Jenajah korban bentrokan di-pirngadi

Jenazah Korban bentrokan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pirngadi Medan

Medan – Jumat (5/4/2013) dinihari  terjadi bentrokan antar warga Myanmar di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Medan, Jalan Selebes, Belawan, yang  menyebabkan delapan orang tewas. Polisi menyatakan kasus itu dipicu masalah pelecehan seksual.

Menurut penjelasan Kepala Bidang (Kabid) Hubungan Masyarakat (Humas) Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Utara (Sumut), Komisaris Besar Polisi Raden Heru Prakoso menyatakan, kronologi kasusnya bermula sejak sehari sebelumnya.

Pada Kamis (4/4) kemarin sekitar pukul 10.00 WIB, tiga perempuan dari etnis Rohingya yang ada di Rudenim melapor kepada Ustad Ali. Ali merupakan sosok yang dituakan oleh 153 orang pengungsi etnis Rohingya yang ada di Rudenim.

Ketiga wanita itu mengaku mengalami pelecehan seksual secara fisik dari kelompok Myanmar lainnya, kelompok Anak Buah Kapal (ABK) Myanmar yang tertangkap karena melakukan penangkapan ikan ilegal di Indonesia. Mereka sama-sama ditempatkan di Rudenim.

Atas laporan ini, Ali kemudian menyampaikan persoalan kepada pihak petugas imigrasi yang ada di Rudenim. Pertemuan pun digagas pada Kamis malam sekitar pukul 22.00 WIB. Pada saat itu kedua belah pihak sepakat damai.

“Pada saat itu clear, selesai,” tukas Heru kepada wartawan di Medan, Jumat sore.

Usai pertemuan itu, kelompok Rohingya melakukan diskusi. Mereka terkesan tidak puas dengan kesepakatan yang diambil dalam pertemuan yang difasilitasi Rudenim. Ketika sedang berdiskusi itu, ada kelompok ABK yang menyeletuk, memancing suasana.

Tak lama kemudian, si ABK yang nyeletuk tadi masuk ke dalam dan kemudian keluar lagi membawa senjata tajam. Dia lalu menusuk Ali. Pergumulan terjadi, senjata itu dapat direbut Ali dan tindakan tersebut dibalas.

“Di situlah spontan pengungsi Rohingya yang berada di lantai dua melakukan pengeroyokan terhadap delapan ABK WN Myanmar. Sehingga seluruhnya meninggal di Tempat Kejadian Perkara,” kata Heru.

Para korban menderita luka memar dan luka akibat tusukan benda tajam, yang diduga berasal dari pecahan meubeler berupa meja dan kursi yang ada di barak tersebut.

Mayat mereka kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pirngadi, Jalan HM Yamin, Medan untuk diautopsi. Sementara 18 tersangka yang sudah ditetapkan dalam kasus ini ditahan di Markas Kepolisian Resor (Polres) Pelabuhan Belawan di Jalan Pelabuhan Raya, Belawan.

Namun menurut  Pelaksana Harian (Plh) Kepala Rudenim Belawan, Yusuf Umar Dani menduga pemicu bentrokan antara warga Rohingya dan pengungsi asal Myanmar karena balas dendam atas peristiwa yang terjadi di negara mereka.

“Ya, ini balas dendam warga rohingnya atas apa yang terjadi di Negaranya,” kata dia di kantornya, Jumat (5/4/2013).

Dia menjelaskan, dua tahun lalu warga Rohingnya yang ada di pengungsian hidup sangat harmonis, damai dan saling tolong menolong. Suasana berubah ketika ada salah satu pengungsi Rohingya masuk ke Rudemin Belawan belakangan.

Orang yang dimaksud kerap mencoba menghasut rekannya untuk melakukan mogok makan.

“Saya menduga dia adalah otak pelaku dari bentrokan ini. Namun saya menyerahkan semua kepada pihak berwajib,” ucapnya.

Menurut Yusuf, delapan korban tewas bentrokan adalah warga Rohingnya beragama Budha. Mereka yang terluka akibat bentrokan sudah diberi perawatan dan kemudian dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.

Berikut identitas delapan korban tewas dalam bentrokan:

1. Aye Min (23)
2. Myo Co (20)
3. Aung Thu Win (24)
4. Aung Than (44)
5. Min Min (24)
6. Win Tun (32)
7. Nawe (23)
8. Sam Iwin (45)