DR.M.yunus

Jakarta- Pembantaian terhadap ribuan warga muslim Arakan sejak tahun 2012 lalu sudah di luar batas prikemanusian. Darah dan kehormatan ummat Islam Arakan seolah tidak lagi  berharga. Wanita-wanita muslimah di perkosa dan anak-anak yang tak berdosa tidak luput dari pembantaian. Belum lagi, pengusiran-pengusiran dan penangkapan-penangkapan masih terus di alami ummat muslim Arakan.

Akan tetapi, kenapa semua pembantaian itu pelakunya adalah para pengikut Budha yang selama ini dianggap sebagai ajaran yang lembut dan tidak suka kekerasan? Jawabannya, karena warga Arakan mengucapkan satu kalimat, yaitu kalimat La Ilaha Illallah.

Demikian diungkap DR. Muhammad Yunus, seorang aktivis asal Arakan, dalam tabligh akbar “Mengungkap Fakta Muslim Rohingnya” di Masjid Darussalam, Perumahan Kotawisata, Jl. Boulevard Kotawisata No. 1, Cibubur, Sabtu 4/5/2013.

“Kenpa ini bisa terjadi….? ini karena satu kalimat yaitu ‘kalimat La Ilaha illallah’” tegasnya dengan menggunakan bahasa Inggris di hadapan puluhan jama’ah yang hadir. Beliau menambahkan bahwa itulah satu kalimat yang tidak bisa diterima pemerintah Myanmar di Arakan.

Doktor yang menajabat sebagai presiden Organisasi Rohingnya Solidarity Organitation (organisasi peduli Rohingnya) tersebut mengungkapkan, jika warga Arakan melepas kalimat tauhid dan pindah ke agama lain, mereka akan selamat dari pembantaian, “Jika kita melupakan la ilaha illallah, maka kita akan selamat dari kebengisan mereka” pungkasnya.

Beliau menambahkan, pemerintah Myanmar tidak ingin dan takut jika Islam kembali berjaya di Arakan sebagaimana 340 tahun lalu. Di mana pemerintahan kesultanan dengan undang-undang Islam tegak di Sana. Jika Islam kembali berdiri, itu menjadi sebuah ancaman bagi negara Myanmar.

Oleh karena itu, lanjutnya, langkah pertama kali yang dilakukan pemirintah Myanmar untuk menyingkirkan warga muslim Arakan adalah dengan mencabut kewarganegaraan mereka. Sehingga, warga muslim yang sudah tinggal di wilayah Arakan sejak beberapa abad lalu di anggap sebagai pendatang gelap. Dengan leluasa, pemerintah Myanmar mengintimidasi dan mengusir mereka dari tanah kelahirannya.

Dalam kesempatan itu beliau juga menampilkan sejumlah foto-foto jasad warga muslim Arakan korban pembantaian etnis Budha yang sangat mengerikan.

Hadir juga sebagai pembicara dalam tabligh akbar tersebut sekjen Forum Umat Islam (FUI) KH. M. Khathoth dan Sekjen Komite Advokasi untuk Muslim Rohingya-Arakan (KAMRA), ustadz Bernard Abdul Jabbar. (An-Najah)