brimob

Petugas Brimob bersenjata laras panjang berjaga di depan Lapas IIB Cebongan, kabupaten Sleman, Yogyakarta (23/3).  Setelah aksi penyerangan

Sleman - Sekelompok pria bertopeng  melakukan Aksi penyerangan ke Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta  Sabtu (23/3/2013) dini hari. Dalam penyerbuan itu menewaskan empat tersangka pelaku pembunuh  Sersan Satu Santoso, salah satu anggota TNI AD Kesatuan Kopassus Kandang Menjangan, Kartosuro, Solo  di Hugos Cafe Yogyakarta, 19 Maret 2013 lalu.

Empat tersangka pembunuh yang tewas dalam Aksi penyerangan itu  ditembak di depan narapidana lain, di dalam ruang tahanan, yang dihuni  35 narapidana termasuk korban. “Mereka dieksekusi di depan napi lain,” kata Kapolres Sleman, Ajun Komisaris Besar Hery Sutrisman, kepada para wartawan di lokasi penyerangan.

Mereka   yang dieksekusi penyerang adalah Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, Adrianus Candra Galaga, Yohanes Juan Mambait, dan Gameliel Yermiayanto Rohi Riwu.

Berdasarkan keterangan dari Kementerian Hukum dan HAM, penyerangan pada Sabtu (23/3/2013) itu bermula pukul 00.45 WIB. Saat itu terdapat rombongan orang yang datang ke Lapas Kelas IIB itu. Salah seorang di antaranya, yang berpakaian rapi, mengetuk pintu utama sambil menunjukkan surat dari Polda DIY.

Rombongan itu meminta agar bisa masuk ke dalam lapas. Namun, penjaga pintu utama Supratkno, menolak membukakan pintu. Karena ditolak, anggota rombongan itu marah dan menodongkan senjata laras panjang sambil menunjukkan granat.

Rombongan yang berjumlah 10 sampai 15 orang itu kemudian meminta kunci blok hunian. Petugas lapas mengatakan kunci disimpan oleh Kepala Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Margo Utomo di rumah dinasnya.

Mendapat jawaban itu, dua anggota gerombolan itu memaksa Supratikno mengantar mereka ke rumah dinas Margo Utomo. Supratikno ditodong senjata laras panjang.

Di tempat berbeda, dua anggota penyerang itu memaksa Kepala Jaga Lapas Edi Prasetyo menunjukkan ruangan kepala lapas dan tempat menyimpan CCTV di lantai 2. Edi ditodong dengan senjata laras panjang dan dipaksa tiarap sehingga tidak tahu apa yang terjadi.

Beberapa saat kemudian, KPLP Margo Utomo tiba di lapas dengan membawa kunci. Dia dipaksa membuka kotak yang berisi kunci ruang tahanan. Margo pun berusaha menghubungi kepala lapas, namun telepon selulernya dirampas anggota penyerang.

Kotak berisi kunci belum sempat dibuka. Karena tak sabar, anggota penyerang itu merusak kotak kunci itu dengan gagang senjata laras panjang. Kunci-kunci pun berserakan di lantai.

Mendengar keributan, dua penjaga lapas yang berada di blok belakang, Widayat dan Triwidodo, datang ke sumber suara. Tapi mereka dihadang oleh dua anggota peyerang dan ditodong dengan senjata laras panjang. Keduanya dipaksa tiarap di pos pintu III.

Tidak lama kemudian, kunci diberikan kepada petugas lapas Triwidodo. Dia diminta membuka pintu kamar blok hunian, yaitu Blok A kamar nomor 5 yang berisi 35 tahanan. Setelah pintu dibuka, Triwidodo disuruh tiarap dan diikuti dengan pukulan gagang senjata serta diinjak punggungnya.

Beberapa menit kemudian, terdengar beberapa kali suara letusan senjata api. Para penyerang pun lari meninggalkan ruang tahanan. Rombongan itu diperkirakan keluar pukul 01.05 WIB.

Setelah para penyerang kabur, petugas lapas yang tiarap dan ditodong senjata bangkit. Mereka memeriksa segenap lapas dan tahanan. Para petugas lapas menemukan 4 orang tahanan tewas dengan beberapa luka tembak di tubuhnya