Beirut— Seorang pimpinan intelijen Libanon yang menentang Presiden Suriah Bashar Al-Assad tewas dalam ledakan bom mobil dahsyat yang mengguncang Libanon kemarin. tewas bersama tujuh orang lainnya ketika sebuah bom meledak di jantung kota Beirut pada Jumat sore.

Al-Hassan adalah pejabat intelijen yang memimpin investigasi yang menuding Suriah dan Hizbullah berada di balik pembunuhan mantan PM Rafik al-Hariri beberapa tahun lalu.

Al-Hassan, seorang Muslim Suni yang dekat dengan Hariri, juga ikut membantu membongkar komplotan bom yang mengarah pada penangkapan dan dakwaan pada seorang mantan menteri Libanon yang pro-Assad pada Agustus lalu. Aksinya ini jelas merupakan kemunduran buat Damaskud dan sekutu Libanon termasuk Hizbullah.

Pemboman ini merupakan serangan paling mematikan di Beirut sejak Hariri terbunuh pada 2005 dan memaksa Muslim Suni turun ke jalan-jalan dan membakar ban mobil dan memblokir jalan sebagai wujud kemarahan sektarian.

Pemboman itu mengingatkan pada perang sipil yang pecah di Libanon pada 1975-1990. Pemboman terjadi di sebuah jalan dekat Lapangan Sassine di Ashrafiyeh, wilayah yang dihuni penduduk Kristen.

Putra Hariri, Saad al-Hariri, menuding Arafat di balik pemboman itu. Sementara blok oposisi, March 14 menyerukan pemerintahan pimpinan PM Najib Mikati yang di dalamnya termasuk beberapa menteri dari Hizbullah untuk mundur berkaitan dengan serangan bom itu.

Menlu AS Hillary Clinton mengutuk keras aksi terorisme itu dan menganggap terbunuhnya Hassan sebagai tanda bahaya karena ada pihak yang ingin menurunkan stabilitas di Libanon.

Menlu Iran Ali Akbar Salehi juga mengutuk insiden itu dan berniat mengunjungi Beirut Sabtu ini. Iran adalah pendukung kuat untuk Hizbullah dan Presiden Assad, yang bertangan besi dalam menangani gerakan perlawanan rakyat selama 19 bulan di Suriah yang digerakkan oleh Muslim Suni.

Lebih dari 30.000 orang terbunuh dalam pergolakan yang pecah pada Maret tahun lalu. Penduduk Libanon terpecah belah antara mereka yang mendukung Assad dan mereka yang mendukung pemberontak Suriah sehingga negara itu rawan terkena pengaruh pertumpahan darah dari Suriah.

Suriah pernah memegang peran penting dalam politik Libanon. Suriah mengerahkan tentara ke Beirut dan menjadi bagian dari negara itu selama perang dan tentara mereka tetap ada di sana hingga 2005 lalu (H.T)