sby

Jakarta – Biasa-biasa saja! Itulah konklusi gambaran kinerja pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono selama tahun 2012. Tidak ada prestasi yang luar biasa, kata sejumlah kalangan.

Jujur, ada prestasi-prestasi penting dalam berbagai sektor yang patut dicatat tetapi semuanya biasa-biasa saja. Pertumbuhan ekonomi tetap kuat, inflasi terkendali, nilai tukar stabil. Itu kinerja Bank Indonesia. Penciptaan lapangan kerja tidak terjadi secara signifikan, pengurangan angka kemiskinan tidak terjadi lompatan luar biasa. Malah, anggaran untuk orang miskin semakin meningkat dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Tensi dan intensi korupsi pun tidak menurun. Malah semakin nyata korupsi telah melingkari Presiden SBY sampai lingkaran terdalam. Orang-orang Partai Demokrat, terbelit korupsi yang akut, terstruktur karena melibatkan orang-orang struktural partai itu. Nazaruddin, Angelina Sondakh, Hartati Murdaya, Andi Mallarangeng, adalah orang-orang terdekat Istana dan Demokrat.

Keadilan semakin terasa jauh bagi orang-orang kecil. Koruptor tak diberantas habis karena mereka punya kekuatan uang. Pelaku kejahatan narkoba diampuni. Pencuri sandal jepit dan celana dalam dihukum secepat kilat dengan hukuman yang terasa kurang adil. Konflik antarwarga dan antara warga dan korporasi di pelosok, bukti bahwa keadilan semakin menguap dari bumi nusantara. Bahkan semakin meningkat intensitas keterlibatan negara dalam kekerasan terhadap warganya.

Kantor desa, kelurahan, polsek, kantor bupati dan gubernur dibakar massa, sampai Istana dilempari bakiak. Semua itu menjadi bukti semakin degradasinya penghormatan rakyat kepada lembaga penting negara.

Antarlembaga negara berkonflik secara terbuka, semisal KPK dan Polri. KPK dan DPR. Bahkan menjadi tontotan warga melalui siaran televisi dan media lainnya. Koordinasi antar lembaga negara semakin lemah. Bahkan kementerian seolah berjalan sendiri, walaupun rapat koordinasi berulang kali digelar. Sejumlah anggota kabinet justru keranjingan bermanuver menutupi kekurangannya. Kegaduhan yang terjadi kadang justru bersumber dan disulut dari dalam kabinet sendiri.

Langkah-langkah terobosan untuk mengatasi persoalan rakyat justru menjadi wacana berkepanjangan dan miskin eksekusi. Kepemimpinan nasional lemah karena tidak mau mengambil risiko. Padahal, setiap jabatan selalu melekat risiko yang harus dipikul.

Kamis lalu, Presiden SBY meminta para menteri kabinet agar bekerja mati-matian dan tuntas dalam sisa waktu dua tahun, tepatnya kurang dari dua tahun untuk sampai pada akhir periode pemerintahan. Jelas permintaan Presiden SBY tersebut mendapat perhatian luas di kalangan masyarakat, karena disampaikan Presiden dalam sidang paripurna kabinet. Sidang itu sendiri dihadiri Dewan Pertimbangan Presiden serta Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengedalian Pembangunan.

Sepintas, permintaan Presiden itu bernada biasa-biasa saja. Tak ubahnya nasihat seorang ayah kepada anak-anaknya. Atau permintaan seorang Chief Executive Officer sebuah perusahaan kepada para middle management-nya.

Akan tetapi secara substansial, permintaan itu sesungguhnya merupakan harapan seluruh rakyat Indonesia, yang menghendaki adanya perubahan secara signifikan dalam setiap aspek perikehidupan rakyat dalam berbangsa dan bernegara. Terutama dalam hal peningkatan kesejahteraan rakyat dalam arti luas, seperti peningkatan taraf hidup, ketertiban, keadilan, keamanan, dan sebagainya.

Rakyat tentu saja menunggu sesuatu yang signifikan, luar biasa, karena SBY menjalankan pemerintahan periode kedua. Harapan terhadap SBY digantungkan tinggi bukanlah sekadar asal-asalan. Asumsinya, SBY akan memacu kinerja kabinetnya untuk mengkahiri masa bakti sebagai Presiden, pada tahun 2014 nanti.

Enam kementerian yang baru-baru ini dinilai sangat buruk kinerjanya, dibiarkan begitu saja, kecuali teguran yang lebi terkesan keluhan. Mestinya menteri-menteri yang tidak perform diganti saja dengan figur yang kompeten, profesional, dan memiliki keahlian di bidangnya. SBY tidak perlu takut lagi ditinggalkan partai koalisinya. Ini kesempatan terakhir meningkatkan kinerja kabinet. Konsensus nasional tidak akan mendongkel SBY dari kursinya.

Dengan demikian, SBY akan tercatat sebagai presiden Indonesia yang meninggalkan Istana dengan penuh kenangan manis. Rakyat merasakan kehadiran SBY dalam kehidupan riil setiap warga negara. Jika tidak, SBY boleh jadi akan menyesal, karena telah menyia-nyiakan peluang dan mandat yang diberikan rakyat padanya.

Masih ada satu tahun lebih bagi SBY untuk menyelesaikan masa pengabdiannya. Rentang waktu itu masih cukup untuk berbuat banyak, bahkan lebih banyak untuk kebaikan bangsa, terutama peningkatan taraf hidup dan kemakmuran rakyat.

Namun kurun waktu itu bisa dikatakan sudah kasib jika memang tidak diisi dengan kerja yang akan membuahkan kinerja optimal. Pilihan ada di atas meja SBY, mau memberikan hidupnya sepenuh-penuhnya kepada rakyatnya atau cukup puas sekadar dapat menyelesaikan sisa waktu sampai pluit permainan politik nasional selesai di tahun 2014.

Tahun 2013 adalah tahun terakhir SBY untuk memimpin kabinetnya bekerja sungguh-sungguh, sebab tahun 2014 bangsa ini sudah memasuki hiruk-pikuk panggung politik nasional. Bahkan Presiden SBY sendiri pernah menyatakan, bahwa tahun 2013 sudah dianggap sebagai tahun politik.

Sudah pasti gonjang-ganjing politik tahun depan semakin ramai. Partai-partai akan berlomba melakukan konsolidasi internal, sebelum memasuki masa kompetisi 2014. Guncangan-guncangan akan terjadi. Koalisi SBY bisa berantakan manakala partai-parti pendukung SBY mulai menjauh dan melerai ikatan koalisi.

Prestasi, kalau mau dikatakan prestasi, hanya buat SBY yang dianugerahi medali atau penghargaan dari negara atau bangsa lain. Tetapi itu pun tidak luput dari sorotan publik lantaran dikesankan ada embel-embel kalkulasi cost and benefit di belakangnya.

Pemberian penghargaan bagi kepala negara sejatinya menjadi kebanggaan bagi seluruh bangsa. Jika perasaan rakyat itu tidak muncul, boleh jadi rakyat memang sudah kehilangan kepercayaan, apatis, dan apriori karena toh selama ini rakyat merasa seolah hidup tanpa pemerintah. (Inilah)