Mak Yati pemulung yang berkurban 2 ekor kambing

Walaupun pekerjaannya sebagai pemulung.  Walaupun  sekelilingnya  bau busuk menyengat karena tinggal di gubuk tempat pembuangan sampah, Walaupun penuh dengan keterbatasan, Namun semangat berkurban Mak Yati (55) di hari raya Idul Adha patut  diacungi jempol, perempuan tua yang sehari-harinya bekerja sebagai pemulung sampah,  mengumpulkan botol bekas itu menabung selama tiga tahun untuk berkurban dua ekor kambing.

Mak Yati   yang tinggal di Tebet, Jakarta Selatan ini bukan orang kantoran atau tinggal di rumah gedongan. Dia  hanya seorang pemulung, tiap hari mencari sampah untuk mengais rizki yang halal.

Meski Mak Yati dan suaminya Maman (35) sama-sama berprofesi sebagai pemulung dengan pendapatan mereka jika digabung cuma Rp 25 ribu per hari. Namun dengan  tekad  yang kuat untuk bisa berkurban di Hari Raya Idul Adha, akhirnya mereka bisa membeli dua ekor kambing. Masing-masing berharga Rp 1 juta dan Rp 2 juta dan niatnya untuk berkurban akhirnya bisa tercapai tahun ini.

“Saya nabung tiga tahun untuk beli dua ekor kambing. Yang besar itu saya beli Rp 2 juta, yang kecil Rp 1 juta,” kata Yati di rumahnya kepada para wartawan.

Pasangan suami istri yang berprofesi sebagai pemulung memberikan dua hewan kurban di Masjid Al Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan. Pengurus masjid yang menerima dua ekor kambing itu menangis terharu.

“Saya nangis, tidak kuat menahan haru,” ujar Juanda (50), salah satu pengurus Masjid Al Ittihad, Jumat (26/10).

Juanda menceritakan Selasa (23/10), seorang pemulung bernama Maman datang ke Masjid Al Ittihad. Masjid megah ini terletak di kawasan elite Tebet Mas, Jaksel.

“Bawanya pakai bajaj. Dia kasih dua ekor kambing untuk kurban. Dia bicara tegas, justru saya yang menerimanya tak kuat. Saya menangis,” kata Juanda.

Juanda lalu menunjuk dua kambing itu di halaman masjid. Ada yang berwarna coklat dan putih. Kambing itu justru yang paling besar di antara kambing-kambing lain.

Dia menceritakan pengurus lain pun terharu mendengar cerita ini. Begitu juga jamaah salat Idul Adha yang mendengar pengumuman lewat pengeras suara sebelum salat.

Ada beberapa wartawan  ditemani Juanda, pengurus masjid Al Ittihad ikut   mengunjungi rumah mak Yati usai Salat Idul Adha, Jumat (26/10).

Yati membukakan pintu dan mempersilakan masuk. Tak ada barang berharga di pondok 3×4 meter itu. Sebuah televisi rongsokan berada di pojok ruangan. Sudah bertahun-tahun TV itu tak menyala.

Wanita asal Pasuruan  ini bercerita soal mimpinya bisa berkurban. Dia malu setiap tahun harus mengantre meminta daging.

“Saya ingin sekali saja bisa berkurban. Malu seumur hidup hanya minta daging,” katanya.

Mak Yati mengaku sudah lama tinggal di pondok itu. Dia tak ingat sudah berapa lama membangun gubuk dari triplek di jalur hijau  itu.

“Di sini ya tidak bayar. Mau bayar ke siapa? ya numpang hidup saja,” katanya ramah.

Setiap hari Mak Yati mengelilingi kawasan Tebet hingga Bukit Duri. Dia pernah kena asam urat sampai tak bisa jalan. Tapi Mak Yati tetap bekerja, dia tak mau jadi pengemis.

“Biar ngesot saya harus kerja. Waktu itu katanya saya asam urat karena kelelahan kerja. Maklum sehari biasa jalan jauh. Ada kali sepuluh kilo,” akunya.

Juanda yang menjaga masjid Al Ittihad terharu saat Mak Yati bercerita mimpi bisa berkurban lalu berusaha keras mengumpulkan uang hingga akhirnya bisa membeli dua ekor kambing.

“Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil,” gumamnya.

Mak Yati (55) menabung susah payah selama 3 tahun untuk berkurban. Wanita yang berprofesi sebagai pemulung ini mengaku sempat ditertawakan saat bercerita seputar niatnya untuk berkurban.

“Pada ketawa, bilang sudah pemulung, sudah tua, nggembel ngapain kurban,” cerita Mak Yati , Jumat (26/10).

Tapi Mak Yati bergeming. Dia tetap meneruskan niatnya untuk membeli hewan kurban. Akhirnya setelah menabung tiga tahun, Mak Yati bisa berkurban tahun ini.

“Pada bilang apa tidak sayang, mending uangnya untuk yang lain. Tapi saya pikir sekali seumur hidup masa tidak pernah kurban. Malu cuma nunggu daging kurban,” beber Mak Yati.

Dua kambing ini disumbangkan ke Masjid Al Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan. Jemaah masjid megah itu pun meneteskan air mata haru.

Keajaiban salat tahajud

Cerita mengharukan juga datang dari Iwan Lutfi. Profesinya juga bukan orang kantoran atau bos besar di perusahaan. Iwan hanya orang biasa. Dia sehari-hari bekerja sebagai pemulung. Pemulung ini sejak lama juga ingin berkurban seperti orang berpunya. Niatnya itu tahun ini akhirnya kesampaian.

“Hari Senin malam ada kenalan yang datang ke rumah. Mereka memberi tahu kalau ada seorang dermawan yang akan membelikan kambing kurban. Saya pikir itu kambing kurban untuk disembelih di sini. Ternyata saya dibelikan kambing untuk berkurban,” kata Iwan, yang biasa disapa dengan Acoy.

Setelah mendapat hewan kurban, hati dan pikiran Acoy setengah tidak percaya. Keinginannya bertahun-tahun akhirnya terwujud.

“Saya enggak tahu tiba-tiba dibawain kambing. Kambingnya besar, di atas dua jutaan saya kira,” katanya. Acoy tak habis pikir bagaimana Allah menggerakkan hati dermawan untuk memberi rezeki kurban pada keluarganya.

“Saya ingat benar Minggu malam itu saya nonton sinetron tentang haji. Istri saya nanya, Abi kapan kita naik haji? Terus kapan kita kurban?’ Malam itu istri saya tahajud katanya pengin kurban. Saya hanya bisa minta istri berdoa. Pagi harinya istri saya bilang tangannya gatal, katanya mungkin mau dapat rezeki. Eh nggak nyangka malamnya langsung dikabulkan,” jelasnya.

Acoy tinggal di daerah kumuh dekat pasar kembang Rawa Belong, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Sehari-hari Acoy bekerja sebagai pemulung. Namun Acoy tidak hanya memulung, dengan kemampuannya, Acoy mengubah triplek bekas menjadi miniatur rumah dan kendaraan. “Kami memang kurang tapi pantang mengemis. Saya berusaha hidup lebih baik untuk anak-anak,” ujarnya. ( Berbagai sumber)