JAKARTA – Dalam penerbangan  promosi  (joyflight) pesawat Su-khoi Superjet 100 ikut juga sembilan . B pramugari nan cantik dan ramah,. Bisa jadi merupakan kebetulan bila mereka akhirnya tewas  pada Rabu, 9 Mei 2012, bersamaan dengan pesawat menabrak tebing Gunung Salak.
Dalam penerbangan itu, pihak Sky Aviation, mitra Sukhoi, menyediakan awak kabin dari Kartika Airlines. Sky Aviation merupakan perusahaan pemilik Kartika Airlines. Pramugari itu berpose ceria dalam foto-foto yang diambil kru Sukhoi, Rusia Sergey Doyla. Foto-foto keceriaan itu diunggah dalam sergeydoyla.livejournal.com, Rabu (9/5).

Dalam foto-foto yang ditampilkan Doyla, para pramugari yang berseragam biru itu tampak ceria. Mereka juga sempat bergaya bak pilot di kokpit Sukhoi Super Jet 100. Mereka; Maria Marcela, Henny Stevani, Mai Syarah, Dewi Mutiara, Susana Fanela, Nur Ilmawati, Rossy Withan, Anggie, dan Aditya.Beberapa tersenyum sambil menjulurkan lidah mereka.

Pilot Aleksandr Yablontsev dan co-pilot Alexander Kochetkov juga sempat berpose dengan dua pramugari berwajah cantik itu. Para pramugari juga tampak menyuguhkan minuman seperti wine pada penumpang pesawat. Yang unik, Sergey sempat memotret mata salah seorang pramugari secara close up. Dalam foto itu, si pramugari mengenakan kontak lens berwarna ungu.

Mau menikah
Namun siapa sangka, saat penerbangan kedua, pesawat itu menabrak Gunung Salak. Kesembilan pramugari itu tewas bersamaan. Salah satunya adalah Dewi Mutiara Intan Permata (26).

Gadis manis berparas cantik ini tak lama lagi akan segera menggelar pernikahan dengan kekasihnya. Namun petaka itu telah membuyarkan semua-nya.

Menurut rencana, pada Juni 2012 dia akan melepas masa lajangnya. Menurut Maisaroh, bibi pramugari Sukhoi itu, saat ini sedang menyiapkan masa-masa melepas masa lajangnya dengan kekasih pujaannya. “Karena waktunya sedikit lagi,” katanya.

Sebelum menjadi kru pesawat komersial Sukhoi, Dewi bekerja sebagai pramugari di maskapai penerbangan Lion Air. “Ia sudah lima tahun bekerja di sana,” katanya.

Dewi Mutiara Insan adalah anak pertama dari empat bersaudara dari Ucu Maryati dan Sidup Usman. Kedua orang tuanya adalah guru sekolah dasar dan gu-ru sekolah menengah atas di Tangerang Selatan. Keluarga hingga kini berdoa dan berharap Dewi bisa pulang dengan selamat dan kondisi yang baik.

Gadis yang ikut penerbangan pesawat Shukoi Superjet 100, diketahui baru lulus menjadi pramugari di Kartika Airlines. “Baru seminggu kerja disana, ini penerbangan pertamanya (bersama Kartika Airlines),” ujar Risma,

Dewi menjadi pramugari sekitar lima tahun. Karir-nya pertama kali dimulai pada maskapai penerbangan Lion Air. Kemudian pindah ke maskapai penerbangan Allstar. Kartika Airlines adalah jenjang karir selanjutnya untuk Intan. Sosok Intan dikenal baik dan bersahabat. “Anaknya baik, suka makan soto ce-ker,” kenang Risma sembari menitikan air mata.

Dia memang jarang pulang ke rumah, ia memilih ngekos di bilangan Cengkareng, Jakarta Barat yang dekat dengan tempat kerja. Baru dua pekan kemarin Intan pulang ke rumah. “Tidak ada firasat apa-apa soal teteh Intan,” lanjutnya. Keluarga berharap, Intan bisa selamat. Kalaupun Intan sudah tiada, jenazahnya bisa ditemukan dengan utuh.

Ilmawati
Tim Search and Rescue kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, berhasil menemukan sejumlah jenazah penumpang dalam kondisi yang mengenaskan. Tim juga menemukan kartu tanda penduduk (KTP) atas nama Nur Ilmawati yang diketahui pramugari dari Sky Aviation.

Maria Ulfa, kakak dari Ilma, menyatakan sudah mendapatkan informasi penemuan KTP itu, Jumat 11 Mei 2012 petang, melalui pesan BlackBerry Messenger dari kenalannya yang ikut proses evakuasi. Saat ditemui di Pusat Informasi Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, Ulfa berharap Ilma yang kelahiran 1987 itu ditemukan selamat. “Tapi, kalau tak selamat, yang penting jasadnya ada,” kata Ulfa. “Kami serahkan pada Tuhan, harus ikhlas, tetap bersabar,” kata Ulfa yang datang berdua kakaknya, Triyanti.

Ulfa menceritakan, adik-nya Ilma sudah mandiri sejak 2006, saat meniti karier sebagai pramugari. Sebelum di Sky Aviation, Ilma pernah di Mandala Airlines, Adam Air, dan Riau Airlines. “Baru satu setengah tahun di Sky,” ujar Ulfa.

Dia mengingat adiknya itu sebagai sosok yang mandiri, meski sebenarnya anak paling bontot dari lima bersaudara. Ilma juga jadi tulang punggung keluarga, karena belum menikah, bahkan belum punya pacar.

Ilma pun hidup sendiri. “Dia baru saja membeli apartemen, mencicil sendiri,” tutur Ulfa. Sementara itu, keluarga mereka menetap di Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Kini Ulfa dan kakaknya Triyanti hanya bisa me-nunggu kerja Tim SAR untuk menemukan adiknya yang bertubuh semampai itu.

Anggie
Salah satu pramugari Sky Aviation, Anggie yang merupakan korban pesawat Sukhoi ternyata baru beberapa bulan menjadi pramugari di perusahaan penerbangan swasta ini. Menurut Rosmawati Nasaru, istri mantan Plt Wali kota Manado Abdi Buchari, menantunya itu lebih lama berkarir di Lion Air selama dua tahun dan kemudian pindah ke Pelita Air.

“Anggi belum setahun di Sky, baru beberapa bulan saja. Kami juga tidak menyangka kalau kejadiannya seperti ini,” kata Rosmawati yang ditemui di Kantor Sky Aviation Halim Perdanakusuma, kemarin.

Rosma yang mendampingi besannya itu mengatakan, keluarga tidak punya firasat apa-apa tentang Anggi. “Ya kan anak kami itu sudah sering terbang, namanya juga pramugari. Jadi tidak ada firasat apa-apa,” ujarnya.

Dia menambahkan, saat ini anaknya (Andre) ikut tim SAR mencari keberadaan pesawat Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di pegunungan Salak pada Rabu (9/5). “Anak saya Andre (suami Anggi) sekarang ikut tim SAR. Dari Andre-lah kami mencari perkembangan tentang keberadaan menantu saya itu. Mudah-mudahan ada kabar baiklah,” tutur Rosma yang mengaku tidak henti-hentinya saling BBM-an dan telepon-teleponan dengan anaknya Andre.

Selly
Dalam dua hari berturut-turut, koordinator pramugari PT Sky Aviation, Maria Marcella, meminta kepada suaminya, Petrus Susaptadi untuk nyekar ke makam ayahnya di Solo. Siapa sangka, itu merupakan permintaan terakhir Marcella sebelum naik pesawat Sukhoi Superjet 100 (SSJ-100).

Maria Marcella yang akrab disapa Selly menyampaikan permintaan tersebut pada Senin 7 Mei 2012 dan Selasa 8 Mei 2012. Didit, panggilan Petrus Susaptadi, menjanjikan untuk berangkat ke Solo pada Juni mendatang, yaitu saat liburan sekolah agar kedua anaknya, Bella (12) dan Billy (5) dapat ikut serta.

“Itu selama dua hari berturut-turut Selly minta nyekar ke makam ayahnya di Solo,” kata Didit saat ditemui di Bandara Halim Perdanakusuma, Jumat 11 Mei 2012.

Didit menjelaskan, pada Rabu pagi, ia mengantar Selly dari rumah di kawasan Pamulang ke Bandara Halim Perdanakusuma menggunakan mobil. Mobil ia tinggal di parkiran bandara dan ia pun berangkat kerja menggunakan kereta untuk menghindari kemacetan.

Pada pukul 11.00 WIB, istrinya menelepon dan mengatakan tidak usah dijemput di Halim Perdanakusuma, karena ada rekannya yang akan mengemudikan kendaraan hingga Pamulang dan sepakat untuk menjemput Didit di stasiun Pamulang.

Hingga sore hari, dia belum tahu istrinya menjadi korban jatuhnya pesawat Sukhoi. Namun, pada pukul setengah enam sore, ia ditelepon keponakannya untuk mengabarkan bahwa Selly tertulis di daftar buku tamu dan ikut dalam demo terbang Sukhoi.

“Saya langsung cek dan datang ke kantor Sky. Saya tanya kenapa tidak ada yang mengabarkan, minimal telepon rumah. Dari Sky menjelaskan, isunya masih simpang siur dan belum jelas, maka dari pihak Sky belum menginformasikan,” paparnya.

Berdasarkan informasi yang ia himpun dari rekan kerja, Selly sebenarnya tidak terdaftar untuk ikut dalam joy flight pertama dan kedua itu. Namun, karena banyak penumpang yang batal ikut di penerbangan kedua, ia dan teman-teman pramugari Sky Aviation ikut dalam penerbangan.

“Selly juga tidak bilang mau ikut joy flight. Saya yakin kalau memang sudah direncanakan ikut pasti ada cerita. Jam 11.00 siang, dia menelepon juga tidak cerita ikut joy flight kloter pertama. Jadi, saya rasa Selly ikut joy flight kedua,” paparnya.

Selly merupakan salah satu pramugari berpengalaman. Selly memulai karier menjadi pramugari Garuda Indonesia sejak 1988 dan bekerja di Garuda Indonesia selama 12 tahun dan sempat menjadi pramugari terbaik Garuda Indonesia. Pada 2000, ia memutuskan berhenti menjadi pramugari Garuda Indonesia karena ingin mempunyai anak. “Selama menjadi pramugari Garuda, Selly dua kali keguguran, dan setelah berhenti menjadi pramugari langsung dikaruniai dua orang anak,” katanya.

Setelah itu, pada 2002, Selly diterima kerja di Transwisata Prima Aviation hingga 2007 dan pada 2007-2009, Selly bekerja sebagai pramugari haji di Garuda Indonesia dan Phucket Air. Pada 2010, Selly diterima kerja di Sky Aviation sebagai koordinator pramu-gari. “Sejak pertama Sky Aviation berdiri Selly telah bekerja di situ,” katanya.

Bella, anak pertama Selly telah mengetahui ibunya menjadi korban jatuhnya pesawat Sukhoi di gunung Salak. “Bella sudah kelihatan lebih tegar sekarang, namun suka nangis kalau melihat foto ibunya,” tuturnya.

Sementara itu, Billy hingga kini belum mengetahui kondisi ibunya. Jika ditanya tentang ibunya, Billy menjawab, “Mama lagi kerja di puncak, nanti Billy mau jemput,” katanya.

Inilah foto- foto  keceriaan para Pramugari dan Pilot    Pramugari Pesawat Sukhoi Superjet 100  sebelum take off.Mereka nampak riang dan gembira . Semua foto di ambil dari Blog sergeydoyla.livejournal.com.

Sumber