Kerusuhan di Desa Karanggayam Omben, Sampang,  Jatim

SAMPANG– Akar permasalahan Konflik antara penganut syiah dengan massa anti syiah, tidak sepenuhnya berlatar belakang perbedaan keyakinan. Diduga kuat konflik yang berujung pada pembakaran pesantren dan 35 rumah warga Syiah di Nangkernang, Sampang, Madura, diatarbelakangi konflik pribadi antara dua tokoh masyarakat yang tak lain adalah kakak beradik, Tajul Muluk dan adiknya Rois Al Hukama.

Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD yang berasal dari Sampang Madura, tahu sejarahnya. Menurutnya, itu semua tak lain berawal dari soal cinta.Intinya, konflik bermula dari pertengkaran antara dua saudara kandung. Mahfud mengklaim punya data-data historis di balik konflik horisontal di Sampang. Data-data itu bahkan telah ia sampaikan ke Majelis Ulama Indonesia, Menteri Dalam Negeri, DPR, dan berbagai institusi terkait.

Karena  konflik keluarga akibat persoalan cinta, Rois Al Hukama  kemudian pindah ke Sunni. “Dia pindah ke pihak lawan Tajul Muluk untuk membangun kekuatan buat mengalahkan adiknya. Jadi dia meluaskan konflik keluarga dengan memanfaatkan potensi konflik agama,” kata pentolan Syiah Indonesia Jalaludin Rahmat.

Tajul Muluk dan adiknya Rois Hukama  merupakan kakak beradik, anak pasangan Kyai Mamun bin KH Achmad Nawawi dengan Ummah. Tajul Muluk merupakan tokoh sentral dalam penyebaran ajaran Syiah. Keluarga Kyai Mamun merupakan tokoh terpandang di wilayah Karang Gayam.
Tajul Muluk merupakan anak kedua dari delapan bersaudara. Saudara tertuanya bernama Iklil al-Milal, yang rumahnya turut dibakar masa anti syiah pada insiden kerusuhan tersebut. Sedangkan, adik Tajul secara berurutan yakni Rois al-Hukama, Fatimah az-zahra, Ummu Hani, Budur Makzuzah, ummu Kultsum, Ahmad Miftahul Huda.

Beredar kabar, konflik diawali saat Rois jatuh hati pada santrinya, yang disebut-sebut bernama Halima. Namun, cinta Rois ditolak Halima. Pasalnya saat bersamaan, Tajul Muluk juga akan meminta Halima untuk dijadikan istri oleh tetangganya. Tajul Muluk akan menikahkan Halima dengan seorang pemuda yang tak lain tetangga Tajul Muluk. Rois geram, dan menuding Tajul Muluk sebagai dalang yang membuat cintanya ditolak Halima.

Kini, santriwati yang diduga kuat menjadi awal pemicu konflik antara dua tokoh masyarakat di desa Karang gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, itupun, muncul kembali.

Rabu, (29/8/2012) tiga hari pasca kerusuhan di Desa Karang Gayam, Halima muncul di tengah-tengah pengungsi syiah di GOR Sampang. Halima datang untuk mendatangi orangtuanya dan keluarga besarnya. Rumah orang tua Halima, Mohammad Badri di Desa Karang Gayam memang turut dibakar massa anti Syiah, akhir pekan lalu.

Halima datang dengan mengenakan baju kotak-kotak. Dia terus menutupi wajahnya dengan menggunakan kerudung. Bahkan dia terus menolak untuk diambil gambar oleh wartawan yang ingin mengabadikan wajahnya.

Dari pengakuan pengungsi lainnya, Zaskia, Halimah merupakan santriwati yang sempat akan dilamar oleh Rois, saudara Tajul Muluk yang juga pemimpin Sunni. “Wanita berbaju kotak-kotak itu adalah Halimah yang dahulu pernah dilamar Rois untuk dijadikan istri,” kata Zaskia.

Lantas bagaimana, akhir kisah asmara Halima?

Halima, kini memilih menikah dengan seorang pemuda lain. Dia meninggalkan Rois dan pada tahun 2009 dan memutuskan menikah dengan Abdul Azis pada tahun 2009. “Sekarang dia tinggal di Surabaya,” kata Zaskia.

Tapi siapa sangka, meskipun Halima sudah menikah dengan orang lain. Kisah Cinta Rois yang bertepuk sebelah tangan itu berujung pada konflik berdarah. Rois disebut-sebut sebagai orang yang berada dibalik penyerangan warga Syiah.

Ibunda Tajul Muluk dan Rois, Ummah pun sempat mengingatkan agar Rois dan Tajul Muluk mengakhiri konflik diantara keduanya. Namun, dendam lama itu sulit untuk dilupakan. Rois memilih untuk menyelesaikan dendam tersebut dengan cara kekerasan dan menggiringnya menjadi konflik yang didasari perbedaan keyakinan, Syiah dan Sunni.

“Saya pernah mengingatkan mereka berdua, akan tetapi Rois tidak mau dan memilih untuk melakukan carok. Sejak itulah konflik tersebut muncul hingga menjadi besar seperti sekarang ini, bahkan hingga menimbulkan korban jiwa,” kata perempuan yang biasa disapa Ummi Ummah itu.  (dari berbagai sumber)