perempuan-penjual abgNA, siswi SMP yang jadi mucikari dan 2 orang korbannya di Surabaya. ©2013 Merdeka.com

Surabaya, Tangerang, Depok – Saat ini  Bangsa Indonesia  dapat dikatakan tengah dilanda persoalan utama yaitu krisis moral, namun  kebanyakan kita tidak menyadari itu sebagai sesuatu yang sangat berpengaruh bagi peradaban bangsa dan jati diri atau identitas bangsa  di mata dunia.

Anak merupakan cikal bakal pemegang tampuk keberhasilan dunia. Namun kita akan  miris melihat fenomena yang menimpa generasi penerus kita saat ini. Sederet kasus kriminal seperti pejabat korupsi, maraknya kasus kekerasan di kalangan remaja, penyalahgunaan narkoba, hingga anak-anak SD yang gemar melihat video porno, siswi SMP jadi mucikari , bermula dan berawal dari moral para pelaku yang rusak dan bermasalah.

Fenomena yang sama sekali tidak bisa kita remehkan atau dipandang sebelah mata, karena nasib bangsa ini yang akan menjadi taruhannya. Bila generasi bangsa ini miskin akan keteladanan dan krisis moral, meskipun kecerdasannya patut dibanggakan, justru mereka inilah yang merugikan negara dan masyarakat, dan mereka pula yang akan membawa negara pada kehancuran. Tidak bisa  dibayangkan bagaimana amburadulnya negara ini  kelak jika  benar-benar dipegang oleh generasi yang tidak bermoral.

Dalam rentang waktu sebulan ini ada  3 kasus masalah moral yang sangat menghebohkan  dan mencoreng dunia pendidikan.

Siswi Kelas 3 SMP jadi Mucikari

Sungguh miris dan tentu  saja mengagetkan semua orang , seorang  siswi yang masih duduk di bangku  kelass 3 SMP  dan  usianya baru lima belas tahun   di Surabaya, Jawa Timur harus berurusan dengan pihak yang berwajib karena menjadi mucikari. Siswi kelas 3 SMP Swasta di Surabaya   NA (15) ini ditangkap polisi  Mapolrestabes Surabayat saat menjual tiga ABG di Hotel Fortuna Jalan Darmokali Surabaya, pada Sabtu malam (8/6). NA  terpaksa harus digelandang ke Mapolrestabes Surabaya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, bersama tiga ABG yang menjadi anak buahnya, yaitu DA, BL dan NR.

Tak tanggung-tanggung, siswi SMP swasta di Surabaya  yang telah menjalani profesi sebagai germo selama 6 bulan ini mengaku  telah menjual tujuh anak baru gede (ABG) yang juga teman-temannya sendiri kepada  pria hidung belang.. Lebih gila lagi kakak kandungnya sendiri  NR, yang kini duduk di bangku SMA.jadi korbannya.  “Salah satu korban adalah kakak kandung tersangka sendiri,” ungkap Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Setija di kantornya.

Dia juga mengaku, terjun di dunia hitam itu, karena pernah dijual oleh dua orang mucikari ABG berinisial AL (19) dan CI (21)  ke pria hidung belang., kedua orang tersebut saat ini lagi dalam pengejaran polisi.      Selanjutnya, dia menjalani profesi barunya itu secara mandiri, sambil terus tetap bersekolah.

Kepala Sekolah (SMAN 8) di Tangerang Nyabu 

Sungguh ironis moral oknum pendidik saat ini. Kepala sekolah sebuah Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) di Kota Tangerang, Banten, berinisial Dd (51) ditangkap Satuan Narkoba Kepolisian Resor Kota Tangerang  Rabu, 22 Mei 2013, Ketika Kepsek hendak menuju SMAN 8 di Jalan Besi Raya, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang dengan mengendarai mobil Honda City Silver B-1325-NEQ, dihentikan polisi.

Begitu digeledah, di dalam mobil pelaku terdapat sabu seberat 0,5 gram. “Barang bukti itu kami temukan di dalam sarung jok mobil yang sengaja didesain sedemikian rupa di bawah pengemudi,” Kata Kasat Narkoba Polresta Tangerang Komisaris I Gede Gotia.Senin (27/5/2013)..

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, kepala sekolah itu memang diintai setelah polisi mendapat informasi dari masyarakat bahwa yang bersangkutan jadi pengguna narkoba. Saat ditangkap, di jok mobilnya ditemukan 0,5 gram sabu, 1 buang bong (alat isap sabu), dan 2 sedotan plastik. ”Dia ditangkap di pinggir jalan, pagi hari, saat akan menuju sekolah di mana dia bertugas,” katanya.

Pelaku bisa dijerat Pasal 112 dan 127 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika, dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara.

Akhirnya, Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang, Tabrani, mencopot pelaku dari jabatannya sebagai Kepala SMAN 8 Tangerang. Sedangkan untuk sanksi pemberhentian sebagai pegawai negeri sipil (PNS), Dinas Pendidikan masih akan memprosesnya melalui BKPP.

Guru Cabul Di Depok

Sementara itu, seorang guru di SDN 4 Beji, Jalan Jawa, Beji Utara, Kecamatan Beji, Depok, dilaporkan ke Kepolisian Resor Kota Depok karena diduga mencabuli siswinya sendiri, Senin, 27 Mei 2013. Dia dilaporkan oleh tujuh orang siswi kelas V yang ditemani masing-masing orang tuanya.

“Korban ada sebanyak 17 orang, tetapi hanya tujuh orang yang melaporkan,” kata salah satu orang tua murid, Etty Kusniati, kepada wartawan di Polresta Depok, Senin, 27 Mei 2013.

Kasus itu diketahui setelah para siswi mengakui telah mendapatkan tindakan pelecehan seksual di kelasnya pada Sabtu, 25 Mei lalu. Akhirnya, sebanyak enam orang tua siswa mendatangi kantor kepala sekolah SDN 4, Siti Ramlan, untuk meminta keterangan dan menindak guru tersebut. Namun, kepala sekolah bilang guru itu hanya akan diberhentikan mengajar. Merasa tidak puas, pihak orang tua akan membawanya ke jalur hukum.

Pelaku adalah wali kelas V sekolah tersebut yang sudah lima tahun diangkat menjadi pegawai negeri sipil. Salah seorang murid kelas V SDN 4 yang menjadi korban, Dessy Susanti, mengatakan, sejak semeter pertama kelas V, dia mengaku kerap melihat gurunya mencabuli siswi-siswi di kelasnya. “Pura-pura periksa yang salah, tetapi tangannya mengangkat rok teman saya dan memasukkan tangannya ke bagian vital,” kata dia.

Dessy mengatakan, selain memasukkan tangan dari bawah rok siswinya, sang guru cabul itu kerap menakuti siswa-siswanya dengan berbagai tindakan kasar. “Pernah teman saya pakai topi dalam kelas. Dia ditendang dan topinya diinjak dan dibakar dalam kelas,” kata Dessy.

Awalnya, para murid hanya diam saja karena takut dengan perangai sang guru yang temperamental. Namun, Sabtu lalu ketika mereka belajar kelompok di rumah Dessy di Jalan Kramat Jaya Rt 4 RW 12, Beji, Depok, mereka sepakat untuk mengadu. “Kami langsung sepakat untuk melapor ke orang tua,” katanya. 

Sumber : ROL. VOA Islam, Metro, Merdeka.com