nii diskusi balitbang-

Doktor Asep Zaenal Ausop, peneliti tentang gerakan NII KW IX dan Ma’had Al-Zaytun punya penilaian sendiri terhadap pesantren yang dipimpin AS Panji Gumilang itu. Menurut Asep, mustahil Panji Gumilang akan mendirikan Negara Islam Indonesia.

“Al-Zaytun mengarah pada pluralisme, bukan negara Islam. Hampir tidak mungkin orang seperti Abu Toto mendirikan Negara Islam,” kata Asep dalam bedah bukunya, “Aliran dan Gerakan NII Kartosuwiryo, NII KW IX dan Ma’had Al-Zaytun, di Jakarta, Selasa (18/12/2012).

Menurut dosen Agama Islam dan Filsafat Sainst ITB Bandung ini dalam praktik keagamaannya, Abu Toto cenderung liberal. Ini terbukti dengan liberalisasi ajaran-ajarannya seperti kurban yang tidak harus dengan sapi atau kambing, melainkan uangnya dikumpulkan untuk membangun pesantren.

“Alasannya, kalau kurban sapi atau kambing kan selesai setelah dipotong, dibagi. Kalau uang kurbannya dikumpulkan buat bangun pesantren kan lebih bermanfaat,” jelas Asep.

Dalam soal ibadah, misalnya, Ma’had al-Zatun juga tidak begitu ketat. Menurut Asep, saat adzan berkumandang tidak semua santri az-Zaytun berbondong-bondong salat.

“Adzan yang salat ya salat, yang basket ya basket, yang volley ya volley. Kayak IAIN kan begitu. Beda dengan Gontor. Adzan semua salat,” kata Sekretaris I MUI Jawa Barat ini.

Adanya liberalisasi Islam di Ma’had Al-Zaytun, kata Asep, memang tidak mengherankan. Sebab Abu Toto dan gerakannya memang terpengaruh oleh dua paham sesat, aliran Isa Bugis dan Lembaga Kerasulan (LK).

Mengenai pluralisme di tubuh Ma’had Al-Zaytun, Asep menyebut salah satu contohnya. Pada 2004, Abu Toto pernah kedatangan tamu rombongan pendeta dari Jakarta. Namanya Pendeta Rudy Rudolf Andreas Tendean. Dalam rangkaian acara di Ma’had itu, lanjut Asep, pendeta itu kemudian diajak masuk ke Masjid Rahmatan lil Alamin, masjid milik Ma’had yang sangat megah.

“Di Masjid itu Pendeta Rudy diminta memimpin doa. Menurut Abu Toto, masjid itu dibangun oleh orang beriman, sedangkan Pendeta Rudy termasuk orang yang beriman,” ungkapnya.

Asep yang berhasil meraih gelar doktor dari UIN Syarif Hidayatullah dengan disertasi soal NII itu juga mengatakan bahwa NII KW IX pimpinan AS Panji Gumilang sudah ditaklukkan oleh militer. “NII KW IX ibarat ikan hiu sudah diakuariumkan, sudah ditaklukkan militer,” katanya.

Hubungan dekat antara Abu Toto dengan pemerintah, kata Asep, sudah terjadi jauh-jauh hari sebelum Panji Gumilang mengambil alih kepemimpinan NII KW IX pada sekitar 1996. Buktinya pada 1970, Abu Toto sudah bisa mendatangkan Aspri Presiden Soeharto, Sudjono Umar Dani, untuk ceramah di di PGA Mathlaul Anwar di Banten.

Keanehan lain dari Ma’had Al-Zaytun dalam hubungannya dengan militer, kata Asep, sebenarnya NII mengharamkan pemilu. Tetapi ternyata saat pemilihan presiden, di Ma’had Al Zaytun dimenangkan oleh Wiranto. (SI)