Seorang korban pemukulan saat diamankan polisi (Foto: Tri/Okezone)

Seorang korban pemukulan demo anti anarkis saat diamankan polisi

JAKARTA - Sungguh Lucu….Aksi damai bertajuk “Gerakan Indonesia Tanpa FPI” di Bundaran Hotel Indonesia, Selasa (14/2/2012) sore.  yang telah digembor gemborkan di jejaring sosial tweeter, BBM, facebook  cuma dihadiri seratusan orang, sedangkan jumlah personil polisi yang diturunkan untuk mengamankan  250 orang. Peserta demo meneriakkan anti kekerasan dan anti anarkis namun ujung ujungnya baku hantam , rusuh  anarkis memukuli penyusup…. dagelan apa lagi yang dipertontonkan pada publik ini, sepertinya lucuan OVJ si Sule dari pada ini.

Awalnya seratusan massa yang menamakan diri ‘Koalisi Rakyat Indonesia Tanpa FPI’, terlihat membawa spanduk. Aksi dimulai dengan penjagaan ketat dari aparat bersenjata lengkap. Dalam orasinya, koordinator aksi mengajak masyarakat Indonesia untuk menolak Ormas-Ormas anarkis.Massa juga mendesak pemerintah dan lembaga penegak hukum negara, untuk mengevaluasi keberadaan FPI pimpinan Habib Rizieq Shihab. Ormas FPI dinilai massa telah meresahkan masyarakat dengan aksi-aksi anarkis mereka.

Saat semua konsentrasi massa mengarah pada orator, tiba-tiba terjadi kerusuhan. Entah dari mana pemicunya. Massa mulai terlihat saling dorong, bahkan saling rebutan spanduk seraya mengeluarkan kata-kata kecaman. Belum diketahui siapa penyebab terjadinya kerusuhan. Hanya saja, salah satu demonstran aksi damai mengaku mendapat pukulan dari orang-orang berpakaian preman.

Aparat kepolisian yang sudah bersiaga sejak awal pun langsung bertindak. Tiga orang yang diduga penyusup, langsung diamankan. Sementara satu orang turut diamankan ke dalam Markas Kepolisian Subsektor Thamrin. Belum ada keterangan resmi, kemana tiga orang tersebut akan diamankan polisi. Meski sempat rusuh, peserta aksi demonstransi lainnya masih tetap melanjutkan tuntutan mereka.

Desakan pembubaran FPI bermula dari pengepungan para pimpinan FPI oleh  ratusan orang  dari adat Dayak di Kalteng. Mereka mengepung pesawat Sriwijaya Air yang membawa empat delegasi Front Pembela Islam (FPI) saat mendarat di Bandara Cilik Riwu, Palangkaraya, Kalimatan Tengah. Peristiwa tersebut terjadi, Sabtu (11/2).

Keempat delegasi FPI itu adalah Sekjen FPI, Wasekjen FPI Habib Muhsin Al Atas, Ketua Bidang Dakwah KH Alwi Masykuri dan Panglima FPI Ustad Maman. Rencananya delegasi ini akan menghadiri acara maulidan Nabi Muhammad S.A.W. dan pelantikan FPI Kalteng. Masyarakat Dayak menolak kedatangan pimpinan FPI karena menilai Ormas ini sering diidentikkan dengan aksi anarkis yang meresahkan masyarakat.