MEMBUKA TIRAI TOPENG HIZBULLAH  Bag. 4

Nic6218062Suasana pemakaman Saleh Ahmed Sabagh, seorang anggota milisi Syiah Hizbullah. Foto : AFP

Untuk mengetahui aras dan visi perjuangan sebuah kelompok atau gerakan, tak ayal kita harus memahami ideologi apa yang dianutnya, prinsip apa yang dipegang teguh oleh mereka, sehingga jelas bagi kita untuk menyingkap bagaimana pola pikir dan sepak terjang suatu gerakan tersebut.

Adapun ideologi dari Gerakan Syiah Hizbullah dan para pengikutnya adalah Aqidah Syiah, atau mereka biasa menyebut diri mereka sebagai penganut Syiah Ja’fari, atau Syiah Imam Itsna ‘Atsariyah (dua belas imam). Mereka berpegangan dengan aqidah sesat, terutama:

Sikap Berlebihan Terhadap Para Imam

Orang-orang Syiah adalah kelompok yang sangat berlebihan terhadap Ahlul Bait. Mereka meyakini bahwa Ahlul Bait tersebut terbebas dari dosa dan mengetahui yang gaib. Mereka mengakui bahwa imam dua belas, jika mereka berkehendak maka mereka akan tahu. Mereka tahu kapan akan mati dan mereka tidak akan mati kecuali sesuai keinginan mereka[1]. Keyakinan mereka sampai pada tingkat bahwa mereka mengutamakan para Imam mereka melebihi seluruh Nabi-nabi kecuali Nabi Muhammad Salla Allahu alaihi wa Sallam. Hal ini diakui oleh Al-Majlisi dalam kitabnya Miratul Uqul [2/290]. Mereka mengatakan bahwa imam bisa menghidupkan orang mati[2], bahkan sampai ada yang mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah orang yang meniup sangkakala kebangkitan hari kiamat. Dia adalah petir, dia yang menjadikan sungai mengalir, menumbuhkan pohon-pohon menjadi rindang dan mengetahui apa yang ada di dalam hati. Dia adalah Asmaul Husna yang digunakan sebagai doa[3]. Kami berlindung kepada Allah dari keyakinan-keyakinan tersebut.

Aqidah Mereka Tentang Al-Qur’an

Syiah berpendapat bahwa Quran telah mengalami distorsi pada masa Sahabat[4]. Tidak ada yang mengumpulkan Qur’an secara keseluruhan kecuali hanya para imam. Tidak ada yang mengumpulkan dan menghafalnya seperti yang Allah turunkan kecuali Ali bin Abi Thalib dan para Imam setelahnya[5]. Mereka mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang memiliki semua Quran secara dhahir maupun batin kecuali orang-orang yang telah mendapatkan wasiat[6]. Mereka sampai pada keyakinan bahwa Quran yang dibawa oleh Jibril alaihis salam kepada Muhammad Sallallahu alaihi wa Sallam adalah 17 ribu Ayat[7]. Hal itu diakui oleh ulama dunia mereka, ulama yang menjadi penghulu para hakim dan para alim, yang bernama Ni’matullah Al-Jazairi. Dia berkata:

“diriwayatkan di dalam Al-Akhbar bahwa mereka –alaihimus salam- memerintahkan kepada pengikut Syiah mereka untuk membaca Quran yang ada saat ini dalam shalat dan lainnya serta mengamalkan isinya. Hal itu sampai munculnya wali kami lalu Quran tersebut akan terangkat dari manusia ke langit dan keluarlah Al-Quran yang ditulis oleh Amirul mukminin, dibacakan kemudian diamalkan hukum-hukum di dalamnya.[8]

Aqidah Mereka Tentang Kemaksuman Dan Wilayah

Syiah meyakini kemaksuman dan keimaman para imam 12 mereka[9]. Mereka mengkafirkan orang yang menyelisihi pendapat mereka. Yang paling utama adalah tiga khalifah yang ada, yaitu Abu Bakar, Umar dan Usman –semoga Allah meridlai mereka semua- . Mereka juga mengklaim riwayat bahwa mereka bertiga telah kafir dan murtad setelah merampas hak kepemimpinan dari Ali bin Abi Thalib –semoga Allah meridlai beliau dan semua para sahabat-. Oleh karena itu, mereka meyakini bahwa menerima wilayah merupakan syarat diterimanya amal. Tanpa hal itu, tidak akan diterima amalan seorang Muslim, apapun bentuknya. Oleh sebab itu, Al-Majlisi menulis satu bab dalam kitabnya Biharul Anwar dengan judul “Tidak akan diterima semua amalan kecuali dengan mengakui wilayah.[10]

Aqidah Mereka Terhadap Para Sahabat Dan Ummahat Mukmin

Syiah Rafidlah meyakini bahwa melaknat tiga khalifah, Abu Bakar, Umar dan Usman -semoga Allah meridlai mereka- , adalah amalan terbesar untuk mendekatkan diri di sisi Allah. Demikian juga melaknat dua istri Nabi Salla Allahu alaihi wa Sallam yaitu Aisyah dan Hafsah[11]. Mereka juga menuduh Aisyah telah melakukan perbuatan keji[12]. Mereka juga menuduh Aisyah dan Hafsah hendak membunuh Nabi Salla Allahu alaihi wa Sallam[13]. Mereka mengingkari seluruh sahabat -semoga Allah meridlai mereka-, kecuali hanya tujuh atau sepuluh dari mereka. Mereka berpendapat bahwa para sahabat –semoga Allah meridlai mereka- telah murtad dari Islam setelah kematian Nabi Salla Allahu alaihi wa Sallam.

Aqidah Mereka Terhadap Orang Yang Bukan Syiah Dua Belas

Syiah Rafidlah mengkafirkan semua komunitas Muslim tanpa kecuali. Abdullah Syiber mengatakan dalam Kitabnya: Haqqul Yaqin Fi Ma’rifati Usuliddin, tentang kesepakatnya Syiah Imamiyah terhadap hal itu. Dia berkata: “Syaikh Mufid berkata: Syiah Imamiyah bersepakat bahwa barang siapa membantah dan mengingkari salah satu imam dan menolak apa yang Allah telah perintahkan untuk taat kepadanya, maka dia kafir, sesat dan layak kekal dalam api neraka”. Dia juga mengatakan pada kesempatan lain: “Syiah Imamiyah bersepakat bahwa semua pelaku bid’ah adalah kafir. Imam harus meminta taubat kepada mereka ketika telah berkuasa dan berdakwah kepada mereka serta menjelaskan bukti-buktinya kepada mereka. Sehingga mereka bertaubat dan menjalani kebenaran, jika tidak bertobat maka mereka akan dibunuh karena kemurtadan mereka. Jika ia mati belum bertaubat maka dia merupakan ahli neraka[14].

Bahkan Yusuf al-Bahrani menyebutkan bahwa orang yang bertentangan dengan al-haq adalah orang-orang kafir, dia mengatakan: “Orang yang bertentangan dengan al-haq adalah kafir, maka hukumnya sebagaimana hukum orang kafir.”

Demikian juga syaikh mereka Muhammad Shirazi menghukumi semua sekte Syiah selain sekte Imamiyah adalah kafir dan menyamakan mereka dengan Kristen. Ia berkata: “Semua kelompok Syiah selain Syiah Dua Belas, telah ditunjukkan banyak dalil tentang kekafiran mereka seperti banyaknya khabar-khabar terdahulu menyebutkan bahwa barangsiapa mengingkari imam maka dia seperti seseorang yang mengatakan: ‘Allah itu salah satu dari yang tiga[15]. Mereka berpendapat juga bahwa kaum muslim yang lainnya adalah kafir.[16]

Mereka meyakini prinsip taqiyyah[17]. Mereka juga berpendapat dengan aqidah raj’ah, yaitu kembali hidupnya orang-orang mati sebelum terjadinya Hari Kiamat[18].

Kesimpulannya, Hizbullah adalah gerakan Syiah yang terlahir untuk misi penyebaran revolusi Khomeini yang juga istilah yang disebut dengan wilayatul faqih dan berusaha untuk mengekspornya ke dunia Islam. Mereka telah mengambil keuntungan dari peristiwa-peristiwa di wilayah tersebut untuk kepentingan dakwah mereka. Mereka mengunakannya slogan-slogan yang memikat untuk menarik emosi umat Islam di dunia.

Apa Yang Dimaksud Dengan Wilayatul Faqih, Yang Menjadi Keyakinan Hizbullah

Wilayatul Faqih adalah doktrin dalam ajaran syiah dan politik baru syiah. Keyakinan itu didirikan oleh pemimpin Syiah Khomeini. Dalam doktrin ini, yang berhak menjadi pimpinan yang sah dan presiden negara adalah orang yang Faqih dalam agama dengan beberapa syarat tertentu. Dia posisinya menjadi wakil Imam maksum yang ditunggu kemunculanya untuk memimpin umat. Karena itu tidak dibolehkan adanya suatu perintah atau melakukan apapun kecuali dengan merujuk kepada seorang wali faqih yang dipilih oleh umat untuk menjadi pembimbing, sebagai wakil dari Imam Mahdi yang ditungu kemunculannya.

Hizbullah berkembang di bawah kepemimpinan Khomeini, dan sudah kami bahas sebelummya. Akan ada penjelasan tentang Hizbullah bahwa itu merupakan ‘mutiara’ Iran. Gerakan yang mengikuti panduan Wilayatul Faqih sebagai pencetus revolusi Iran yaitu Imam Khomeini, dan penggantinya setelah dia yaitu Ali Khamenei.

Berikut ini adalah beberapa kutipan dari Kitab: Al Hukumah Al Islamiyah, yang dianggap prinsip dan doktrin Wilayatul Faqih oleh Khomeini:

  1. “Para Fuqaha saat ini adalah sebagai hujjah bagi manusia sebagaimana Rasul Salla Allahu alaihi wa Sallam menjadi hujah bagi para sahabat. Setiap orang yang menyelisihi ketaatan kepada mereka maka Allah akan menyiksanya dan dihisab atas perbuatannya![19]
  2. “Allah telah menjadikan Rasul sebagai wali bagi semua kaum mukmin, dan setelahnya adalah imamlah yang menjadi wali. Makna dari perwalian dari keduanya adalah bahwa semua perintah syariat harus dilaksanakan setiap orang. Keadaan yang sama tentang kewalian dan penghakiman ada pada Wilayatul Faqih, dan hanya satu perbedaan[20]. Bahwa Wilayatul Faqih dengan para faqih yang lain tidak bisa saling memecat atau mengangkatnya[21], karena sesama faqih adalah sama dalam hal kelayakan.[22]
  3. “Jika seorang yang faqih alim dan adil memerintahkan untuk pembentukan pemerintahan maka wajib bagi masyarakat untuk menuruti hal itu sebagaimana yang telah dilakukan Nabi Salla Allahu alaihi wa Sallam. Maka semua orang-orang harus mendengar dan mematuhinya.[23]

Ayatollah Al Udzma Sayyed Mohammed Hussein Fadlullah, sebagai marja’ mereka mengatakan:

“Pendapat seorang faqih adalah pendapat yang memberikan legitimasi secara syari dan sebagai wakil Imam, dan Imam adalah wakil Nabi Salla Allahu alaihi wa Sallam. Karena Nabi Salla Allahu alaihi wa Sallam lebih lebih berhak untuk diutamakan daripada diri mereka sendiri, maka Imam juga demikian. Faqih yang adil juga demikian adanya.[24]

Jadi: “Dengan demikian, legitimasi Syar’i segala sesuatu bersumber dari persetujuan Faqih[25]”.

*Fajar Shadiq, Aktivis FIPS dan jurnalis untuk Media Islam An-najah.net

Red : Abdul Aziz Al Makassar

Catatan Kaki :

1. Lihat Ushulul Kafi oleh Al-Kailani 1/258.
2. Lihat Kitab Madinatul Ma’ajiz, karangan Hashim al-Bahrani, Kitab tersebut penuh dengan mitos dan kepercayaan menyimpang.
3. Lihat kitab Masyariqi Anwaril Yaqin, oleh Rajab Al-Bursi, hal. 268.
4. Telah banyak kitab-kitab Syiah yang dikarang yang menetapkan aqidah tersebut. Di antaranya adalah: Faslul Khitab Fi Istbati Tahrif Kitab Rabbil Arbab karangan Mirza Hussein Nouri Tabarsi. Ini hanya satu dari sekian banyak kitab yang isinya mencakup aqidah tentang distorsi pada Alquran, meskipun Syiah berusaha menunjukkan doktrin bahwa mereka berlepas diri dari hal itu. Akan tetapi kami tidak menemukan satupun pernyataan yang memberikan peringatan terhadap kitab dan penulis tersebut. Kami juga tidak melihat dari mereka satupun fatwa yang mengkafirkan orang yang berpendapat seperti itu. Padahal menurut syiah, Quran merupakan Tsiqal Akbar. Sebaliknya, mereka tidak punya keraguan dalam pengkafiran dan menyesatkan dari mereka yang menolak kepemimpinan Ali bin Abi Thalib dan para Imam setelahnya, padahal menurut mereka, kepemimpinan Ali adalah Tsiqal Asghar. Mau kontradiksi apalagi setelah ini!
5. Lihat Kitab Ushulul Kafi oleh Al-Kailani 1/228
6. Lihat Kitab Ushulul Kafi oleh Al-Kailani 1/285
7. Lihat Kitab Ushulul Kafi oleh Al-Kailani 2/634, Al-Majlisi mensahihkan riwayat ini dalam kitabnya Mir’atul Uqul 12/525.
8. Lihat Kitab Anwar Nu’maniyah, 2/363
9. Syaikh mereka Mohammad Ridla Mozaffar menyebutkan dalam Kitabnya ‘Aqaid Imamiyah, hal 102: “Kami percaya bahwa Imamah prinsip dari prinsip-prinsip dasar agama, tidak sempurna iman kecuali dengan meyakininya.”
10. Lihat juz 27/166. Kitab tersebut merupakan salah satu dari delapan rujukan Hadis menurut Syiah dua belas.
11. Lihat doa untuk dua berhala Qurais dalam kitab: Ihqaqul Haq, oleh Al-Mar’ashi At-Tustari 1/337.
12. Lihat Kitab; As-Shiratul Mustaqim ila Mustahiqqittaqdim 3/165 karangan Zainudin Al-Amili Al-Banati Al-Bayadli.
13. Lihat Kitab: Man Qatala Nabi Salla Allahu alaihi wa Sallam, oleh Najah Ath-Tha’i.
14. Lihat Kitab: Haqqul Yaqin Fi Ma’rifati Ushuliddin, karangan Abdullah Syibr juz 2/189.
15. Dalam Kitabnya: Asy-Syihab Ats Tsaqib Fi Bayani Ma’na An Nasib hal.85.
16. Mausu’ah Fiqh, oleh Muhammad Syirazi 4/269, Untuk informasi lebih lanjut tentang pengkafiran kelompok-kelompok selain mereka, lihat Kitab: Syiah Itsna As’ariyah Wa Takfiruhum Liumumil Muslimin, oleh Abdullah Salafi, pada cetakan kedua beliau menyebutkan puluhan riwayat tentang pengkafiran mereka terhadap semua kelompok di kalangan Muslim.
17. Lihat Kitab: Asy-Syihab Ats Tsaqib Fi Bayani Ma’na An Nasib, oleh Yusuf Al-Bahrani. Oleh karena itu Hassan Nasrallah menyebutkan dalam majalah Al-Aman, edisi 149, 31 Maret 1995: “Kami tidak menerima anggapan bahwa gerakan Wahhabi atas nama Islam dan kebangkitan Islam.” Inilah salah satu dari pidato pengkafiran oleh Syiah Dua Belas terhadap semua Muslim.
18. Lihat Kitab: Al-Adillah Jaliyah Ala Jawazi Taqiyah, Oleh Jawad Alqazwaini.
19. Kitab: Al Hukumah Al Islamiyah, Penerbit: Muassasah Tandhim Wa Nasyrut Turats Imam Khumaini, cet ke 4, hal. 109.
20. Perbedaan ini ibarat pasir yang disebarkan pada mata. Karena faktanya bahwa doktrin Wilayatul Faqih hanyalah sebagai perpanjangan tangan dari kepemimpinan para imam maksum, versi mereka. Hanya sebagai kamuflase untuk menguasai atas nama agama.
21. Jika Khomeini jujur??, mengapa dia memecat Ayatollah Shariatmadari, dia juga mencopot status keagamaan dan gelar keilmuannya! Mengapa dia juga memberhentikan wakilnya yaitu Ayatollah Ali Montazeri pada saat itu. Lalu dia menjadikannya sebagai tahanan rumah? Apakah karena mereka menolak Wilayatul Faqih dan mewanti-wanti tentang pentingnya aturan dan pembatasan?
22. Kitab: Al Hukumah Al Islamiyah, Penerbit: Muassasah Tandhim Wa Nasyrut Turats Imam Khumaini, cet ke 4, hal. 73-74.
24. Kitab: Al Hukumah Al Islamiyah, Penerbit: Muassasah Tandhim Wa Nasyrut Turats Imam Khumaini, cet ke 4, hal. 72.
25. Wilayatul Faqih karangan Muhammad Husain Fadlullah hal. 46 (nukilan dari Kitab: Hizbullah Ru’yah Mughayarah, hal 61)
26. Rujukan sebelumnya, hal. 24 (nukilan dari Kitab: Hizbullah Ru’yah Mughayarah, hal 61)

Oleh Fajar :  Fajar Shadiq, Aktivis FIPS dan Jurnalis untuk Media Islam An-Najah.net