Perang Gaza secara resmi berakhir setelah gencatan senjata Rabu malam (21/11) waktu Mesir diumumkan. Menteri Luar Negeri Mesir Mohamed Kamel Amr pada Rabu malam menyatakan telah dicapai gencatan senjata di Jalur Gaza mulai pukul 21.00 waktu Kairo, atau Kamis dini hari pukul 02.00 WIB.

Menlu Amr mengumumkan gencatan senjata tersebut dalam konferensi pers bersama Menlu AS Hillary Clinton, setelah bertemu dengan Presiden Mesir Muhammad Mursi. Gencatan senjata dicapai setelah delapan hari pertempuran antara Israel dan pejuang Hamas yang menguasai Jalur Gaza. Agresi militer Israel ke Jalur Gaza yang berlangsung sejak Rabu pekan lalu menewaskan lebih dari 130 warga Palestina dan tiga warga Yahudi.

Kini kami coba memaparkan analisa seorang pengamat Mesir soal desakan Rezim Zionis Israel untuk menggelar gencatan senjata. Fahmi Huwaidi, pengamat Mesir di sebuah artikelnya yang dimuat di Koran al-Shorouk menulis, “Permintaan mendadak Rezim Zionis Israel kepada sekutunya untuk menggelar gencatan senjata menunjukkan realita yang tidak boleh dilupakan bahwa Israel kelabakan menyaksikan kemampuan muqawama Palestina.”

Menurut pengamat Mesir ini, tidak ada yang membayangkan bahwa Israel yang dengan gencar memulai serangan ke Jalur Gaza secara mendadak meminta petinggi Mesir, Perancis dan pemerintah Turki untuk mempersiapkan gencatan senjata antara mereka dan Palestina.

Ternyata masalah ini tidak berhenti sampai di sini saja, bahkan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama pun turun ke lapangan dan Presiden Mesir, Muhammad Mursi berusaha keras membujuk Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) untuk bersedia menerima gencatan senjata.

Bagi Hamas sendiri permintaan mendadak Israel untuk menggelar gencatan senjata juga sangat mengejutkan, karena mereka hingga kini masih belum bisa melupakan di perang 22 hari tahun 2008 lalu ketika seluruh mediator gencatan senjata kemudian berbalik memusuhi mereka. Dan Israel dengan tenang selama satu pekan penuh membombardir Jalur Gaza tanpa mendapat halangan dari mediator seperti Mesir. Negara mediator gencatan senjata antara Hamas dan Israel di tahun 2008 saat terjadi agresi Tel Aviv ke Gaza juga tidak berencanan mengakhiri kejahatan rezim ilegal ini.

Di tahun 2008 sepertinya negara mediator ini duduk tenang menantikan kehancuran muqawama Gaza dan hanya akan mengusulkan gencatan senjata kepada para pemimpin muqawama ketika kubu ini sepenuhnya lemah, kalah dan menyerah. Namun ketika harapan tersebut tidak terkabul, menurut keterangan salah satu petinggi Hamas, Omar Sulaiman, ketua dinas intelijen Mesir saat itu dan yang menangani kasus Palestina di akhir pekan pertama serangan Israel ke Gaza yang mengira serangan Israel telah melemahkan muqawama mulai menghubungi pemimpin Hamas dan mengajukan usulan memalukan tersebut (gencatan senjata).

Usulan Omar Sulaiman waktu itu adalah gencatan senjata dan pasukan Israel akan tetap ditempatkan di pos-pos Jalur Gaza. Namun Hamas menolak usulan tersebut dan perang akhirnya tetap berlanjut hingga. Kemudian Israel menyadari bahwa mungkin mereka mampu meratakan Gaza dengan tanah, namun Tel Aviv tidak akan pernah mampu menghapus tekad dan semangat perjuangan anti Israel.

Kali ini, tuntutan mendadak Israel untuk menggelar gencatan senjata yang mengejutkan ini sangat berkaitan erat dengan rontoknya pesawat tanpa awak pengintai Skyline B, F-16 Israel serta tembakan roket muqawama yang mencapai Tel Aviv dan Baitul Maqdis.

Serangan roket ke Baitul Maqdis dan Tel Aviv merupakan pukulan telak bagi Israel yang memaksa militer rezim ini mengkaji ulang kalkulasi mereka. Selain itu, ketidakmampuan sistem perisai rudal Iron Dome menghadapi roket-roket muqawama Palestina juga sangat mengejutkan Israel.

Di empat hari pertama, muqawama Palestina mampu menembakkan lebih dari 1000 roket ke Palestina pendudukan dan Iron Dome Israel ternyata gagal memusnahkan serangan roket pejuang Palestina yang tidak begitu canggih ini. Dimensi lain dari Iron Dome adalah sebelumnya Israel menyatakan sistem perisai rudal ini ditujukan untuk menghadapi rudal Republik Islam Iran.

Namun demikian kegagalan Israel bukan hanya di sistem Iron Domenya, militer rezim ini pun tak mampu menembak pelontar dan titik-titik roket pejuang Palestina. Harus diakui bahwa balasan para pejuang Palestina terhadap agresi brutal Israel ke Jalur Gaza memiliki dampak yang sangat besar dan kita tunggu saja dampak berikutnya dari perang ini. (IRIB Indonesia/MF)

Jihad Islam: Iran Gantikan Peran Bangsa Arab

Shakib al-Aein, anggota senior Gerakan Jihad Islam Palestina menilai statemen Komandan Sepah Pasdaran Republik Islam Iran (IRGC), Muhammad Ali Jaafari terkait penyerahan teknologi roket Fajr-5 kepada muqawama Palestina sebagai langkah berani. “Iran sejatinya telah menggantikan ketidakmampuan bangsa Arab,” ungkap Shakib al-Aein.

Menurut laporan al-Alam Rabu (21/11), Shakib menandaskan, “Iran sejak kemenangan Revolusi Islam mendukung penuh muqawama Palestina, karena meyakini sudah menjadi suatu kewajiban agama mereka harus mendukung jihad dan para mujahidin yang berjuang di jalan kebenaran.”

Anggota senior Jihad Islam Palestina ini menjelaskan bahwa dukungan Iran terhadap muqawama telah menjadikan kubu pejuang semakin solid dalam menghadapi rezim Zionis Israel dan peluang kemenangan semakin terbuka. “Muqawama nantinya akan memanfaatkan teknologi dan pengalaman Iran di berbagai bidang termasuk sektor militer, roket dan rudal,” tandas Shakib al-Aein.

Al-Aein mengutuk kritik negara-negara Arab terhadap Hamas karena mendapat dukungan dari Republik Islam Iran. Kepada para pemimpin Arab, al-Aein mengatakan, “Kini kalian mengkritik langkah muqawama, mana senjata dan dukungan kalian kepada pejuang Palestina? Iran dengan berani dan dengan tulus mendukung kami dan tidak takut kepada siapa pun.”

Anggota Jihad Islam Palestina ini menambahkan, “Sejatinya apa yang dilakukan Iran mendukung muqawama adalah kewajiban bangsa Arab. Namun negara Arab tidak mampu melakukan tugasnya tersebut atau mereka lebih memilih berdamai dengan Israel. Oleh karena itu, muqawama tidak memiliki pilihan lain kecuali memanfaatka kekuatan Iran dan siapa saja yang mencela muqawama sejatinya telah membongkar kedoknya yang bertekuk lutut kepada Rezim Zionis Israel.”

Di akhir statemennya mengatakan, “Apakah masuk akal jika muqawama hanya duduk berpangku tangan dan menyaksikan pembantaian terhadap warga Palestina karena takut mengusik ketenangan para pemimpin Arab terhadap sikap Republik Islam Iran?” (IRIB)