Jakarta – Tim rukyatul-hilal di Cakung, Jakarta melaporkan telah melihat hilal di posisi 3,5 derajat dalam waktu sekitar 4 menit. Sebagaimana diberitakan arrahmah.com, Dalam sidang itsbat yang digelar Kemenag Pusat, wakil dari Front Pembela Islam (FPI) dan ormas Islam An-Najah melaporkan Tim Cakung Jakarta Timur tersebut.

Selain di Cakung, tim rukyatul Hilal di Cilincing dengan posisi yang lebih tampak lagi, yaitu 4 derajat.

Seharusnya, dengan penemuan itu, maka umat Islam di Indonesia memulai bulan Ramadan pada Jumat (20/7) hari ini. Sayangnya, tidak mendapat tanggapan dari pemerintah. Sehingga sidang istbat tetap memutuskan  awal Ramadan pada Sabtu (21/7) besok.

Seperti diberitan tempo.com , Pemerintah memutuskan awal 1 Ramadan 1433 Hijriah jatuh tempo pada Sabtu 21 Juli 2012. Alasannya, menurut anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama Cecep Nurwendaya, pada Kamis 19 Juli posisi hilal (bulan) belum genap dua derajat. “Oleh karena itu awal Ramadan jatuh pada Sabtu,” kata Cecep dalam pemaparan awal sidang isbat di kantor Kementerian Agama pada Kamis, 19 Juli 2012.

Cecep menjelaskan, posisi hilal pada saat matahari terbenam di posisi pengamatan tertinggi di Indonesia baru mencapai 1,7 derajat. Umur hilal juga baru enam jam 28 menit, belum mencapai delapan jam. “Tidak ada referensi apapun bahwa bulan Ramadan dapat diamati dari wilayah Indonesia,” kata Cecep.

Dalam sidang berbagai organisasi Islam memberikan pendapat mengenai jatuh tempo awal Ramadan. Organisasi Persatuan Islam (Persis) misalnya, menyatakan bahwa awal Ramadan jatuh pada Sabtu 21 Juli. Demikian juga alamanak Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, 1 Ramadan jatuh tempo pada Sabtu.

Hadir juga dalam sidang isbat antara lain Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Persis, PB Nahdlatul Ulama, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Front Pembela Islam (FPI). Adapun Muhammadiyah memutuskan tidak hadir dalam sidang. Bahkan organisasi ini, menurut Din Syamsuddin, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, awal puasa Ramadan jatuh pada Jumat, 20 Juli.