nikah mut'ah

Semakin banyak penganut Syiah di Inggris yang beralih melakukan pernikahan Mut’ah sebagai cara untuk menyeimbangkan keyakinan agama dan gaya hidup Barat modern. Pernikahan Mut’ah sendiri merupakan praktek yang ditolak oleh ulama Sunni karena dianggap prostitusi terselubung.

“Itu (nikah mut’ah) memungkinkan kami untuk bertemu tanpa melanggar batas-batas aturan syiah, ” kata Sara, seorang apoteker 30 tahun dari Birmingham, kepada BBC hari Senin, 13 Mei, demikian lansir onislam.net.

“Kami berdua ingin untuk berkencan, untuk pergi keluar makan malam atau pergi berbelanja dan mengenal satu sama lain lebih baik sebelum menikah, yang kami tidak akan mampu untuk melakukan sebaliknya,” tambah wanita Syiah keturunan Pakistan itu.

Sara adalah salah satu dari sejumlah besar penganut Syiah yang menggunakan mut’ah untuk mencocokkan dengan gaya hidup Barat mereka. Dia melakukan sebuah pernikahan sementara enam bulan sebelum melakukan pernikahan secara ‘penuh’ dengan pasangannya.

“Pada dasarnya kontrak. Anda duduk dan menetapkan persyaratan Anda, untuk seorang gadis yang belum pernah menikah, Anda perlu izin ayah,” katanya.

“Kami menetapkan durasi, persyaratan dari ayah saya, dan saya meminta apa yang Anda sebut sebagai mahar di mana orang memberikan hadiah kepada gadis itu. Ini sederhana, mudah dan tidak butuh waktu lama sekali.”

Berlangsung selama beberapa jam, hari, bulan atau tahun, pernikahan model sementara ini sangat populer di kalangan mahasiswa Syiah di Inggris.

prostitusi terselubung

Tapi ulama Sunni mengatakan praktek nikat mut’ah adalah haram, menyebutnya sebagai kedok untuk prostitusi atau pelacuran.

“Saya tidak pernah menjumpai seorang ulama Sunni, sepanjang sejarah, yang menyatakan pernikahan mut’ah adalah halal,” kata Khola Hassan, seorang Muslim dan juru bicara untuk Dewan Syariah Islam Inggris.

Dia mengatakan praktek tersebut sama saja dengan prostitusi atau pelacuran karena adanya batas waktu yang diterapkan pada pernikahan itu.

“Tidak ada perbedaan antara pernikahan mut’ah dan prostitusi,” tambahnya.

“Ada batas waktu pernikahan, dan mahar yang diberikan sebagai hadiah [dari pria kepada wanita], itu setara sebagai pembayaran kepada pelacur.”

Banyak Muslim juga melihat praktek tersebut sebagai cara untuk melegitimasi seks bebas.

Dalam Islam, pernikahan seorang pria dan seorang wanita tidak hanya masalah keuangan dan seksual dalam hidup bersama. Namun ini adalah ikatan yang sakral, hadiah dari Allah, untuk menjalani hidup bahagia menyenangkan dan melanjutkan garis keturunan. Tujuan utama dari perkawinan dalam Islam adalah realisasi dari ketenangan dan kasih sayang antara suami dan istri. Pernikahan juga bertujuan untuk melestarikan umat manusia dan melaksanakan nilai-nilai kemanusiaan. Ia memelihara tatanan sosial dan stabilitas masyarakat.

Mayoritas sahabat Nabi memegang pandangan bahwa setelah selesainya Allah memberikan risalah Islam kepada Nabi Muhammad, pernikahan mut’ah adalah benar-benar haram. [muslimdaily]