chabad

Shmuel Fortman Hapartzy, Seorang guru dan pendiri Sekolah Cain dan Abel sedang berbicara kepada siswa di Tel Aviv, Israel 4, Desember 2012.

Tidak  ber jenggot panjang dan juga tidak memakai  jubah khas ala rabbi Yahudi, namun mereka mengenakan celana jeans dan T-shirt. Mereka  juga menggunakan  gadget elektronik terkini, dan tentu saja dengan smartphone di tangan. Jangan heran karena mereka adalah anak-anak muda masa kini yang saat ini sedang dididik menjadi ‘nabi’ di masa depan.

Hanya  dengan  biaya sebesar 200 shekel, atau sekitar 53 dolar, dengan 40 kali pertemuan di kelas, ‘Sekolah Cain dan Abel untuk Nabi’ menjanjikan akan mendidik anak muda Israel menjadi utusan tuhan di zaman modern

Pendiri sekolah dan satu-satunya guru di sekolah tersebut adalah Shmuel Hapartzy, seorang pengikut Chabad, sebuah aliran Ortodoks Yahudi. Gerakan Chabad sendiri di Israel melarang anggotanya dari bersekolah.

Hapartzy tidak dapat menjamin sekolahnya akan memberikan murid-muridnya kontak langsung kepada tuhan. Tapi, silabus yang ia siapkan menyediakan alat-alat penting untuk membuat ‘nabi’ era modern keluar. Beberapa pelajaran yang diajarkan di sekolahnya adalah “Memisahkan Laut 101″ atau “Bagaimana Memprediksi Masa Depan” atau “Prinsip Memproklamirkan Sebuah rintihan”. Para siswa juga belajar tentang tafsir mimpi, klasifikasi malaikat, misteri roh kudus. Mereka diajarkan bagaimana membedakan perasaan batin seseorang dari perilaku eksternal dan penampilannya.

Di masa lalu ada nabi tapi bahkan sekarang, di zaman kita, keilahian bisa terungkap kepada semua orang. Kita hanya perlu membuka mata kita untuk hal itu,” Kata Hapartzy pada pengantar kursusnya, yang diadakan di sebuah pusat keagamaan di selatan wilayah kumuh Tel Aviv.

Namun langkah Hapartzy mendirikan sekolah tersebut menuai banyak kecaman, banyak di antara kritikus meminta sekolah itu dihentikan dan dianggap sebagai tindakan menghujat atau penipuan.

“Tidak ada cara untuk mengajarkan kenubuatan,” kata Rachel Elior, seorang profesor pemikiran Yahudi di Jerusalem’s Hebrew University. “Ini seperti membuka sekolah untuk menjadi Einstein atau Mozart.” (AP)