Supir.tag

Semarang-  Nuki Nugroho (25) sopir PT Tunas Artha Gardatama (TAG), perusahaan pengisian uang ATM yang berlokasi di Jl Guntur, Semarang,  tewas dirumah sakit Karyadi Semarang setelah tertembak di bagian belakang kepalanya  oleh oknum polisi bernama Briptu PRY .di kantor PT TAG.

Peristiwa terjadi sekitar pukul 02.30 dini hari tadi di ruang istirahat kantor PT TAG. Dari informasi yang dihimpun korban tidak sengaja tertembak oleh oknum polisi Shabara Polrestabes Semarang Briptu PRY saat mereka sedang bercanda.

“Ini tidak sengaja, di dalam tadi. Tembus dari belakang kepala sampai depan,” kata seorang petugas keamanan di Jl Guntur no 26, Gajah Mungkur, Semarang,  (detik.com Sabtu 15/6/2013)).

Dalam kejadian itu, Nuki tertembak di bagian belakang kepala hingga tertembus dekat pelipis sebelah kanan. Melihat kejadian tersebut, rekan-rekan korban yang berada di lokasi langsung melarikannya ke RS Elizabeth. Karena kritis  korban dirujuk ke RS Kariadi Semarang untuk penanganan lebih  intensif. Namun nyawa korban tidak tertolong dan menghembuskan nafas terakhir di RS Kariadi sekitar pukul 04.30 WIB.

Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Dwi Priyatno merngungkapkan  Tewasnya  Nuki sopir Tunas Artha Gardatama (TAG) merupakan kelalaian dari oknum anggota polisi  bernama Briptu PRY, Kapolda juga mengatakan seharusnya pelaku yang diketahui sebagai anggota Shabara Polrestabes Semarang, Briptu PRY itu mengembalikan pistol ke Mapolrestabes setelah selesai tugas. Namum sejak Jumat (14/6) malam kemarin pelaku menginap di kantor PT TAG, Jl Guntur, Semarang, karena rumahnya berada di Grobogan.

Saat ini pelaku sedang menjalani pemeriksaan oleh pihak kepolisian. Kapolda menambahkan, pihaknya akan memeriksa apakah ketika kejadian pelaku dalam pengaruh minuman keras atau tidak.

“Kami sedang cek apakah yang bersangkutan under control atau pengaruh minuman. Kalau tes urine tadi hasilnya negatif,” katanya.

Belum diketahui pasti kronologi kejadian, namun menurut Dwi, pemicu senapan yang menyebabkan Nuki tewas itu ditarik secara tidak sengaja.

“Ditarik picunya, tapi tidak ada latar belakang benci. Hal tersebut kelalaian,” tegasnya.

“Itu pidana, lalai menyebabkan kematian orang kelalaian hingga menyebabkan kematian,” imbuh Kapolda.

Ayah korban, Muryanto (63), mengatakan anaknya dan pelaku merupakan teman baik. Mereka kerap berkumpul dirumahnya dan kenal baik dengan keluarga korban.

“Itu temannya, sering ke sini kok. Sini kenal dekat,” kata Muryanto. (detik)