delegasi-indoneisa-ke-Israel
Jakarta – Prilaku Anggota DPR Komisi I ini seperti kurang kerjaan, Apa maksud dan tujuan mereka  sowan ke negeri zionis Yahudi,???? Padahal semua tahu Israel adalah  sebuah negara yang didirikan melalui perampasan tanah milik rakyat Palestina secara paksa.  Sungguh tidak menyadari  mereka melukai perasaan umat Islam  Indonesia, ataukah mungkin harus ditatar ulang  karena sudah jelas dalam pembukaan UUD  1945 alinea 1 tentang Hak Kemerdekaan Setiap Bangsa jelas sekali dikatakan  : “Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan”.

Berita anggota DPR komisi I pimpinan  Tantowi Yahya  berkunjung ke Israel terbongkar setelah sebuah situs berita Israelhayom.com, merilis berita sebuah kunjungan rahasia delegasi tingkat tinggi parlemen Indonesia ke negeri Yahudi tersebut sekitar minggu lalu, pada Selasa (11/6).

Seperti ditulis Dedy Kurniawan di Kompasiana 12 June 2013, Kunjungan Tantowi Yahya beserta 7 tokoh lainnya selama 4 hari sedianya memenuhi undangan dari Organisasi Pro Zionis yang bermukim di Australia, Australian Jewish Association. Misi kunjungan itu tak lain untuk membicarakan kelanjutan proses perdamaian Israel-Palestina dengan anggota parlemen Israel (Knesset).Kunjungan ini dilakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan bangsa ini dan dipublikasikan pertama kali oleh Harian Israel Israelhayom yang menyatakan “Ini mungkin pertama kalinya delegasi dari negara Asia Tenggara mengunjungi Israel dan bertemu dengan anggota parlemen Israel”. Pernyataan harian itu kemudian dikutip oleh harian Indonesia Republika. Tantowi Yahya berdalih “Saya ikut karena penting bagi saya untuk mendengarkan penjelasan dari petinggi Israel terkait proses perdamaian dengan Palestina yang sekarang sedang berlangsung,” Selasa (11/6).

Kunjungan anggota DPR ke Israel itu tentu saja segera menuai kecaman dari berbagai tokoh ormas keagamaan dan kemasyarakatan,

Pengamat Militer, Muhadjir Effendy menilai sebagai anggota DPR RI semestinya Tantowi harus menahan diri untuk tidak melangkahi garis kebijakan luar negeri pemerintahan Republik Indonesia (RI).

“Oleh sebab itu, sebaiknya dia membuat pertanggungjawaban publik atas tindakannya itu,” kata rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini kepada Republika di Jakarta, Rabu (12/6).

Ferry Nur Ketua Komite Indonesia untuk solidaritas rakyat Palestina menyayangkan kepergian para tokoh tersebut.  “Kita semua tahu Indonesia tak ada hubungan diplomatik dengan Israel,” ujarnya, Senin (11/6). beliau menambahkan untuk mengusut tuntas motivasi dibalik kunjungan itu kepada Badan Kehormatan DPR.

Pengurus Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah Pusat, H. Najammudin Ramly juga memberikan tanggapannya “Jika benar itu terjadi, tindakan itu adalah penghianatan terhadap pembukaan UUD 1945 dan Pancasila.Tindakan yang memalukan, sebuah tindakan yang melecehkan kemanusiaan,” ujarnya kepada hidayatullah.com, Rabu (12/06/2013). “Ia juga melanggar komitmen Konferensi Asia Afrika yang diprakarsai Bung Karno serta komitmen RI untuk menghapuskan penjajahan di atas dunia” ujarnya lagi. Lalu Najammudin menambahkan “Mohon infonya, siapa-siapa saja pejabat tinggi itu?” .

Bagaimana dengan sikap DPR sendiri terkait kunjungan itu ? Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus Hasanuddin mengatakan kunjungan Tantowi Yahya ke Israel tidak diketahui komisi. Dipastikannya, tidak ada dalam agenda komisi I melakukan kunjungan ke Israel. “Tapi harus dicek dulu kepada yang bersangkutan,” ucapnya, Selasa (11/6).

Sikap Partai Golkar tempat bernaungnya Tantowi Yahya juga senada  ”Tidak mungkin Golkar mengirim utusan ke Israel sebab Indonesia tidak mengakui adanya negara Israel, apalagi Golkar,” kata anggota komisi IX Poempida Hidayatullah di Jakarta, Selasa, (11/6).

Bagaimanapun juga kunjungan satu delegasi Indonesia ke Israel ini tentu saja sangat menyakiti perasaan Bangsa Indonesia yang memiliki jumlah umat Islam terbesar di Dunia dan membenci penjajahan suatu bangsa terhadap bangsa lain. Ada beberapa hal yang membuat kunjungan ini tak membawa manfaat yang berarti bagi Indonesia.

Posisi sebagai anggota DPR atau wakil rakyat di mata konstituen. Walaupun bukan dalam rangka kunjungan kerja, Posisi Tantowi Yahya sebagai wakil rakyat akan dipertanyakan banyak pihak. Kok bisa seorang anggota DPR yang katanya penyalur aspirasi rakyat berkunjung ke negara yang eksistensinya tidak diakui oleh Bangsa ini. Kalau hanya sekedar memenuhi undangan kenapa tidak ditolak. Apakah lebih penting undangan yang diprakarsai oleh organisasi Yahudi australia pro zionis itu daripada perasaan sakit hati rakyat Indonesia.  Selain itu Tantowi Yahya adalah anggota komisi 1 yang membawahi bidang luar negeri,militer dan hankam, posisi yang sangat strategis di dalam hubungan Internasional dan pihak yang ditemui di Israel juga bukan orang sembarangan anggota Knesset (Parlemen Israel) yang mewakili rakyat Israel !!!! Apakah hanya sekedar membicarakan proses lanjutan Perdamaian Palestina atau agenda lain yang terselubung dari pertemuan itu ? Wallahu Alam

kedua. Posisi Bangsa Indonesia di depan dunia internasional. Kunjungan ini mungkin akan menjadi rahasia yang terpendam seandainya beritanya tidak dibocorkan oleh harian Israel Israelhayom. Apa sebenarnya maksud Harian tersebut memublikasikan pertemuan itu ? Sudah terjadi kecairan hubungan ? Ada niat Indonesia untuk membuka hubungan yang lebih jauh dengan Israel ? Apakah ingin memberitakan bahwa sudah terjadi pengakuan kedaulatan secara diam-diam dari negara berpenduduk umat islam terbesar di dunia  ini kepada negara zionis tersebut ? Media mainstream di Indonesia tentu saja akan menutup-nutupi berita ini. Tapi bagaimana dengan pemberitaan di luar apakah akan sama, tentu saja tidak.  Bagaimana posisi Indonesia di mata dunia Internasional setelah pemberitaan ini dimana mereka mengetahui Indonesia merupakan salah satu negara yang menentang penjajahan Israel ?

Ketiga. Posisi Indonesia di mata Islamic World . Citra sebagai negara berpenduduk Islam terbesar di muka bumi yang mendukung kemerdekaan Palestina  juga akan tercoreng akibat peristiwa ini. Rupanya Anggota DPR ini sudah melupakan insiden Mavi Marmara yang merupakan tragedi kemanusiaan dimana terjadi penyerangan Pasukan Israel terhadap kapal pemberi bantuan kemanusiaan ke Gaza dan ditawannya warga Indonesia sebagai buah dari Insiden tersebut. Masih ingatkah dia ? Bukankah ada kedatangan beberapa Anggota DPR sebelumnya ke Gaza yang terang-terangan mengaku berpihak kepada pemerintahan Palestina hasil Pemilu 2006 yang dimenangkan oleh HAMAS  dan menyalurkan bantuan kemanusiaan yang jumlahnya luar biasa ? Dengan adanya hal ini, posisi sebenarnya Indonesia dalam perjuangan Palestina akan dipertanyakan masyarakat Islam Internasional.

Mudah-mudahan kejadian ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua, agar lebih memikirkan lagi dampak lanjutan dari setiap tindakan. Memenuhi undangan memang baik, tapi harus dilihat dulu siapa yang mengundang dan akankah ada imbas negatif yang teramat besar selesai kunjungan tersebut. Pelajaran yang sangat-sangat berharga.

Sumber : Kompasiana, Rol,  Hidayatullah.