meikilaPhoto pembakaran toko mas milik orang islam pada insiden ahir maret lalu yang menewaskan sedikitnya 40 orang

Massa Buddhis melemparkan batu bata menyerbu masjid dan membakar lebih dari 100 rumah muslim di Myanmar tengah, menewaskan satu orang dan melukai sedikitnya sembilan lainnya dalam kekerasan anti-Muslim terbaru untuk mengguncang negara Asia Tenggara.

Ketakutan menghampiri keluarga Muslim yang melarikan diri dari serangan sekitar dusun Okkan, sekitar 70 mil (110 kilometer) utara Yangon, mereka  terlihat bersembunyi di hutan-hutan di sepanjang jalan. Beberapa, diantaranya dalam keadaan shock, menangis saat rumah mereka dibakar di malam hari beberapa diantara pemuda muslim berusaha dengan ember mencoba untuk memadamkan api

Warga mengatakan sebanyak 400 umat Buddha bersenjata dengan batu bata dan tongkat mengamuk di Okkan pada Selasa sore. Mereka menargetkan toko-toko Muslim dan mengobrak-abrik dua masjid, sekitar 20 polisi anti huru hara kemudian dikerahkan untuk menjaga.

Daerah paling parah adalah tiga desa, desa terpencil yang merupakan  bagian dari kota. Setiap desa mengandung setidaknya 60 rumah Muslim, semuanya dibakar. Terlihat jilatan asap dan api dari pembakaran rumah-rumah di desa-desa tersebut.

Thet Lwin, seorang wakil komisaris polisi untuk wilayah tersebut, mengatakan salah satu dari 10 orang yang terluka akhirnya meninggal semalam.

Polisi tidak memberikan rincian tentang siapa yang berada di balik serangan itu. Khin Maung ,  seorang Muslim dari Okkan, mengatakan melihat penyerang dengan banyak wajah yang baru yang tak dikenal di desanya.

Dia mengatakan dia naik ke atap rumah untuk melarikan diri dan kemudian berlindung dengan tetangga Buddhis yang menyembunyikan dia.

“Saya tidak bisa menjelaskan bagaimana sangat sedih saya sekarang. Jantung saya berdetak begitu cepat karena takut,” katanya kepada The Associated Press.

Menghentikan meluasnya kekerasan sektarian telah terbukti menjadi tantangan besar bagi pemerintah Thein Sein sejak meletus di negara bagian Rakhine barat tahun lalu. Kelompok hak asasi manusia menuduh pemerintahannya gagal untuk menindak ekstremis Buddha. (Eramuslim)