jeff

Jakarta – Tak ada yang dapat mengetahui `kedatangan` malaikat maut.     Ya, sesungguhnya itu adalah rahasia Allah. Seperti halnya kepergian Ustadz Jefri Al Buchori pada Jumat (26/4/2013) dinihari. Beliau mengembuskan napas terakhirnya setelah motor Kawasaki ER-6n warna hijau bernomor polisi B 3590 SGQ yang dikendarainya menabrak pohon dan trotoar di Jalan Gedung Hijau VII, Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Uje begitu cepat meninggalkan murid, sahabat, anak, istri, dan orang  tuanya serta kita semua. Namun demikian, di usianya yang ke-40, namanya dikenang lataran beliau selalu menyebarkan kebaikan…Semoga Allah SWT  mengampuni segala dosanya dan menerima semua amal kebaikannya serta  ditempatkan ditempat yang layak  disisi-Nya.. Aaminn ya rabbal alaamiin…

Ustad Jeffry Al Buchori alias Uje ternyata lahir dan dibesarkan di kawasan Manggadua, Jakarta Pusat. Uje sendiri sering mengatakan daerahnya diapit oleh dua ‘mangga’ yaitu Mangga Dua dan Mangga Besar yang identik dengan tempat dunia gemerlap (dugem).

Rumah Uje sendiri berada di gang sempit yakni Gang Budi Rahayu di RW 9, Kelurahan Manggadua Selatan, Kecamatan Sawahbesar, Jakarta Pusat. Dengan demikian, kawasan yang terkenal dengan dugem dan maksiat, terdapat anak yang dilahirkan dan kelak menjadi pendakwah hebat.

Di gang itu pula, rumah masa kecil Uje yang terletak di pemukiman padat penduduk masih kokoh berdiri. Gangnya sempit, motor saja sulit lewat apabila ada serombongan orang berjalan berturutan, apalagi kalau ada motor parkir. Di bagian depan gang ada tempat berdagang yang selalu ramai.

Oleh rekan-rekan Uje semasa kecil, keluarga Uje memang terkenal paling berada di antara keluarga di gang itu. Ayah Uje, almarhum Haji Ismail Modal bekerja sebagai pelaut.

Sedangkan keluarga ibunya mayoritas Kiai, makanya warga sangat menghormati. Bahkan, ibundanya Uje, Tatu Mulyana, saat Uje kecil adalah pendakwah. Bahkan kerap berdakwah untuk rombongan Haji.

Menurut rekan Uje semasa sekolah dasar (SD), Harjansah (37), salah satu yang merasakan pernah dibantu oleh keluarga Uje. Pria bertubuh kurus itu baru saja pulang dari melayat Uje.

Baru-baru ini, Uje juga memberangkatkan Harjansah Umroh pada bulan Maret lalu. Uje yang mengurus semua biaya, Harjansah cuma perlu menyiapkan passport. Dia pergi umroh ke Tanah Suci Mekkah bersama Uje dan rombongan pada 5 Maret – 13 Maret 2013.

Semasa SD, ternyata Uje pernah meraih juara pertama lomba Qori (membaca Al-Quran) tingkat Provinsi DKI Jakarta. Ketika membaca Al-Quran, suara Uje merdu dan tak ada yang dapat menyaingi di gangnya.

PECINTA ALAM

Menurut Hendri teman Uje, selepas Sekolah Dasar (SD), Uje kemudian melanjutkan sekolah ke Pesantren di Tangerang. Namun Uje selalu menyempatkan pulang. “Dia itu terkenal slengean. Suka-suka dia saja pokoknya waktu SMP itu,” ingat Hendri Supriyatna (46). Hendri mengatakan, semasa SMP Uje bermain dengan orang-orang yang lebih tua, salah satunya adalah Hendri sendiri.

Dulu Hendri dan Uje pernah mendirikan sebuah band bernama Band Dekil. Uje jadi vokalis saat itu. “Suaranya memang bagus. Makanya kami yang saat itu sudah lulus SMA saja memilih Uje yang jadi vokalisnya,” kata Hendri.

Kemudian, selepas SMA, sekitar tahun 1990-an, Uje ikut organisasi pecinta alam di gangnya. Organisasi itu bernama Boedi Rahayu Pecinta Alam (BOEPALA). Organisasi itu sudah berdiri sejak tahun 1978.

“Saya mulai naik gunung bersama Boepala tahun 1984. Uje itu mulai ikut naik gunung tahun 1991,” seingat Hendri. Biasanya, kata Hendri, pendakian itu bisa dilakukan dua minggu sekali.

Sebelum meninggal, Uje masih sempat mengikuti kegiatan Boepala pada 6-7 April di April di Pasir rengit, Cibatok, Bogor. Saat itu, diadakan Musyawarah Besar Boepala. Sampai meninggal Uje masih menjabat sebagai penasehat Boepala.

Di masa Uje jadi pendaki, Uje kerap merubah gaya rambutnya. Terkadang pendek, panjang, gondrong, lalu potong cepak. Gaya celananya pun aneh-aneh. Paling sering Uje memakai celana model Cut Brai ketika berjalan di gang sempit rumahnya itu.

DUGEM

Setelah lulus SD Uje bersekolah di Ponpes Daar el-Qolam Gintung, Jayanti, Tangerang. Namun selama di pesantren, Uje terbilang nakal. Sampai akhirnya Uje dikeluarkan dari pesantren tersebut yang sempat dikecapnya selama setahun yang harus dijalani. Setelah itu, Uje dipindahkan ke Madrasah Aliyah (MA, setingkat SMA). Bukannya bertambah baik, kenakalan Uje justru bertambah.

Setelah lulus di tahun 1990 dan kuliah di akademi broadcasting, kenakalan Uje justru semakin bertambah. Dia bergaul dengan pemakai narkoba dan sering dugem. Bahkan Uje akhirnya tak menyelesaikan kuliah.

Uje bertemu dengan Pipik Dian Irawati, seorang model gadis sampul majalah Aneka tahun 1995 asal Semarang, Jawa Tengah. Saat itu, Uje masih berstatus sebagai pemakai. Meski demikian, hal itu tidak menghalangi Pipik yang bersedia dinikah siri pada 7 September 1999.

Dua bulan kemudian mereka menikah resmi di Semarang. Pernikahannya dengan Pipik ini dikaruniai tiga orang anak, Adiba Khanza Az-Zahra, Mohammad Abidzar Al-Ghifari, dan Ayla Azuhro.

Uje mulai ‘menemukan’ Tuhan tatkala ia diajak umroh beserta ibu dan kakaknya untuk bertobat. Dapat menginjakkan kaki di tanah sang nabi mendatangkan sensasi tersendiri di hati Uje kala itu.

Terlebih saat ia dapat bersandar di Ka’bah, seketika ia teringat pada masa lalunya, kelamnya kehidupan yang pernah ia jalani membuat air mata penyesalan mengalir deras dari matanya. Saking merasa berdosanya, ia membentur-benturkan kepalanya sambil meminta ampun kepada Allah SWT. Ia berharap segala dosa yang telah dilakukannya dapat diampuni.

Uje mulai berdakwah di majelis taklim, mushola, dan masjid. Ia berdakwah pertama kali di sebuah masjid di Mangga Dua. Pipik Dian Irawati, istrinya, menuliskan teks dakwah yang mesti disampaikan saat itu. Hasilnya, honor ceramah sebesar Rp 35.000 dia bawa pulang dan langsung diberikan kepada istrinya. (Terbit)