Tiap Tahun Majelis Ulama Indonesia (MUI) melakukan pemantauan program-program TV selama Ramadan. Pada Ramadan 1433 Hijriah ini, tidak berbeda dengan Ramadan sebelumnya, MUI tetap menemukan program-program yang tidak beresensi pada dakwah melainkan hanya menjadi acara yang berisikan celaan.

PANTAUAN MAJELIS ULAMA INDONESIA
TAYANGAN TELEVISI

PARUH PERTAMA RAMADHAN 1433 H/2012

6 Agustus 2011
Tim MUI melakukan pemantauan program TV di bulan Ramadhan 1433 H/2012. Dalam proses pemantauan ini, MUI mengacu pada UU Penyiaran (32/2002) dan Standar Program Siaran (SPS) 2012 dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), serta beberapa fatwa MUI. Langkah ini merupakan wujud tanggung jawab publik MUI dalam melindungi, mendampingi, dan memperjuangkan hak publik, serta mengontrol kepatuhan TV sebagai pengguna frekwensi milik publik.

Pada paruh pertama Ramadhan ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, MUI menyaksikan antusiasme seluruh pengelola TV untuk menyambut, menyemarakkan, dan memberi warna Ramadhan pada program mereka. Hal itu untuk memenuhi kebutuhan khusus pemirsa bulan Ramadhan, baik berupa siraman spiritual, inspirasi untuk mengambil hikmah dari perjalanan hidup, hiburan yang religius, maupun informasi yang bermuatan edukasi. Atas semua itu, MUI memberikan apresiasi mendalam. Diiringi do’a, semoga para pengelola TV terus istiqomah menyajikan tayangan yang membawa kemaslahatan umum.

Program Konstruktif  dan Patut Dikembangkan

MUI menemukan sejumlah program siaran dan beberapa TV yang mengedepankan tayangan konstruktif dan kondusif bagi ibadah Ramadhan. MUI memberi apresiasi dan penghargaan berbagai pihak yang memproduksi program demikian. Berikut gambaran beberapa program dimaksud:

  1. Di MNC TV, terdapat film serial Omar: Umar bin Khattab, tiap pukul 04.00. Film dari televisi Qatar ini menampilkan sirah Nabi Muhammad Saw dilihat dari sudut pandang Umar bin Khattab. Jarang sekali televisi kita menyiarkan film serial seperti ini. Lebih menarik lagi, serial sejarah Omar dibiarkan dengan dialog asli dalam bahasa Arab, sehingga nuansa Timur Tengahnya lebih bisa dinikmati.
2.      Di Trans 7, ada Musafir (setiap hari pukul 04.30). Program dokumenter berdurasi 30 menit ini, memperkenalkan negara-negara yang menjadi pusat penyebaran Islam dunia pada awal kelahirannya. Program ini dilengkapi gambaran kehidupan zaman dulu untuk memudahkan penyampaian informasi. Bermanfaat bagi syiar Islam dengan gambaran dakwah Islam secara damai. Ada lagi Jazirah Islam (setiap hari pukul 05.00). Program berdurasi 30 menit ini menggambarkan komunitas muslim lokal di Negara minoritas muslim: Amerika Serikat, Republik Rakyat China, Thailand, Inggris, Belanda dan Perancis.
3.      Di Indosiar, ada Catatan Harian Santri,  yang hadir tiap pukul 04.30. Menarik karena menghadirkan pesantren dengan mengambil sudut pandang berbeda: catatan santri. Ada santri asal Afrika Selatan, santri di Malaysia, hingga santri di Thailand. Ada lagi Ceria Bersama Mamah, yang di kemas kreatif agar ceramah Mama Dedeh tidak monoton.  Acara ini mengetengahkan sosok pekerja keras: nenek bertangan satu penjual sapu, TKW yang sukses menjadi sutradara, wanita pengemudi bus antar kota, dan sebagainya. Xtraligi: Ngaji Seni Bareng Slank di Indosiar Rabu, 1 Agustus, jam 11.33 juga menarik.
4.      Di TVOne, program Radio Show Sahur (02.00-04.30 WIB) dipandu Ali Muchtar Ngaabalin menarik disimak. Di Metro TV ada serangkaian acara bermutu: Tafsir Al Misbah bersama M. Quraisy Shihab (03.00-04.00 WIB),  Sukses Syariah (04.00-04.30 WIB), Inspirasi Ramadhan (04.30-05.00 WIB), Ensiklopedia Islam (16.00-16.30 WIB), Oase Ramadhan (16.30-17.00 WIB), sampai Cahaya Hati (17.00-18.00 WIB). Beberapa program Jak TV juga tidak mengalami benturan berarti dengan spirit Ramadhan.
  1. Di RCTI, sinetron, Tukang Bubur Naik Haji, the Series(20.15 – 22.15), mengandung muatan dakwah, edukasi, sekaligus hiburan yang berarti. Di SCTV, program Smash NgabuburitMutiara HatiSabarrr Para Pencari Tuhan, dan Insya Allah ada Jalan,  memenuhi kualifikasi tontotan sekaligus tuntunan.
Ramadhan Jadi Festival Makian
Seperti beberapa tahun sebelumnya, MUI juga masih menemukan beberapa program yang terindikasi tidak relevan dengan spirit Ramadhan, meskipun menggunakan nama program yang bertalian dengan Ramadhan. Momentum Ramadhan telah disalahgunakan oleh program yang dipenuhi adegan dan dialog yang melecehkan sesama, merendahkan, memperolok, serta memaki-maki. Hal itu terutama banyak ditemukan dalam acara komedi.
Program yang dirancang untuk menyemarakkan syiar Ramadhan, ironisnya, menampilkan perilaku yang jauh dari tuntunan Islam yang menjadikan puasa Ramadhan sebagai wahana peningkatan taqwa. Panduan agama begitu jelas. Al Qur’an surat Al Hujurat (49) ayat 11, misalnya, menyatakan terang, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka yang diperolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) .. Janganlah kamu mencela diri kamu sendiri. Dan janganlah saling memanggil dengan gelar yang buruk. .. Dan barang siapa tidak bertaubat, mereka itulah orang-orang yang zalim.”
Legislasi dan regulasi penyiaran juga eksplisit memberi rambu-rambu. UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, pasal 36 ayat (6), melarang, “Memperolokkan, merendahkan, melecehkan dan/atau mengabaikan nilai-nilai agama, martabat manusia Indonesia, atau merusak hubungan internasional.” Pelanggaran pasal ini diancam pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 10 miliar (pasal 57).
Peraturan KPI Nomor 02/P/KPI/03/2012 tentang Standar Program Siaran (SPS), Pasal 24 ayat (1), menyatakan, “Program siaran dilarang menampilkan ungkapan kasar dan makian, baik secara verbal maupun nonverbal, yang mempunyai kecenderungan menghina atau merendahkan martabat manusia, memiliki makna jorok/ mesum/cabul/vulgar, dan/atau menghina agama dan Tuhan.” Pelanggaran atas pasal ini diancam sanksi “penghentian sementara” (pasal 80), dan bila tidak patuh, dapat diancam sanksi lebih keras: denda administratif; pembekuan kegiatan siaran untuk waktu tertentu;  tidak diberi perpanjangan izin penyelenggaraan penyiaran; atau pencabutan izin penyelenggaraan penyiaran (pasal 75 ayat 2).
Sebagai gambaran, di ANTV, komedi Pesbukers (Pesta Buka Bareng Selebriti), ditayangkan menjelang buka, pukul  17.00. Ini komedi live yang antara lain dibintangi Olga Syahputra, Raffi Ahmad, dan Jessica Iskandar. Walaupun pernah ditegur keras dan diberhentikan sementara oleh KPI, Juni lalu, gara-gara Olga menyatakan, “Jangan pakai Assalamu’alaikum, seperti pengemis saja”, tayangan pada Ramadhan ini  tidak ada perubahan berarti. Setiap episode diwarnai olok-olokan, ejekan, saling menghina, ucapan kasar dan  kalimat yang mengarahkan sosiasi seks vulgar walaupun dalam konteks maksud bergurau.
Tayangan pada 25 Juli 2012 , percakapan Kristin dan Rafi sambil bergandengan, “Gimana kalo tukeran deh Hengki sama Yuni Sara, aku sama kamu, mau cobain stang tinggi”. Tanggal 26 Juli 2012 , terjadi adegan pelukan sampai jatuh berdua antara Olga dan Jesica, diteraki penonton, “Batal, batal.”, kemudian Jesica dipeluk-peluk Rafi dari belakang (http://www.youtube.com/watch?v=l8G8IwNz3d4 &feature=youtube_gdata_player). Tanggal 3 Agustus 2012, percakapan Olga, Rafi (berperan sebagai Napi) dan Opie kumis (penjaga). Rafi bilang, “Aku nggak mau sekamar sama dia (menunjuk Olga) saya lagi tidur Pak, masa saya diisep-isep Pak, (jeda) mbun-mbun saya Pak terus digigit. Kalo sekamar lagi saya takutnya balik lagi cintanya sama dia.”(http://www.youtube.com/watch?v=Vx_QFwbwlzM& feature=youtube_gdata_player)
Di Metro TV, komedi Humor Sahur (02.30 – 03.00), yang melibatkan Chandra Malik, Prie GS, dan Sujiwo Tejo, secara keseluruhan patut memperoleh apresiasi. Dialognya mendalam, tapi segar jenaka. Refleksinya berbobot. Berbeda dengan komedi pada umumnya, acara ini bisa menjadi model komedi berkelas. Tapi sayang, selipan pelecehan tak juga terhindar. Pada tayangan Senin, 23 Juli 2012, Terdapat perkataan kasar dan merendahkan, “Namamu seperti surga, tapi kelakuan neraka.” Ada lagi perkataan, “Ini Dajjal belum waktunya keluar,” kata salah satu pemain kepada pria berambut kribo.  Pada  Selasa, 24 Juli 2012, salah satu pembawa acara mengeluarkan kata-kata merendahkan, “Silahkan orang miskin bertanya.” Terdapat kalimat tidak pantas, “Allah menciptakan kita manusia untuk main-main, ngapain kita serius-serius.” Pada Sabtu, 28 Juli 2012, terdapat kata-kata merendahkan, “Ini dulu kafir, sekarang murtad.” Yang lain bilang,  “Ini host yang kurang kecerdasaannya.” Komedi kita tampaknya sulit menghindar dari ungkapan pelecehan.
Galeri pelecehan juga terlihat dalam komedi di Trans TV, baik saat sahur, pada Waktunya Kita Sahur (WKS)  (02.30-04.30), maupun menjelang buka, Ngabuburit. WKS dibintangi Jessica Iskandar dan Raffi Ahmad, Olga Syahputra yang juga tampil di Pesbukers ANTV. Sedang Ngabuburit Dibintangi Budi Anduk, Okky Lukman, Ruben Onsu, dan Soimah. Materi dialog tidak mendidik. Lebih banyak cemooh. Materi pertanyaan kuis dua acara ini tidak mengandung edukasi, tidak ada materi Ramadhan dan tidak ada pertanyaan yang mengandung pengetahuan.
Di Trans 7, Opera Van Java (OVJ): Sahurnya Indonesia, yang dibintangi Sule, Parto, Nunung, Andre Taulaani, dan Azis Gagap, meski didedikasikan untuk pendamping sahur, namun tingkah laku pemain kerap mengabaikan etika. Pada episode 4 Agustus 2012, komedian Mpok Nori yang sudah lansia dibentak dan secara tiba-tiba dicium secara kasar oleh Sule. Tampil aktor pria menyerupai wanita diperankan Sule. Model sejenis disajikan Tessy pada Sahur Bareng Srimulat di Indosiar. Sosok waria memang sering jadi sajian menu program televisi. Ini jelas bukan edukasi yang baik.
Boikot Komedi Ramadhan Produsen Makian
Implementasi sanksi dari otoritras penyiaran, KPI, baik berupa teguran maupun penghentian sementara, terhadap komedian yang melanggar, telah beberapa kali dilakukan. Sorotan keras MUI juga setiap tahun disampaikan pada setiap penyampaian hasil pantauan tayangan Ramadhan. Tapi faktanya, program komedi dengan muatan pelecehan dan makian tidak terlihat mengalami perbaikan. Ironisnya, sebagian tokoh agama yang tampil, justru larut dalam aroma komedi pelecehan tersebut. Bisa jadi, sikap keras tampilan program demikian, karena nilai rating dan audience  share yang tinggi.
Untuk itu, MUI menyerukan kepada masyarakat untuk memboikot berbagai program atas nama Ramadhan, khususnya komedi, yang muatannya jauh dari semangat Ramadhan, dipenuhi ungkapan kasar dan makian. Program demikian, sejatinya hanya “membajak” momentum Ramadhan.

“Meskipun menggunakan nama program yang bertalian dengan Ramadan, momentum Ramadan telah disalahgunakan oleh program yang dipenuhi adegan dan dialog yang melecehkan sesama, merendahkan, memperolok, serta memaki-maki. Hal itu terutama banyak ditemukan dalam acara komedi,” kata salah satu tim pemantau tayangan televisi MUI Komisi Informasi dan Komunikasi, Imam Suhardjo saat jumpa pers di Kemenkominfo, Senin (6/8).

Hal itu bertentangan dengan peraturan Komisi Penyiaran Indonesia nomor 02/P/KPI/03/2012 tentang Standar Program Siaran (SPS), pasal 24 ayat (1), yang berisikan “Program siaran dilarang menampilkan ungkapan kasar dan makian, baik secara verbal maupun nonverbal, yang mempunyai kecenderungan menghina atau merendahkan martabat manusia, memiliki makna jorok/mesum/cabul/vulgar, dan/atau menghina agama dan tuhan.”Imam Suhardjo  juga mengatakan “MUI menyerukan kepada masyarakat untuk memboikot berbagai program atas nama Ramadan, khususnya komedi, yang muatannya jauh dari semangat Ramadan, dipenuhi ungkapan kasar dan makian. Program demikian sejatinya hanya membajak momentum Ramadan,” ujarnya.

Sebaliknya, MUI mendorong pengelola TV mengedepankan faktor kompetensi dan integritas seseorang di atas pertimbangan selebritas dalam memilih penceramah agama, sehingga kualitas dan validitas materi keagamaan serta keteladanan sang juru dakwah bisa dipertanggungjawabkan.

“Fungsi TV bukan hanya hiburan tapi juga memberi informasi dan edukasi,” pungkasnya.

Sumber