136963131984Ilustratsi (Kompas)

Jakarta – Sebelum bertolak ke Swedia  dan Amerika Serikat  dalam rangka kunjungan kenegaraan, di Bandara Halim Perdana Kusuma Senin (27/05/2013), Presiden SBY menyempatkan diri mengadakan konferensi pers untuk menjelaskan berbagai hal terkait penghargaan World Statesman Award yang diterimanya. dari  World Statesman Award dari Appeal of Conscience Foundation (ACF) , Presiden SBY  juga  menjelaskan maksud dan tujuan dari penghargaan World Statesman yang akan diterimanya dari lembaga nirlaba ACF di Amerika Serikat pada 30 Mei 2013 medatang.

Ia menjelaskan penghargaan tersebut akan diterimanya bukan sebagai pribadi, tetapi sebagai seorang Presiden atas dasar penilaian yang menyeluruh dari pihak lembaga ini terhadap kinerja Presiden SBY, meskipun di tengah aneka kekurangan sebagaimana yang juga disoroti oleh sebagian masyarakat Indonesia yang menolak penghargaan ini.

Sby juga mengakui bahwa  dia mendengar dan mengetahui  kritik atas penghargaan  World Statesman Award  “Berkaitan dengan rencana penghargaan kepada saya sebagai Presiden, saya juga mendengar dan mengetahui ada sejumlah kalangan yang tidak setuju, protes, saya hormati dan hargai pandangan itu sebagaimana saya menghormati dan menghargai pandangan yang berbeda dari tokoh masyarakat Indonesia,” kata Presiden.(ROL)

Sebagai warganegara Indonesia, kita menyayangkan sikap sebagian pihak yang menentang pemberian penghargaan, bahkan menolaknya. Sebab, sudah semestinya kita mengedepankan nasionalisme kita di mata dunia internasional.

Dukungan terhadap  SBY  menerima World Statesman Award  datang dari Walubi   kemudian dari   Nahdlatul Ulama (NU) seperti dilansir detik.com Selasa, 28/05/2013. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) setuju dengan rencana pemberian penghargaan World Statesman Award dari Appeal of Conscience Foundation (ACF) kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). PBNU menilai, di era SBY inilah kehidupan antar umat beragama dan suku lebih terbuka dan toleran dibanding era Orde Baru.

“Bagi kami, Nahdlatul Ulama bersyukur kepada Allah SWT dan sebagai Presiden kita dapat penghargaan yang berhasil mempertahankan toleransi, persatuan dan kesatuan antara agama dan antar suku,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj dalam peryataannya kepada detikcom, Senin (27/5/2013).

Diakui Said, saat ini masih terjadi konflik sesama umat beragama maupun antar umat beragama di Indonesia. Itu hal yang wajar di era demokrasi dan globasisasi. “Tapi di era Pak SBY jauh lebih baik daripada masa lalu yang banyak diskriminatif dan otoriter berlebihan,” imbuhnya.

Said mencontohkan, selama dua periode pemerintahan SBY, kehidupan beragama antar umat beragama berjalan baik. Bahkan, PBNU hingga tingkat bawah dalam hal tertentu ikut membantu umat agama lainnya dalam mengamankan perayaan keagamaan.

“Bandingkan dengan negara lain, seperti negara-negara Islam di Timur Tengah banyak yang konflik berdarah-darah dan lebih parah, seperti di Afghanistan, Somalia, Sudan, Mesir bahkan sekarang di Suriah,” katanya.

Oleh karena itu, sudah selayaknya SBY diberikan penghargaan atas terjaminnya toleransi keberagamaan di Indonesia. Karena, tidak mudah menjaga persatuan kesatuan Indonesia yang memiliki 400 suku, 6 agama dan 16.000 pulau ini.
Said menambahkan, seseorang diberi penghargaan, bukan berarti 100 persen sempurna. Tentu ada kekurangan, dan kekurangan itu bisa diisi semua komponen bangsa lainnya.

“Boleh jadi penghargaan itu dikatakan teguran, tapi teguran yang positif nilainya. Penghargaan yang mengandung kritikan. Coba zaman Pak Harto, apakah ada yang berani ngeritik? Pasti besoknya ngga pulang ke rumah,” kata Said.