1401854-5

Sejumlah  anggota parlemen rezim Israel (Knesset) dipimpin Michael Ben-Ari dan Arieh Eldad  merasa dongkol dengan naiknya status Palestina   dari  sekedar entitas pemantau,  pemantau non-anggota  (non-member observer entity) menjadi negara pemantau non-anggota (non-member observer state) yang  merupakan tahapan positif untuk mewujudkan kemerdekaan Palestina.

Mereka menggelar demonstrasi di depan kantor PBB di Baitul Maqdis menentang peningkatan status Palestina di PBB menjadi negara pemantau  bukan anggota. Mereka juga melakukan aksi pembakaran bendera Palestina yang berujung bentrok dengan polisi. Demikian dilaporkan beberapa media Israel (30/11).

Perbuatan ceroboh para thing tank dan pengambil keputusan rezim Zionis itu menunjukkan kemarahan pejabat Israel atas keberhasilan yang diraih bangsa Palestina di arena internasional, dan kekalahan pahit dalam perang delapan hari di Gaza.

Menurut  Guru Besar Hukum Internasional UI, Hikmahanto Juwana pada media bahwa Palestina telah diakui oleh mayoritas negara di PBB dari sekedar entitas menjadi sebuah negara, mengingat kategori Palestina saat ini adalah non-member observer state sejajar dengan Kota Vatikan.

Dengan peningkatan status itu, jika suatu saat Israel melakukan serangan balasan secara tidak proposional ke Gaza, itu dianggap juga serangan ke negara lain. “Israel bisa dianggap telah melanggar hukum internasional,” lanjut Hikmahanto.

Sebelumnya mengingat Palestina tidak dianggap sebagai negara maka serangan Israel dikategorikan sebagai tindakan polisionil suatu pemerintahan terhadap wilayah yang diduduki.

Para petinggi sipil dan militer Israel yang memutus kebijkan penggunaan kekerasan bisa didakwa melakukan kejahatan internasional yang menggunakan kekerasan terhadap negara lain.

Arti selanjutnya, status Palestina saat ini bakal mengubah kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Negara adidaya itu tidak bisa memandang enteng suara dunia yang ingin Palestina menjadi sebuah negara.

Dan tidak kalah penting, status ini bisa menjadi modal kuat warga Palestina untuk memperjuangkan kemerdekaannya. “Solusi dua negara bagi penyelesaian konflik Palestina-Israel semakin dekat,” tandasnya.

Sidang Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat, pada Kamis (29/11/2012) waktu setempat, memberikan suara bulat untuk mengakui peningkatan status Palestina di PBB. Kini PBB mengakui status baru Palestina sebagai negara pemantau non-anggota dari status sebelumnya yang hanya sebagai entitas pemantau. Palestina mendapat dukungan mayoritas yakni 138 negara anggota majelis umum PBB. Sementara hanya 9 negara anggota yang menolak dan sisanya, 41 negara menyatakan abstain dalam voting yang digelar. (Berbagai sumber)