi. Justru, usulan itu harus ada yang ikut meramaikan. “Seperti Rhoma Irama jadi capres. ‎​Eyang Subur. ‎​Atau siapa pun, boleh meramaikan pesta ini,” imbuhnya.

Dari sudut pandang Boni, gairah Hary Tanoe saat ini lebih besar dari realitas politiknya. Sehingga, ke depannya dimungkinkan peluang lebih bagi Hary Tanoe. “Ada konteksnya yang pas,” tegas Boni.

Rencana pengukuhan Wiranto-Hary Tanoe sebagai pasangan capres dan cawapres diungkapkan Ketua DPP Partai Hanura, Saleh Husin. Menurutnya, keduanya dipasangkan karena ada dorongan dari para kader di daerah.

Saleh menjelaskan, dalam kegiatan pembekalan caleg yang akan berlangsung di Jakarta, DPP Partai Hanura akan mengambil keputusan untuk mengukuhkan kedua orang tersebut sebagai pasangan yang diusung Hanura pada Pilpres 2014. (liputan 6)