Menjadi anak emas saat bergabung dengan Indonesia dan kini menderita kemiskinan saat merdeka. Itulah kalimat yang agaknya tepat untuk menggambarkan kondisi bekas provinsi Indonesia ke 27, Timor Timur.

Pasalnya, PBB telah mengakhiri misi penjaga perdamaiannya pada Senin setelah 13 tahun berada di Timor Timur. Negara itu diharapkan mampu menyelesaikan kemiskinan yang merajalela dengan kemampuan kakinya sendiri.

Timor Timur tahun ini menjalankan pemilu yang sebagian besar dilakukan dengan damai, untuk memilih presiden dan parlemen baru, saat negara memperingati satu dekade kemerdekaannya secara resmi dan membuka jalan bagi pasukan asing untuk dapat meninggalkan negara itu.

Namun ketika sedikit polisi PBB dan tentara yang tersisa, demokrasi yang masih belum stabil tersebut masih harus berjuang untuk menangani kekurangan gizi, pengangguran yang tinggi dan tingkat kematian ibu, merupakan yang terburuk di dunia.

Ada sedikit kekhawatiran mengenai kekerasan baru dalam waktu dekat ini, namun belum ada kesempatan kerja, kemiskinan dan populasi yang berkembang pesat masih bisa mengancam perdamaian dalam jangka panjang, ujar para analis.
????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

“Selalu ada situasi yang berpotensi untuk sesuatu yang keliru secara serius,” ujar George Quinn dari Australian National University seperti dikutip AFP.

Lebih dari 40 persen anak muda di Timor adalah pengangguran, menurut AusAID, dan meskipun negara yang mayoritas Katolik itu memiliki populasi yang kecil, tingkat kesuburannya mencapai 6,5 per perempuan, merupakan yang tertinggi keempat di dunia, menurut data PBB yang ditunjukkan.

Meskipun bantuan bernilai 1,5 miliar dolar (sekitar Rp14,4 triliun) mengalir ke negara yang berpenduduk 1,1 juta orang selama dekade terakhir dan melimpahnya minyak dan gas di lepas pantai, sekitar 41 persen dari populasi yang hidup berada di bawah garis kemiskinan dengan pendapatan 88 sen (sekitar Rp8.486) per hari.

Di dalam dan di sekitar ibukota Dili, anak tanpa alas kaki dapat dilihat sedang memakan sisa-sisa makanan di daerah kumuh, dan laju kehidupan masih lambat, dengan para penjual yang juga hanya bisa menjual sedikit di pasar.

Data Bank Dunia dari 2010 menunjukkan terdapat 45,3 persen anak balita yang kekurangan gizi, naik dari 40,6 persen pada 2002, sementara dalam indeks perlembangan manusia PBB, Timor Timur berada di urutan 147 dari 187 negara, di bawah Pakistan dan Bangladesh, dan jauh di bawah rata-rata regional. (SI)