ilustrasi Thomas, pria yang mengandung anak (Foto: cheeju.wordpress.com)

ilustrasi Thomas, pria mengandung anak (foto: cheeju.wordpress.com)

Kasus medis laki-laki melahirkan janin terjadi di Kabupaten Cirebon seperti ditangani Rumah Sakit Umum Daerah Arjawinangun pada seorang pria yang namanya dirahasiakan.

Pria yang kemudian dikenal Tuan D (41), asal Desa Pegagan Lor, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, tersebut datang ke rumah sakit dengan kondisi benjolan di perut layaknya hamil pada 27 September 2011.

Berdasarkan keterangan Dokter Ahli Bedah RSUD Arjawinangun Herry Setya Yudha Utama dalam blognya, di dunia kedokteran kasus itu disebut Fetus In Fetu (FIF) yang dikenal langka.

Menurut catatan Herry, Tuan D datang dengan keluhan benjolan pada perut sebelah kiri. Benjolan itu menurut pengakuan pasien sebagaimana dikutip dalam blog Herry sudah dirasakan selama puluhan tahun.

Bahkan belakangan terasa nyeri dan semakin membesar dalam lima tahun terakhir. Benjolan yang semakin ke arah atas tersebut, diakui pasien membuatnya sesak napas.

Masih menurut pasien, benjolan itu sebelumnya tidak dirasakan ketika kecil. Selain keluhan nyeri dan benjolan membesar, pasien pun menyangkal mengalami mual, muntah, perut kembung, maupun tidak bisa Buang Air Besar.

Atas dasar itu, Tuan D kemudian menjalani operasi. Berdasarkan diagnosa awal, sejauh ini Tuan D menderita Tumor Intra Abdomen (Teratoma). Tim dokter kemudian melakukan laparotomi dan menemukan selaput berisi jaringan yang hancur karena diduga berada di dalam selama sekira 41 tahun.

Keberadaan janin pada Tuan D diperkuat dengan temuan selanjutnya dalam operasi tersebut. “Juga terdapat rambut dan serpihan kecil tulang dan terdapat jaringan utuh berbentuk seperti kaki,” terang Herry dalam salah satu bagian blognya, Kamis (24/11/2011).

Dia memaparkan, FIF merupakan masa fetiform yang masuk ke dalam tubuh janin. Terjadi karena, embrio tingkat awal. Seperti individu kembar yang berkembang tidak seimbang, satu tumbuh normal sedangkan lainnya tidak utuh.

FIF merupakan tumor monozigot parasit. Terutama ditemukan pada neonatus dan anak-anak dengan 89% kasus, yang terjadi sebelum usia 18 bulan dan hanya tiga kasus yang dilaporkan setelah usia 15 tahun.

Dalam hal ini, perut dan retroperitoneum merupakan lokasi utama terjadinya FIF. Namun, FIF bisa juga melibatkan bagian anatomi lain seperti, mediastinum, panggul, skrotum, sacrococcygeal, leher, dan tengkorak.
Pada kasus Tuan D, FIF terdapat di perut slayaknya wanita hamil.

Dalam dunia kedokteran, kasus Tuan D bukanlah yang pertama karena telah terjadi sembilan kasus lain sebelumnya seperti di China, Mesir, Meksiko, Pakistan, bahkan Indonesia.

“FIF diperkirakan terjadi sekali dalam 500.000 kelahiran. Pada banyak kasus, FIF ditemukan pada anak-anak, jarang pada orang dewasa muda,” ungkap dia lagi.

Terpisah, Wakil Direktur Pelayanan Medis Ahmad Qoyyim membenarkan adanya operasi terhadap seorang pria berusia 41 tahun asal Kecamatan Kapetakan. Namun, pihaknya enggan memberi komentar lebih jauh.

“Lebih jelasnya ke dokter yang bersangkutan, tapi operasi itu memang benar dan kami juga masih menyimpan jaringan yang diduga janin tersebut dan mengawetkannya untuk kepentingan ilmu pengetahuan,” tutur dia.

Dia menambahkan, operasi berjalan lancar dan pihaknya memperoleh laporan Tuan D tidak lagi mengalami nyeri di bagian perut. Sementara itu, pihak rumah sakit masih merahasiakan identitas asli Tuan D demi kepentingan etika.

Sumber