Pasangan etnis Uighur duduk-duduk di depan petugas anti huru-hara di kota Urumqi, Cina,

Kamis (16/7). keamanan masih diperketat di lingkungan etnis Uighur,

setelah kerusuhan pada tanggal 5 Juli antara etnis

Uighur dengan etnis Han. Foto: REUTERS

Xinjiang – Pihak Otoritas di wilayah barat laut Cina yang bergolak, Xinjiang, melarang pejabat Muslim dan siswa untuk berpuasa selama bulan Ramadhan. Imbauan yang diposting di situs pemerintah banyak meminta para pemimpin Partai Komunis untuk membatasi kegiatan agama Islam selama bulan suci, termasuk puasa dan mengunjungi masjid.

Xinjiang adalah rumah bagi sekitar sembilan juta orang Uighur yang berbahasa Turki dan mayoritas beragama Islam. Banyak yang menuduh pemerintah Cina melakukan penganiayaan agama dan politik atas etnis ini.

Wilayah ini beberapa kali diguncang oleh kekerasan etnis. Namun sejauh ini Cina membantah klaim bersikap represi dan bergantung pada puluhan ribu pejabat Uighur untuk membantu mengatur pemerintahan di Xinjiang.

Sebuah pernyataan dari kota Zonglang di distrik Kashgar mengatakan bahwa “komite daerah telah mengeluarkan kebijakan komprehensif untuk menjaga stabilitas sosial selama periode Ramadhan. Yaitu melarang kader Partai Komunis, pejabat sipil (termasuk mereka yang sudah pensiun) dan siswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan selama Ramadhan.”

Pernyataan itu, diposting di situs web pemerintah Xinjiang, mendesak para pemimpin partai untuk membawa “hadiah” makanan untuk para pemimpin desa setempat untuk memastikan bahwa mereka makan selama bulan Ramadhan.

Perintah serupa untuk membatasi kegiatan Ramadhan juga diposting di website lain pemerintah daerah. Biro pendidikan di Wensu mendesak sekolah-sekolah untuk memastikan bahwa siswanya tidak masuk masjid selama bulan Ramadhan.

Kelompok hak asasi di pengasingan, World Uyghur Congress, memperingatkan kebijakan akan memaksa “orang-orang Uighur untuk menolak (kekuasaan Cina) lebih jauh.”

“Dengan melarang puasa pada bulan Ramadhan, Cina menggunakan metode administratif untuk memaksa orang Uighur untuk tak beribadah selama Ramadhan,” kata juru bicara kelompok, Dilshat Rexit, dalam sebuah pernyataan.

Xinjiang mengalami kekerasan etnis terburuk beberapa kali. Yang terbesar adalah pada bulan Juli 2009, ketika warga Uighur  kelompok etnis Han yang dominan di kota Urumqi saling serang, memicu bentrokan di mana 200 orang dari kedua belah pihak meninggal, menurut pemerintah. (TOL)