Jakarta-Jamaah An Nadzir yang bermukim di Kampung Butta Ejaya, Kelurahan Romanglompoa, Kecamatan Bontomarannu, Kabutapen Gowa, Sulawesi Selatan, menetapkan  Iedul Fithri 1 Syawal 1433 Hijriah hari  Jum’at  (17/8/2012). Mereka memutuskan Iedul Fitri jatuh tanggal 17 Agustus berdasarkan hasil penghitungan tanda-tanda perpindahan bulan.

Namun untuk menghormati peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-67, jamaah An Nadzir menunda sehari pelaksanaan shalat Ied. Rencananya, shalat Ied digelar di areal perkebunan sawit, Kelurahan Mawang, Kec. Somba Opu, Gowa, Sulsel, Sabtu (18/8/2012).

Hal ini disampaikan oleh pimpinan Jamaah An Nadzir, Ustadz Lukman A Bakti, Kamis (16/8/2012)

“Dahulu, Nabi Muhammad juga pernah menunda pelaksanaan salat Ied karena bertepatan dengan hari raya kaum Yahudi, hal tersebut sebagai bentuk penghormatan Nabi pada kaum Yahudi waktu itu. Kami mengambil keputusan menunda pelaksanaan salat Ied untuk menghormati pelaksanaan HUT Kemerdekaan RI, untuk menghormati jasa para Syuhada yang gugur untuk memperjuangkan kemerdekaan negara ini,” tutur Lukman.

Untuk menentukan perpindahan bulan, dari bulan Ramadan ke bulan Syawal, jamaah An Nadzir menggunakan metode pengamatan tanda-tanda alam.

Caranya dengan mengukur tingkat air pasang tertinggi pada permukaan laut di tempat terpisah, yakni di Pantai Galesong, Kabupaten Takalar, pantai di Palopo, Sulsel dan pantai di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Jamaah An Nadzir di Gowa menempati lahan pertanian sekitar 8 hektar di kampung Mawang, sekitar 20 kilometer dari Kota Makassar. Mereka bercocok tanam padi dan mengembangkan perikanan air tawar.

Jamaah An Nadzir identik dengan rambut gondrong pirang dan pakaian hitam bagi kaum prianya, sedangkan kaum wanitanya dominan menggunakan jubah dan cadar.