Rakyat makin yakin saja bahwa parpol  digunakan oleh sebagian politikus untuk mencari duit,  terbukti dengan maraknya anggota DPR dan  pimpinan  daerah dari parpol  yang terbelit hukum  karena duit, dari sebuah pengakuan jujur  pengalaman mantan anggota DPR dan  Mantan Ketua Umum DPP PAN, Sutrisno Bachir (SB) seperti yang dilansir Pesatnews.com.  mengungkapkan, partai politik dipastikan tidak akan mengajukan figur yang memiliki integritas dan kapabilitas untuk maju sebagai calon presiden pada 2014 mendatang. “Ini juga berdasarkan pengalaman saya, kalau parpol itu tempatnya para bandit yang justru melahirkan politik dan sistem transaksional,” paparnya. di sela-sela pengukuhan pengurus Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia di gedung Serbaguna, Perumahan DPR-RI, Kalibata, Jakarta, Minggu (15/7)

Karena itu, Sutrisno Bachir berharap media massa dan semua pihak mendorong agar calon independen diberi peluang maju dalam pemilihan presiden mendatang. Bila jalur independen dibuka, lanjutnya, harapan negara akan lebih baik dipimpin oleh pemimpin yang murni untuk rakyat akan tercipta. “Ini kan di setiap pemilihan (kepala) daerah sudah bisa (calon dari) independen. Di tingkat nasional pun harus bisa dan harus ada,” beber ketua umum Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PP P-KB PII) ini

Sutrisno Bachir mengatakan, dirinya tidak akan mengemis-ngemis kepada partai politik agar mencalonkannya pada pemilihan presiden 2014 mendatang. “Apa saya mesti mengemis-ngemis untuk dicalonkan jadi presiden? Itu bukan sifat saya,” tandasnya. Meski begitu bukan berarti dia tidak ada niat untuk maju pada hajatan lima tahunan itu. “Kalau calon independen diperbolehkan, mungkin lain. Tapi itu kan harus ubah UUD,” ungkapnya. Ia pun berharap media massa dan masyarakat mendorong agar calon independen diperbolehkan meramaikan bursa capres. Dengaan begitu banyak figur yang mampu dan layak akan tampil.

Di tempat yang sama, pengamat politik Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi, menyatakan saat ini memang perlu pemimpin ideologis dan terlepas dari kepentingan partai yang jumlahnya banyak seperti saat ini. “Sekarang banyak partai tetapi tidak jelas ideologinya, banci, kalau banyak partai yang terjadi semua ingin to the center, ke tengah sehingga semua menyebut partai terbuka, nasionalis religius. Ini kan nggak jelas,” katanya.