Menurut para petugas kesehatan Palestina sejak Zionis Israel mulai  menggempur Gaza lewat udara hingga Selasa ini   sudah 110 orang tewas dan 860 lainnya terluka. Sedangkan dari pihak Zionis Israel, media  israel  menyebutkan serangan roket hamas  telah menewaskan 3 orang  dan   68 lainnya terluka.

Saat ini ribuan tentara zionis Israel dengan tank dan kendaraan lapis baja pun telah dikerahkan ke perbatasan Gaza, siap bergerak maju jika Israel yakin tidak ada kesempatan bagi gencatan senjata dalam konfliknya dengan Hamas.

Duta Besar Zionis Israel untuk AS, Michael Oren, kepada wartawan dalam sebuah briefing di Kedutaan Besar Israel di Washington, DC, Senin, mengatakan, Israel ingin menghindari invasi darat, tetapi perencanaan perang sudah komplet dan tentara Israel siap menyerbu jika diperlukan.

Namun, Israel, yang terus melancarkan serangan udara terhadap gerilyawan di Gaza, pada Senin, dikatakan menyadari bahwa invasi darat akan membawa risiko yang berdampak luas.

Israel belajar dari perang tahun 2008 di Gaza ketika negara zionis itu kehilangan dukungan masyarakat internasional. Angkatan udara dan pasukan darat ketika itu mengerahkan senjata yang superior, menyerang banyak sasaran sipil dalam upaya untuk melenyapkan Hamas  dan infrastruktur mereka. Sekitar 1.300 orang tewas ketika itu.

Sebuah penyelidikan PBB kemudian menyimpulkan bahwa militer Israel melakukan kejahatan perang dalam konflik itu, yang menciptakan sebuah persoalan diplomatik besar bagi Israel.

Dengan memori akan pengalaman itu dan pemilihan umum parlemen yang tinggal dua bulan lagi, Pemerintah Israel sadar akan potensi konsekuensi internasional dan domestik dari invasi darat. Demikian kata para analis yang mengamati situasi itu dengan cermat.

“Korban warga Palestina yang lebih tinggi dapat menyebabkan erosi dukungan internasional bagi hak Israel untuk membela diri dari serangan roket Hamas,” kata Haim Malka, peneliti senior di Center for Strategic and International Studies, seperti dikutip CNN.

Gedung Putih mengumumkan Presiden Barack Obama telah memerintahkan Menlu Hillary Clinton untuk berkunjung ke Timur Tengah guna berbicara dengan Israel, pemimpin Otorita Palestina dan Mesir terkait gencatan senjata di Jalur Gaza.

Deputi penasehat keamanan nasional Gedung Putih, Ben Rhodes mengatakan kepada wartawan di Kamboja bahwa Clinton akan berangkat ke wilayah tersebut hari Selasa (20/11).

Clinton dan Obama menghadiri KTT ASEAN-AS di Phnom Penh. Demikian dilansir Reuters.

Clinton akan bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Yerusalem dan dengan para pemimpin Otoritas Palestina di Ramallah, kata Rhodes. Dia kemudian akan melakukan perjalanan ke Kairo.

Rhodes menambahkan pesan dari perjalanan Clinton adalah bahwa eskalasi konflik militer di kawasan tidak akan menguntungkan siapapun (berbagai sumber)