mahmud mekki

Wakil Presiden Mesir Mahmud Mekki pada Sabtu (22/11/2012) mengumumkan pengunduran dirinya, saat referendum kedua digelar.

Dalam satu pernyataan yang diperoleh AFP, Mekki mengataan bahwa ia mundur karena “pekerjaan politik tidak cocok dengan karakter profesional sebagai seorang hakim.”

Ia mengatakan pada awalnya telah mengajukan pengunduran dirinya 7 November, tetapi ditunda sampai sekarang karena serangkaian kejadian termasuk perang Israel-Hamas di Jalur Gaza dan keputusan Presiden Mursi bulan lalu untuk memperkuat kekuasaannya sendiri.

“Saya melihat hari ini (Sabtu) adalah saat yang tepat untuk mengumumkan pengunduran diri saya sebagai wakil presiden republik, dan saya akan tetap menyediakan tenaga saya sebagai seorang tentara,” katanya.

Mekki (58 tahun) adalah seorang hakim yang disegani sebelum Mursi mengangkatnya menjadi wakil presiden pada Agustus lalu.

Ia memimpin hakim oposisi untuk menggulingkan rezim Husni Mubarak, tetapi menghindari imbauan untuk menjadi kandidat presiden, dengan mengatakan ia ingin tetap menganut politik yang independen.

Mekki sebelumnya mengisyaratkan kepada media Mesir ia sedang mempertimbangkan pengunduran diri. Saudara kandung Mahmud Mekki, Ahmad Mekki, juga menjadi Menteri Kehakiman dalam kabinet Mursi.

Mahmud Mekki adalah salah satu dari hanya dua wakil presiden dalam lebih dari 30 tahun. Sebab selama 30 tahun berkuasa, Mubarak tidak pernah mengisi jabatan itu sampai ia mengangkat kepala intelijen Omar Sulaiman memegang jabatan itu Februari 2011 di tengah-tengah pemberontakan yang akhirnya mengggulingkannya dia.

Lahir di Iskandariyah tahun 1954, Mahmud Mekki belajar di akademi kepolisian dan adalah mantan pejabat di kementerian dalam negeri, di mana ia kemudian meninggalkan jabatan itu untuk bergabung pada pengadilan.

Referendum Kedua

Sementara tempat-tempat pemungutan suara dibuka di Mesir pada Sabtu dalam putaran terakhir dari referendum dua tahap mengenai satu konstitusi baru yang didorong Presiden Mohamed Moursi dan anggota koalisi dari kelompok Islam.

Rancangan konstitusi itu diperkirakan akan disahkan setelah meraih dukungan 57 persen dukungan dalam putaran pertama sepekan lalu.

Kelompok oposisi yang sekuler menyerukan pemilih memberikan suara “tidak”, dan negara itu telah dilanda protes sebulan terhadap Mursi dan naskah referendum itu.

Korespoden AFP di Giza, barat daya Kairo, melihat tempat-tempat pemungutan suara mulai dibuka, yang memungkinkan wanita dan pria-dalam jalur-jalur terpisah — memberikan surat-surat mereka setelah pemeriksaan identitas mereka.

Sekitar 250.000 polisi dan tentara dikerahkan untuk membantu keamanan selama referendum. (SI)