Seorang pria tua Muslim Rohingya di luar tendanya dalam pengungsian Internally Displaced Persons (IDP) camp di Dabang, yang terletak di pinggiran kota Sittwe pada tanggal 10 Oktober 2012. (file photo)

Sebagaimana  dilaporkan   Press TV Senin (22/10),  setidaknya sebelas Rohingya Muslim di Myanmar tewas setelah Buddha ekstremis membakar rumah-rumah mereka di dua desa Muslim di kota Sittwe di negara bagian Rakhine barat.

Insiden itu terjadi ketika sejumlah Buddhits didukung oleh pasukan tentara dan perbatasan membakar rumah-rumah Muslim di desa Mamra dan Mraut Minggu malam, Radio Banga melaporkan pada hari Senin.

Pasukan tentara Myanmar diduga membrikan wadah wadah besar berisi bensin  kepada para ekstrimis Buddha untuk membakar rumah-rumah penduduk desa Muslim dan memaksa mereka untuk melarikan diri dari rumah mereka.
Keheningan dari organisasi hak asasi manusia (HAM)  terhadap pelanggaran kemanusiaan terhadap Muslim Rohingya telah menyebabkan lebih neraninya  ekstremis Buddha dan pasukan pemerintah Myanmar melakukan perbuatan biadab dan keji ini.

Pemerintah mayoritas Buddha Myanmar menolak mengakui Rohingya dan telah diklasifikasikan mereka sebagai migran ilegal, meskipun Rohingya dikatakan keturunan Muslim Persia, Turki, Bengali, dan asal Pathan, yang bermigrasi ke Myanmar pada awal abad ke-8 .

Menurut laporan, ribuan Muslim Rohingya Myanmar hidup dalam kondisi mengerikan di kamp-kamp pengungsi setelah pasukan pemerintah dan ekstremis Buddha mulai membakar desa mereka pada tanggal 10 Agustus. 2012

Laporan-laporan mengatakan sedikitnya   650 orang Rohingy telah tewas di negara bagian Rakhine di barat negara itu dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini sementara 1.200 lainnya hilang dan 80.000 orang lagi telah mengungsi.