Palu – Rasanya kurang pas kalau Polda menerbitkan buku Panduan Shalat karena bukan lembaga yang berwenang. Masyarakat pasti menghargai niat baik penulis  buku panduan shalat , namun  sebelum diedarkan, seharusnya buku bacaan shalat itu harus diketahui oleh instansi terkait dalam hal ini Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia setempat.

Seperti dilansir Inilah.com , Masjid Nurul Insan Markas Polda Sulawesi Tengah menerbitkan Buku Bacaan Salat Lengkap dan Surat-surat pendek pada Bulan Ramadhan 1433 Hijriah. Buku kecil ini kemudian dibagikan ke sejumlah masjid yang berada di Kota Palu dan sekitarnya. Salah satu masjid yang menerimanya adalah Masjid Raya Baiturrohim Lolu, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Namun, saat dibaca dan diteliti, sejumlah ustadz dan ulama yang beraktivitas di masjid raya itu, ternyata banyak huruf Al-Quran yang salah cetak hingga menimbulkan protes. Dari 76 halaman untuk satu versi ada beberapa salah penulisan ayat-ayat yang salah tercantum pada halaman 7, 9, 10, 17, dan halaman 19.

Pengurus Masjid Baiturrahim Lolu, Ustad Ahmar Homa mengatakan buku kecil yang beredar ini berpotensi menyesatkan. Sebab kesalahan penulisan ayat Alquran sebagai wahyu Allah SWT bisa berubah maknanya. Staf Pengajar Pondok Pesantren Madinatul Ilmi ini mencontohkan, seperti kalimat syahadat pada halaman 19, huruf “anla” ditulis secara bersambung kata nun dan lam. Seharusnya penulisan huruf ditulis terpisah.

“Banyaknya penulisan yang salah hingga buku tersebut disangsikan kebenaran dan perlu diwaspadai. Saya dipersilakan pengurus Masjid Raya Lolu untuk meluruskan beberapa tulisan Alquran dalam buku yang dibuat oleh sumber tidak jelas itu,” kata Ahmar  Minggu (22/7/12).

Apalgi kata Ustad Ahmar, salah satu sumber yang diambil dari tulisan Nashiruddin Al-Albani. Sosok ini banyak tidak diakui kebanyakan ulama. Sebab Nashiruddin tidak pernah melalui jenjang pendidikan, tetapi hanya otodidak pengetahuan yang dia miliki.

Sementara itu, Mantan Ketua Himpunan Pemuda AlKhairaat (HPA) Kota Palu Azhar Yahya, buku yang ditulis atas nama Polda Sulteng sangatlah tidak pas. Sebab bukan lembaga yang berwenang membuat buku, khususnya buku yang bernuansa Islami. Sumber penyadurannya tidak jelas. Sebaiknya ada orang yang punya kapasitas dan kapabilitas mengedit dan menyunting buku bernuansa Islami.

“Buku itu layaknya surat kaleng, tidak jelas siapa penulisnya, apa yang terbitkan dan sumber bacaan tidak diketahui. Sehingga patut dianggap ilegal dan segera ditarik dari peredaran hingga tidak menyesatkan umat Islam,” ujar Azhar.

http://nasional.inilah.com/read/detail/1885505/buku-salat-di-sulteng-bisa-menyesatkan