artija

Nenek Artija dan  Cucunya Syafi’i. serta  anaknya Ismail di pengadilan negeri Jember

Jember –  Manisa (40), perempuan yang melaporkan kasus pencurian kayu hingga menyeret ibu kandungnya, Artija (70) ke meja hijau, menolak berdamai. Warga Dusun Gempal, Kelurahan Wirolegi, Kecamatan Sumbersari, Jember itu, juga menolak tudingan dianggap sengaja melaporkan ibu kandungnya sendiri.

Manisa

“Waktu itu yang saya laporkan adalah kakak saya, Ismail dan anaknya yang bernama Syafii. Saya tidak pernah melaporkan ibu saya karena sebagai anak saya juga mencintainya,” kata Manisa dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jember, Kamis (25/4/2013) siang.

Manisa juga mengaku terkejut, ketika dalam perkembangan kasusnya, ternyata ibu kandungnya Artija juga menjadi tersangka, karena dianggap sebagai orang yang menyuruh menebang pohon. Manisa menduga, masuknya Artija dalam kasus ini, merupakan upaya yang dilakukan Ismail dan Syafii bersama penasehat hukumnya.

“Itu kan memang rekayasa mereka agar ibu saya tersangkut. Padahal saya tidak pernah melaporkan ibu saya. Kalau saya diminta mencabut laporan dan berdamai dengan ibu saya, ya saya mau. Tapi kalau diminta berdamai dengan Ismail dan anaknya, saya menolak,” tegas ibu dua anak ini.

Manisa juga menegaskan bahwa kayu yang ditebang Ismail dan Syafii merupakan pohon yang tumbuh di atas tanahnya. Tanah itu telah dibeli Manisa pada tahun 2002 lalu. Dia terpaksa membeli tanah itu karena oleh pemiliknya akan diwakafkan dan dijadikan kuburan.

“Rumah saya kan berada di tengah (tanah) yang hendak dijadikan kuburan itu, ya masak saya mau tinggal di tengah kuburan, ya akhirnya saya beli. Jadi tanah itu saya beli sendiri, bukan tanah warisan,” tukas perempuan yang telah menjanda ini.

Sementara penasehat hukum terdakwa, Abdul Haris Afianto SH menampik tudingan bahwa dirinya merekayasa masuknya nama Artija dalam kasus tersebut.

Menurut pengacara yang akrab disapa Alfin itu, masuknya nama Artija murni kewenangan polisi sebagai penyidik. Sebab Artija mengaku penebangan kayu itu atas perintahnya sehingga perempuan itu dianggap sebagai orang yang turut serta.

“Yang menetapkan tersangka kan penyidik, jadi masuknya bu Artija ini menjadi wewenang penyidik, bukan kami sebagai penasehat hukum,” tandas Alfin.

Dia justru mempertanyakan sikap Manisa yang bersikukuh meneruskan kasus tersebut, meski tahu bahwa hal itu akan menyeret ibu kandungnya sendiri. “Waktu masih diproses di Polsek Sumbersari Manisa tahu kalau ibunya akan tersangkut, tapi kenapa kok diteruskan juga?” tukas Alfin.

Setelah mendengar keterangan Manisa dan tetangganya, Fathurrozi, ketua majelis hakim Ari Satyo Rancoko SH menunda sidang hingga Kamis pekan depan.

Artija sendiri kembali histeris usai menjalani sidang, karena tidak kuat menahan beban atas kasus yang melilitnya. Bahkan perempuan itu sempat dipapah ke luar sidang karena nyaris pingsan.

Kasus ini berawal ketika nenek Artija membutuhkan kayu untuk menyangga rumahnya yang lapuk. Ia lalu meminta putranya Ismail dan cucunya Safei untuk memotong pohon di belakang rumah anaknya Manisa. Tak disangka, anak itu (Manisa)  malah menganggap Ismail mencuri dan melaporkan pada polisi. (detik)