Menteri BUMN  Dahlan Iskan

Jakarta – Sepatu keds hitam yang dikenakan Dahlan Iskan dalam pelantikan kabinet di Istana Negara, pertengahan Oktober lalu, seolah hendak menunjukkan niat Dahlan tak akan berubah meski menjabat Menteri Badan Usaha Milik Negara. Sejak menjabat Chief Executive Officer PLN, Dahlan memang tak sekali pun terlihat mengenakan sepatu mengkilap dalam acara resmi.

Benar saja. Hari-hari Dahlan berikutnya sebagai pembantu Presiden dipenuhi gebrakan–terkadang kontroversial. Yang paling sederhana dia menolak kendaraan dinas dan mewajibkan semua direktur BUMN menggelar rapat di kantor masing-masing setiap Selasa–tradisi yang sama dia terapkan ketika di PLN–untuk memantau berbagai persoalan yang dihadapi perseroan. Beberapa kali Pak Menteri turun ke lapangan untuk inspeksi mendadak.

Dahlan juga tak segan merombak susunan kepengurusan beberapa BUMN yang dianggap kurang cakap. Belakangan, sebagian di antaranya memancing persoalan di lingkaran Istana karena dilakukan tanpa mekanisme pembahasan Tim Penilai Akhir.

Puncaknya, baru saja menjabat sebulan, Dahlan menerbitkan surat keputusan pendelegasian sebagian kewenangannya sebagai menteri kepada Deputi Kementerian BUMN, komisaris, dan direktur perseroan. Aksi korporasi pelat merah seperti mengubah anggaran dasar, penerbitan obligasi, dan penyertaan atau pelepasan modal anak perusahaan yang nilainya Rp 500 miliar hingga Rp 1 triliun cukup disetujui Deputi Teknis atau Deputi Bidang Restrukturisasi dan Perencanaan Strategis BUMN.

Beleid baru Dahlan langsung memancing protes Dewan Perwakilan Rakyat. “Boleh saja (seperti) koboi, tapi jangan bentrok dengan undang-undang,” kata Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso beberapa waktu lalu.

Pernyataan politikus Partai Golkar itu dilontarkan sehari setelah 38 anggota Dewan dari tujuh fraksi–minus Partai Demokrat dan Partai Kebangkitan Bangsa–menyodorkan proposal interpelasi alias hak bertanya kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas tingkah polah Dahlan. Mereka menuding Dahlan, lewat aturan barunya, mempermudah penjualan aset BUMN yang seharusnya memerlukan persetujuan Dewan, Presiden, atau Menteri Keuangan.

Semula Dahlan berkukuh mempertahankan strateginya. Dia berdalih pendelegasian tak lebih dari niatnya memangkas birokrasi. Dengan pembagian tugas, Kementerian bisa fokus terhadap hal yang lebih strategis, seperti revitalisasi BUMN yang berkinerja buruk dan asetnya tidak produktif. “Silakan saja, itu hak mereka,” katanya beberapa waktu lalu, menanggapi ancaman interpelasi DPR.

Tugas Dahlan memang tak mudah. Hingga kini, 22 dari total 141 perusahaan pelat merah masih merugi. Kontribusinya juga masih rendah. Tahun lalu, total laba BUMN hanya Rp 125 triliun dengan dividen kepada negara sekitar Rp 28 triliun. Padahal total asetnya mencapai Rp 2.962 triliun.

Akhirnya, setelah sekretariat gabungan partai pendukung pemerintah berembuk, Dahlan harus legowo membatalkan keputusannya pada April lalu dan menggantinya dengan aturan pendelegasian wewenang yang lebih ketat–meski akhirnya kembali dicabut pada Mei lalu dengan alasan yang sama.

Aria Bima, penggagas interpelasi, mengaku heran dengan gerakan Menteri Dahlan. Alih-alih menyampaikan cetak biru BUMN masa depan kepada DPR, Dahlan malah ”genit” mengejar popularitas lewat aksi-aksi simpatik, seperti jualan karcis, naik kereta api, atau marah-marah atas kemacetan antrean di pintu tol. “Ketika dikoreksi, malah kami dituding ingin intervensi,” kata politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang juga Wakil Ketua Komisi Bidang BUMN di DPR.

Dia mengakui Dahlan lebih cekatan ketimbang menteri-menteri sebelumnya. Tapi BUMN, dia mengingatkan, bukan milik dia, melainkan milik negara, yang pengelolaannya diatur undang-undang. “Saya berharap gebrakannya selama ini benar untuk BUMN,” kata Aria. Maklum, nama Dahlan akhir-akhir ini memang santer diisukan maju dalam bursa calon presiden pada Pemilu 2014. “Tak tahu juga apa motifnya selama ini.”

Dahlan memilih realistis menanggapi kecurigaan tersebut. Hingga kini dia tak terikat dengan partai apa pun. Mencalonkan diri dari jalur independen juga tak mungkin. “Tapi saya percaya pada takdir,” katanya seusai peluncuran buku Dahlan Juga Manusia di Surabaya, Rabu pekan lalu.

Sumber