Penjaraa

Jakarta – Sungguh menyebalkan memuakkan dan mengesalkan melihat tingkah laku dan tindak tanduk para koruptor dengan terbongkarnya  kemewahan hidup Artalyta Suryani di penjara Rutan Pondok Bambu, Gayus Tambunan yang bebas mondar mandir  keluar masuk  lewati pintu tahanan tanpa pengawalan hingga sempat nonton tenis di Bali dan   pelesiran ke luar negeri . Sekarang  Nazaruddin yang  membuat ulah. Dia meninggalkan rumah tahanan Cipinang dengan alasan berobat ke RS Abdi Waluyo selama sembilan hari. yang berujung  dicopotnya Syaiful Sahri dari Kepala Rumah Tahanan (Karutan) Cipinang Jakarta, karena  ulah Nazaruddin  ini.

artalyta

Kemewahan ruang Artalyta Suryani di penjara Rutan Pondok Bambu saat didatangi Satgas Mafia Hukum

Alasan berobat menjadi favorit para koruptor untuk meninggalkan sel mereka. Keluar masuk tahanan rasanya sudah jadi rahasia umum.

Jadi jelaslah penjara hanya untuk orang miskin… tidak berlaku untuk Gayus,  Artalita dan Nazaruddin. Masih belum hilang dari ingatan kita  saat  Gayus Tambunan  terdakwa kasus korupsi pajak ditahan di Rutan Mako Brimob Kelapa Dua Depok . Dia bisa seenak udelnya keluar masuk tahanan dari  menonton tenis di Bali hingga pergi ke luar negeri.nonton tenis

Dari penelusuran Satgas Mafia Hukum kemudian terungkap  Gayus tak cuma berlibur ke Bali. Dia juga pergi ke Singapura, Thailand dan Macau. Dia membuat paspor palsu atas nama Sony Laksono dan bebas melanglang buana.

Di Makau, Gayus mengaku sempat berjudi. Hal itu dilakukan di sela-sela pengobatan. Sementara di negara-negara lain dia menikmati liburan bersama keluarganya.

“Tujuan utama saya ke Makau adalah untuk berobat dan juga main judi tapi hanya sebentar,” kata Gayus Tambunan  saat disidang di Tangerang, 2011 lalu.

Hal yang mengusik rasa keadilan juga terjadi saat Satgas Mafia Hukum melakukan sidak di ruang tahanan kasus suap jaksa,  Artalyta Suryani. Artalyta diberi sel layaknya kamar kos mewah. Lengkap dengan AC, alat fitnes, dan kamar mandi di dalam. Bandingkan dengan satu sel sempit yang bisa dihuni 12 orang.

Jadi tidak heran orang korupsi tidak  kapok. Soalnya mereka tahu walaupun dibui bakal bisa hidup nyaman dan tenteram.

Bagi koruptor yang bergelimang harta hasil menjajarah uang rakyat  dipenjara bagaikan camping  dan pindah tidur. Namun bagi rakyat miskin yang   tidak punya uang,  betapa mengerikannya hidup di penjara. mulai dari  babak belur dihajar senior, diperas, hingga disodomi menjadi momok menakutkan buat setiap tahanan.

Penuturan seorang tahanan kasus narkoba bernama Boncel yang dikutip dari merdeka.com. 23 april 2013, cerita  penjara sungguh  menegakkan bulu roma, dia bersama  100 orang tahanan  lain  ditaruh dalam satu kamar sel.

Kekerasan dan Sodomi juga menjadi pemandangan biasa dalam sel. Pemuas seks kepala kamar biasa disapa adik. Sebagai imbalan, adik bakal diperlakukan istimewa, termasuk memperoleh menu makanan sama seperti kepala kamar.

Saat berada di ruang penampungan berisi seratus tahanan, adik dikenal Boncel berparas menawan seperti orang Arab. Kepala kamar biasa menyodomi di balik bilik papan atau lemari. “Gue lupa namanya, tapi dia ganteng, bersih, dan kaya orang Arab,” ucapnya.

Boncel pernah memergoki seorang teman satu selnya muntah-muntah setelah dipaksa mengoral alat kelamin kepala kamar. Buser juga kerap minta jatah serupa. Meski demikian, tahanan lain tetap bersikap biasa. Karena takut, mereka memilih pura-pura tertidur pulas.

Betapa kontrasnya dengan Nazaruddin Gayus Tambunan dan  Artalyta Suryani..