Penderitaan Muslim Rohingya seakan tidak pernah berhenti, Kekerasan baru terhadap muslim Rohingya pada tanggal 21 Oktober dan berlanjut selama sepekan telah meluluh lantakan  komunitas muslim Rohingya.

Seorang pemimpin partai Islam  mengatakan bahwa Lebih dari 100 Rohingya Muslim telah tewas dalam gelombang baru kekerasan sektarian di negara bagian barat  dari Rakhine Myanmar , seperti dilaporkan Press TV Jumat, 26/10/2012.
Wakil ketua Partai Demokrat Nasional untuk Pembangunan (NDPD), Hla Thein  pada hari jum’at 26/10/2012 mengatakan bahwa lebih dari 100 Muslim telah kehilangan nyawa mereka selama seminggu terakhir dalam bentrokan antara umat Buddha ekstremis dan Rohingya.

Untuk menyelamatkan diri sebagian komunitas muslim rohingya melarikan diri dengan perahu, namun Otoritas kota Maungdaw tidak mengizinkan perahu-perahu Muslim Rohingya, yang hendak menyelamatkan diri dari pembantaian di kota Kyaukpyu, untuk berlabuh di Kyauk Pandu, di Maungdaw Selatan sejak Kamis (25/10/2012), menurut seorang petugas desa setempat, seperti dilansir Kaladan Press Network(KPN).

Menurut sumber, 4 perahu berisi warga Rohingya tiba di desa Kyauk Pandu pada Kamis malam, tetapi personel Nasaka (pasukan penjaga perbatasan Burma) tidak mengizinkan mereka mendarat di wilayah tersebut dan mereka masih berada di perahu.

Lebih parah lagi, Nasaka juga tidak mengizinkan siapapun untuk memberikan mereka bantuan, seperti bantuan makanan, air, bahan bakar dan medis. Padahal di perahu-perahu tersebut banyak wanita dan anak-anak serta orang-orang yang sudah tua.

Menurut seorang tetua suku dari Maungdaw, pada hari Jum’at (26/10) pagi pejabat PBB dari kota Maungdaw bersama petugas pemerintahan distrik Maungdaw, petugas kota Maungdaw dan kepala Nasaka, dengan membawa bantuan makanan lima truk pergi ke Maungdaw Selatan untuk mendirikan kamp pengungsian bagi para warga Rohingya yang menjadi korban pembersihan etnis oleh warga Buddhis di Kyaukpyu.

Tetapi, para pejabat tersebut kembali tanpa mendirikan kamp pengungsian yang direncanakan dan mengatakan bahwa kamp pengungsian akan didirikan di Taungbru, Maungdaw Utara. Akhirnya perahu-perahu pengungsi harus berbalik arah menuju Taungbru melalui sungai Naf dengan didampingi oleh pasukan keamanan.

Namun, menurut laporan yang diterima KPN perahu-perahu pengungsi Muslim tersebut tidak sampai di Taungbro dan diduga mereka masih berada di atas perahu, yang dikhawatirkan akan menderita kelaparan.

Demikian juga dengan nasib 12 perahu pengungsi Rohingya dari Pauktaw, di mana desa mereka juga dibakar oleh orang-orang musyrik Buddhis, harus terombang-ambing di atas air karena pihak keamanan tidak mengizinkan mereka bealabuh di Thee Chaung, Akyab (Sittwe). Bahkan pasukan keamanan menembaki perahu-perahu Muslim itu saat mencoba mendekati daratan, hal ini dikatakan oleh seorang tetua desa Thee Chaung. Dan hingga saat ini belum diketahui bagaimana nasib mereka.